Tak Ada Buku Catatan, Bungkus Rokok pun Jadi

Tak Ada Buku Catatan, Bungkus Rokok pun Jadi

Salah satu hal unik yang dapat kita lihat di warung-warung kelontong kecil hingga warung pemasok skala besar adalah kebiasaan para pedagang memanfaatkan bungkus rokok untuk mencatat. Ketika berangkat kulakan, pedagang warung rumahan menggunakan bungkus rokok untuk mencatat daftar barang apa saja yang akan dibeli. Di toko kulakan langganan, barang beserta totalan harga yang harus ia bayarkan pun dicatatkan pada bungkus rokok. Bisa dibilang, bungkus rokok menggantikan peran kertas nota atau tagihan.

rokok

Bungkus rokok yang biasa dimanfaatkan untuk aktivitas catat-mencatat daftar belanja ini adalah kertas bungkus rokok yang dibongkar susunannya, kertas grenjeng atas kertas warna emas yang biasa digunakan sebagai lapisan dalam produk rokok agar kualitas rokok tidak berkurang, juga bungkus “krat” rokok yang cukup besar dan lebar.

bungkus rokok

Para pedagang ini juga punya metode “rekap” sendiri, lho. Jika kertas nota biasa disimpan dalam dompet atau dilampirkan dalam buku-buku administrasi, maka nota bungkus-bungkus rokok itu akan disatukan dengan cara dilubangi memakai “jeglokan” untuk digantung di kawat atau dicobloskan ke semacam besi tipis hingga berbentuk tumpukan rapi.

rokok

Kadang-kadang, fenomena bungkus rokok sebagai media catat serbaguna juga muncul di jalanan atau terminal, oleh para sopir bis dan truk, sales, juga para kuli bangunan. Yah, namanya juga di jalanan. Barang apa yang ada di sekitar, itulah yang paling praktis untuk dimanfaatkan. Bapak-bapak ini pun akhirnya menyambar saja bungkus rokok atau kertas grenjeng rokok untuk memindahkan data nomor telepon, alamat rumah seseorang, bahkan peruntungan nomor judi togel.

Nah, tak perlu khawatir lagi jika anda lupa membawa buku atau batere ponsel sedang lemah di jalan, anda tetap bisa mencatat dengan menyambar bungkus-bungkus rokok yang tergeletak di sekitar anda.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Advertisements

Alasan Kenapa Sebaiknya Tidak Merokok Sambil Berkendara

Alasan Kenapa Sebaiknya Tidak Merokok Sambil Berkendara

Merokok sambil berkendara acapkali masih sering ditemui di jalanan. Hal ini padahal sangat berbahaya. Di grup Info Cegatan Jogja, salah satu grup lokal yang fokus pada info lalu lintas, misalnya, sering didapati laporan anggota yang matanya terkena bara rokok yang tersapu angin dari pengendara di depannya.

bungkus rokok

Nah, jika kalian termasuk perokok yang mempunyai kebiasaan buruk tersebut, berikut adalah alasan yang membuat kalian mulai besok perlu menghentikan kebiasaan merokok sambil berkendara.

1. Mengurangi Konsentrasi Mengemudi

Merokok sambil mengemudi membuat tingkat konsentrasi menurun. Sebab, otak manusia dirancang hanya ada satu, itu artinya kerja pengendali tubuh ini hanya bisa maksimal bila melakukan satu hal. Bila lebih dari itu, maka tingkat konsentrasi menurun. Hal ini yang membuat tindakan merokok sambil berkendara sebaiknya dihentikan.

rokok

2. Tidak Tersedia Asbak

Bila kalian merokok sambil berkendara, di manakah kalian akan membuat abu dan puntung rokok? Hsssss, tidak perlu berlagak berpikir karena tidak ada asbak di jalan raya, apalagi kalian mengendari roda dua. Puntung rokok yang masih menyala itu jelas membahayakan orang lain. Tidak hanya para pengendara di belakang kita, tetapi juga para pejalan kaki.

orang merokok

3. Tidak Bisa Menikmati Rokok Secara Sempurna

Merokok sambil berkendara bukan saja mengurangi tingkat konsentrasi, tetapi juga membuat kenikmatan merokok menjadi berkurang. Kenikmatan merokok secara lebih baik bisa diperoleh apabila dilakukan tanpa tergesa-gesa atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Itulah sebabnya, sangat disarankan kalian merokok hanya selagi tidak berkendara. Lebih-lebih di tempat rindang sambil menikmati kopi dan bercengkerama bersama kawan.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

92 Persen Masyarakat Miskin Menganggap Merokok sebagai Aktivitas Rekreasi

92 Persen Masyarakat Miskin Menganggap Merokok sebagai Aktivitas Rekreasi

Menjadikan masyarakat miskin sebagai salah satu alasan menaikkan harga rokok seperti yang dideklarasikan oleh Jaringan Pengendalian Tembakau Indonesia pada 9 Oktober 2017 lalu, bukan saja merupakan tindakan yang tidak tepat, namun juga merampas hak masyarakat yang masuk dalam kategori miskin untuk menentukan pilihan atas hidupnya.

bungkus rokok

Masyarakat miskin sekalipun mempunyai perspektif atas pilihannya untuk merokok atau tidak. Data tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Komite Nasional Pengendalian Tembakau (KNPK) pada 2017, dan melibatkan sejumlah 400 sampel yang tersebar tiga di kecamatan di Gunung Kidul. Survei ini mengungkap bahwa 92% masyarakat miskin menganggap merokok sebagai aktivitas relaksasi dan rekreasi.

Mereka beranggapan rokok sebagai aktivitas rekreasi murah dan mudah dijangkau, sama seperti halnya makan permen, minum teh, atau minum kopi. Pilihan untuk menjadikan rokok sebagai sarana rekreasi adalah pilihan yang lebih masuk akal bagi warga miskin dibandingkan bertandang ke mal atau menonton film di bioskop.

orang merokok

Survei ini juga menyajikan fakta bahwa aktivitas merokok dilakukan paling banyak di luar jam kerja, ketika istirahat (26%), bersosialisasi (21%), di sela kerja (21%), nonton tv/pertunjukkan (7%), menjalankan hobi seperti mancing dan lain sebagainya (4%), jalan-jalan (1%), lainnya (7%), dan sambil bekerja (13%).

Masyarakat miskin ini kecenderungannya mampu menyesuaikan antara kemampuan finansial dengan aktivitas merokoknya, baik itu dari jumlah rokok yang dihisap maupun harga rokok yang dibeli. Penyesuaian itu dengan mudah dilakukan oleh perokok di kalangan miskin sebab di pasaran harga rokok yang dijual memang beragam, dari harga tinggi sampai murah. Mereka juga punya kebebasan untuk membeli bahan baku rokok berupa tembakau, cengkeh, papier, dan kemudian melinting sendiri.

rokok

Hal ini dapat diketahui dengan beragamnya pengeluaran perokok yang masuk kategori miskin dalam sehari. Sejumlah 33% responden mengeluarkan uang sebesar di atas Rp15 ribu untuk rokok, sejumlah 40% responden mengeluarkan uang untuk membeli rokok di kisaran Rp10 – Rp15 ribu, 20% responden mengeluarkan sekitar Rp5 – Rp10 ribu, sedangkan 7% responden mengeluarkan uang di bawah Rp2 ribu.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Bekal Rokok Kretek bagi Jamaah Haji Indonesia

Bekal Rokok Kretek bagi Jamaah Haji Indonesia

Bagi Anda yang punya kebiasaan merokok dan punya rencana berangkat Tanah Suci, baik untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, tak perlu khawatir tidak bisa menunaikan kegemaran tersebut. Sebab, Anda diperbolehkan untuk merokok asalkan di tempat-tempat yang diperkenankan agar tidak menganggu ibadah jamaah lainnya.

bungkus rokok

Bila Anda termasuk orang yang terbiasa dengan merokok kretek, maka sebaiknya bawalah rokok dari Tanah Air, sebab di sana akan sangat sulit untuk mendapatkan rokok. Aturan yang diberlakukan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram misalnya, rokok diperkenankan dijual di radius 5 kilometer dari masjid.

Di sana, harga rokok cukup mahal, apalagi untuk rokok jenis kretek, harga satu bungkusnya mencapai 15-20 riyal atau setara Rp55.000 sampai Rp88.000.

orang merokok

Harga mahal rokok di tanah suci inilah yang membuat banyak jamaah haji yang membawa rokok kretek dari tanah air, tentu saja sebagai persediaan selama menunaikan ibadah haji/umroh di sana. Aturan yang diberlakukan, setiap jamaah haji diperbolehkan membawa sebanyak 200 batang rokok atau dua slop rokok.

rokok

Kebiasaan membawa rokok bagi jamaah haji biasanya bukan hanya untuk kebutuhan pribadi saja. Ada juga yang sengaja membawa sebagai bingkisan untuk sanak saudara yang berada di sana. Dan yang khas orang Indonesia adalah sengaja membawa rokok kretek bukan untuk dihisap melainkan dijual kepada sesama jamaah lain.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Perokok Sumbang Pelayanan Kesehatan bagi Daerah

Perokok Sumbang Pelayanan Kesehatan bagi Daerah

Perokok tak perlu minder karena senantiasa disudutkan di ruangan sosial, dianggap pesakitan, dan bahkan untuk menikmati rokok pun harus selalu dipersulit dengan tidak tersedianya ruang khusus merokok.

bungkus rokok

Para perokok sebenarnya memiliki peran penting bagi pembangunan, misal dari cukai hasil tembakau (CHT) dan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DB-CHT) yang didistribusikan ke daerah-daerah penghasil tembakau.

orang merokok

Lalu, untuk daerah-daerah lain. Perokok juga memberikan pendapatan dalam bentuk pajak rokok yang dipungut dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dengan prosentase sebesar 10% dari cukai hasil tembakau. Pajak rokok tersebut dikumpulkan oleh pemerintah pusat kemudian akan dialirkan ke daerah-daerah. Prosentasenya pembagiannya, untuk provinsi sebesar 30 persen dan 70% sisanya untuk pemerintah kabupaten dan kota.

rokok

Di masing-masing daerah penerima itu, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, diwajibkan minimal 50% dari dana pembagian pajak rokok tersebut untuk digunakan sebagai dana kesehatan. Sisanya untuk pembangunan, pendidikan, juga penegakan hukum, yang salah satu diantaranya adalah memberantas keberadaan rokok ilegal.

rokok

Walaupun menuai kontroversi karena keberadaan pajak rokok membuat perokok menanggung beban pajak ganda, tapi toh kebijakan ini tetap berlanjut dan sudah diberlakukan sejak 2014.

Besaran dana pajak rokok yang dibagikan ke daerah sebagai dana pembangunan pun terus meningkat, dari sebesar Rp244 miliar pada 2014, Rp397 miliar pada 2015, dan tahun lalu dikumpulkan dana pajak rokok sebesar Rp484 miliar.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Pemerintah Peroleh Pendapatan Terbesar dari Bisnis Rokok

Pemerintah Peroleh Pendapatan Terbesar dari Bisnis Rokok

Dari setiap bungkus yang anda beli, ternyata pemerintah yang memperoleh porsi pendapatan terbesar. Ini dikarenakan selain cukai, pemerintah masih mengambil Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRB).

rokok

Soal tarif cukai, ditetapkan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan golongan produk. Untuk jenis Sigaret Kretek Mesin golongan 1, tarif yang dikenakan sebesar Rp530 perbatang. Jika anda membeli sebungkus rokok isi 16 batang, maka cukai yang anda bayarkan sebesar Rp8.480.

bungkus rokok

Berikutnya, anda mesti membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tarifnya sebesar 9,1% dari harga jual eceran (HJE). HJE per batang rokok golongan 1 adalah Rp1.120, maka per batang anda mesti membayar Rp102. Jadi untuk sebungkus yang isi 16 tadi maka PPN yang anda setorkan menjadi Rp1.632.

rokok

Dan terakhir, kebijakan terbaru pemerintah dengan memberi kewajiban membayar PDRB. Pengutan ini dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendapatakan pendapatan. Besarnya 10% dari tarif cukai. Jika tarif cukainya Rp530 perbatang, maka akan ditambah pungutan lagi sebesar Rp53. Bila sebungkus rokok, maka PDRB yang disetorkan menjadi Rp848.

rokok

Secara keseluruhan pembagian porsi pendapatan yang diterima oleh pemerintah sebesar Rp10.960. Sedangkan perusahaan rokok sebesar Rp7.040 per bungkusnya. Itu pun perusahaan harus membeli bahan baku, membayar pekerja, belanja iklan, dan membayar cukai di muka setiap tahunnya.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

ORANG MEROKOK UNTUK MENGISI WAKTU SENGGANG

ORANG MEROKOK UNTUK MENGISI WAKTU SENGGANG

Ada banyak penelitian tentang merokok yang mengaitkan bahwa aktivitas ini mengurangi beban pikiran. Karena itu, seringkali orang merokok memilih waktu-waktu ketika pikiran sedang bekerja dengan keras. Tetapi terkadang dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk orang merokok, orang terkadang cenderung untuk menunda melakukan aktivitas merokok, sebabnya banyak, bisa jadi karena ada larangan merokok di tempat kerja atau memang karena sedang berada di tempat umum.

Orang Merokok
Orang Merokok
Rokok
Rokok

Jika demikian keadaannya, merokok di kala senggang bisa jadi pilihan. Misalkan dilakukan selepas jam kerja di beranda rumah sambil menikmati kopi atau teh. Lalu biarkan pikiran dibiarkan rileks dan memikirkan hal-hal yang belum sempat dipikirkan ketika sedang berada di kantor.

Orang Merokok
Orang Merokok

Demikian resep jitu untuk menemukan ide istimewa bagi orang merokok.

Foto oleh : Eko Susanto