Budaya: Menjamu Tamu dengan Rokok

Merokok tak hanya merupakan kesenangan pribadi, namun juga menjadi hidangan penting yang disajikan kepada para tamu, tidak ubahnya dengan sirih dan pinang. Begitulah argumentasi dari sejarawan Amen Budiman dan Ong Hok Ham yang disampaikan dalam buku Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara.

Pada awal abad 19, masyarakat Indonesia tidak hanya menyajikan tembakau untuk dilinting oleh para tamunya, namun juga telah siap pakai dalam bentuk rokok buatan sendiri.

Menurut mereka, sebuah kutipan dari “Centhini”, sebuah naskah sastra Jawa terkenal yang disusun pada tahun 1814 atas perintah Sunan Paku Buwono V, waktu baginda masih menjadi putra mahkota, membuktikan adanya sajian rokok yang dimaksud.

Sira dhewe ngladenana nyai

lan anakmu dhenok

ganten eses wedang dhaharane

mengko bagda ngisa wissa ngrakit

dhadar kang priyayi

dhayohmu linuhung.”

Artinya:

“Hai dinda, hendaknya egkau sendiri yang melayani

bersama anakmu si upik

dengan sirih, rokok, minum dan makanan

usia isya nanti hendaknya engkau telah selesa menyiapkan makanan yang baik

oleh karena tamumu orang yang mulia.”
Sumber: rokokindonesia.com

Pemerintah Indonesia Antisipasi Kemasan Polos Rokok di Singapura

Atas rencana penerapan kemasan polos produk rokok (plain packaging) yang direncanakan Singapura, pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, (PEN) Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak menyatakan akan bergerak mengantisipasi.

Kebijakan kemasan rokok polos produk rokok jelas akan merugikan Indonesia. Dari neraca perdagangan rokok di Singapura Indonesia menempati sebagai pengekspor terbesar kedua ke Singapura. “Apabila kebijakan kemasan polos diterapkan Pemerintah Singapura, maka diperkirakan akan berdampak pada penurunan ekspor kita ke Singapura,” kata Nus, dalam keterangannya tertulisnya di Jakarta.

Menurut data Kemendag, ekspor produk tembakau Indonesia ke Singapura pada 2014 mencapai USD 139,99 juta, menurun 9,66 persen dibanding periode sebelumnya yang mencapai nilai USD 145,96 juta. Pengekspor terbesar ditempati Tiongkok dengan sharemarket sebesar 20,39 prsen.

“Jika kebijakan baru ini diberlakukan, ekspor produk rokok dan produk tembakau diperkirakan makin merosot,” paparnya.

Tindakan pemerintah Singapura diketahui setelah public hearing dengan Health Committee di Parlemen pada 12 Maret 2015. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Kesehatan Singapura telah mengungkapkan rencana kebijakan standarisasi kemasan rokok maupun produk tembakau. “Salah satunya yaitu Announcement: Pubic Consultation on Standardized Packaging yang menerangkan Singapura akan menerapkan kebijakan kemasan polos.

Nus menjelaskan, Singapura berenana mengadakan konsultasi publik pada akhir 2015 dan terbuka bagi para stakeholders berkepentingan. Ini dilakukan Pemerintah Singapura untuk mendapatkan pandangan atau masukan dari berbagai pihak.

“Ini kesempatan bagi kita, pemerintah, dan produsen rokok dan produk tembakau di Indonesia, untuk menyampaikan pandangan dan masukan sebelum kebijakan itu diberlakukan Singapura dengan argumentasi yang kuat,” papar dia.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Soekarwo: Pemrov Jatim Akan Perjuangkan Nasib Petani Tembakau

petani tembakau
petani tembakau

Pemrov Jatim akan menyiapkan benih untuk membela petani tembakau. Langkah tersebut diambil sebagai upaya pemerintah untuk mengintevensi petanai tembakau agar dapat berdaya saing.

Menurut Soekarwo, Gubenur Jawa Timur, secara subtansi yang sangab serius adalah memperjuangkan nasib petani tembakau.

“Ini karena permasalahan yang sering dihadapi oleh petani tembakau yakni ketersediaan benih tembakau,” ujarnya.

Selain benih dan bibit tembakau, ketersediaan puppuk, pemberantasan “Bank Thitil” atau lintah darat, tataniaga yang panjang hingga kompetisi harga tembakau luar negeri harus difasilitasi dan dihitung secara detail oleh APTI bersama pemerintah, sehingga tidak ada yang salig dirugikan.

“Jika terdapat permasalahan yang terjadi pada sektor regulasi, pemerintah berhak memberikan subsidi,” jelas Soearwo.

Subsidi, imbuhnya, tidak diperbolehkan pada pasar bebar, akan tetapi jika pemerintah memberi subsidi yang diperuntukkan bagi perlindungan konsumen diperbolehkan.

Perlindungan konsumen yang akan dilakukan Pemrov Jatim meliputi standarisasi hingga pemangkasan tataniaga yang panang. Jika tataniaga dipotong, akan memberikan perlawanan terhadap produk tembakau dari luar.

Soekarwo menambahkan, Pemrov Jatim akan melibatkan Bank Tani kepada petani tembakau yang kesulitan di dalam modal. Bank Tani akan dilibatkan agar memberi kemudahan bagi petani tembakau agar bunga ringan.

Sumber: rri.co.id // Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Petani Tembakau Peringatkan Jokowi Tidak Tandatangani FCTC

Petani tembakau mengingatkan Presiden Jokowi Widodo untuk tidak menandatangani aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Alasannya, aksesi FCTC akan berdampak buruk terhadap petani tembakau dan industri.

Peringatan itu disuarakan dalam Musyawarah Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) ke III yang berlangsung di Magelang, Jawa Tengah (Jateng), sejak Selasa (28/7).

Ketua APTI Jawa Tengah, Wisnu Brata mengatakan bila Jokowi meneken FCTC maka secara langsung akan tunduk kepada hokum internasional yang sifatnya mengikat.

Namun karena Jokowi sudah berjanji melindungi, petani tembakau yakin bahwa ikrar itu tidak akan dilanggar.

Janji tersebut, kata Wisnu, diucapkan pada saat Jokowi bertemu dengan petani tembakau. Wisnu menirukan yang disampaikan Jokowi, dia akan melindungi semua industri padat karya termasuk padat karya dalam hal ini Industri Hasil Tembakau, termasuk petani.

“Saya masih percaya, panglima tertinggi kan Presiden. Beliau menjanjikan petani mendapatkan perlindungan. Makanya kami berharap kebijakan itu tidak sekadar kepentingan kesehatan atau kesejahteraan, harus ada kebijakan yang win win solution, tidak saling merugikan,” kata Wisnu.

Pada aksesi FCTC, WIsnu juga mengingatkan Kementerian Kesehatan untuk tidak menyalin secara keseluruhan regulasi tersebut karena terbukti tidak sesuai dengan ekonomi, social, budaya masyarakat Indonesia.

Karenanya, harus ada aturan yang melndungi semua pihak, termasuk para petani tembakau. Wisnu pun mendorong semua komponen baik pro-kontra untuk duduk bersama.

Wisnu sendiri mengaku, para pemangku kepentingan IHT sangat mendukung larangan merokok di tempat umum. Namun demikian, ia meminta pemerintah juga mengeluarkan regulasi untuk menyediakan area merokok seperti titah Mahkamah Konstitusi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Petani Khawatirkan Abu Vulkanis Gunung Raung akan Turunkan Kualitas Daun Tembakau

Erupsi Gunung Raung di Bondowoso yang terus berlanjut hingga hari ini membuat petani tembakau di Jember mengkhawatirkan penurunan kualitas tembakau.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember, Hendro Handoko, mengatakan kualitas tembakau dipastikan menurun akibat terpapar abu vulkanis Gunung Raung.

Dalam pantauannya, tembakau yang sudah ditanam petani pada Mei hingga Juni 2015 di Jember terkena paparan abu vulkanis. “Di Jember, hujan abu vulkanis menguyur di 31 kecamatan atau seluruh kecamatan di kabupaten setempat, sehingga seluruh lahan tembakau milik petani terpapar abu vulkanis Raung,” kata Hendro.

Hasilnya banyak petani yang mengeluh karena dipastikan akan merugi pada musim panen nanti yang berlangsung mulai akhir Agustus. Abu vulkanis dari Gunung Raung menempel pada daun tembakau, sehingga menutup pori-pori batang dan daun yang menyebabkan pertumbuhan tanaman tembakau terganggu hingga berdampak pada kualitas tembakau.

“Kualitas daun tembakau yang menurun tentu akan berdampak pada harga jual ke pabrikan dan eksportir. Petani terancam merugi akibat erupsi Gunung Raung.”

Sementara salah seorang petani tembakau di Jember, Setiawan, mengatakan petani saat ini beramai-ramai menguyur tanaman tembakau dengan mesin pompa air, agar abu vulkanis tidak menempel pada daun tembakau.

“Hujan abu vulkanis yang terus-menerus menguyur Kabupaten Jember sangat berdampak buruk pada lahan perkebunan tembakau karena kualitas tembakau akan menurun, sehingga harga jual ke pabrikan akan rendah,” keluhnya.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com