Tembakau Oriental, Bahan Baku Pembentuk Aroma Khas Rokok Kretek

Tembakau Oriental, Bahan Baku Pembentuk Aroma Khas Rokok Kretek

Rokok kretek mempunyai karakter “Oriental Nutts” yang mengandalkan aroma kuat dan menonjol. Tentu hal ini berbeda dengan karakter “Burley Nutts” yang dimiliki oleh rokok putih. Karena itu, keberadaan aroma kuat dan khas tersebut menjadi salah satu faktor penting sehingga rokok kretek diterima pasar. Di samping itu, keberadaan cengkeh yang juga menghadirkan rasa rempah menjadi faktor pelengkap lainnya. Sehingga rokok kretek menjadi khas dan hanya bisa dihasilkan di Indonesia.

rokok kretek

Salah satu faktor penting pembentuk aroma pada rokok kretek ini adalah tembakau jenis oriental.

Tembakau jenis oriental ini kelebihannya ada di aroma, karena itu sering disebut sebagai tembakau aromatik. Aroma yang dihadirkan dari tembakau jenis ini yakni harum, gurih, dan manis.

tembakau

Menurut Akehurst, tembakau oriental sangat cocok ditanam di tanah berpasir sampai lihat berkapur dan kandungan bahan organiknya rendah. Pada awal pertumbuhan, tembakau oriental memerlukan cukup hujan. Fase berikutnya memerlukan iklim kering dengan cahaya matahari penuh. Tembakau oriental memiliki mutu yang bagus apabila ukuran daunnya kecil.

tembakau

Tembakau oriental ini umumnya dihasilkan di Bulgaria, Yunani, Kirgiztan, Lebanon, Macedonia, Serbia, dan Turkey.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Advertisements

Tembakau dan Rokok: Budaya Masyarakat Bali

Komang Armada, seorang petani di Bali, merasa aneh mengapa orang dengan berisiknya menyucapkan “Hari Ini Sedunia”, “Hari Itu Sedunia”, dan yang paling tak dimengerti dan menyengatnya hadirnya peringatan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”. Mendengar seruan Anti Tembakau tersebut Komang justru membayangkan wajah-wajah terperanjat para leluhurnya.

“Orang tua saya, kakek, nenek, dan entah berapa tetua saya di Bali adalah pengkosumsi tembakau level “hardcore”. Pendeknya, tembakau adalah kultur. Mereka mengosumsi sebagairokok linting tradisional sebagai sisig (diemil berjam-jam, diyakini punya efek bagus buat tubuh), sebagai sarana sesajen, sebagai peringan sakit saat keselo/terkilir/salah urat, dan banyak lagi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Benarkah Paru-paru Hitam di Bungkus Rokok Milik Perokok?

Sejak Juni 2014, bungkus rokok di Indonesia meski mencantumkan gambar peringatan yang mengerikan. Dada terbelah, paru-paru terlihat warna coklat cenderung menghitam. Tentu saja, gambar itu hasil olah Photoshop untuk menakut-nakuti para perokok.

Tetapi benarkah gambar paru-paru yang menghitam itu milik perokok?

Lauren A. Colby melalui penelitiannya yang dibukukan dalam In Defense of Smokers menyangkal jika gambar paru-paru yang berwarna coklat itu sebagai akibat dari akumulasi bertahun-tahun kosumsi tar dan nikotin. Dari sumber dua ahli otopsi, Wray Kephart dan Ed Uthman M.D, Colby tahu paru-paru coklat atau hitam sebagai akibat kosumsi rokok adalah mitos belaka.

Kephart maupun Uthman menegaskan, dari hasil otopsi medis sangat tidak mungkin diketahui, apakah almarhum merupakan seorang perokok atau bukan. Sementara foto yang sering dijadikan bukti rusaknya paru-paru para perokok tersebut, menurut kedua sumber tersebut adalah foto paru-paru orang yang terkena kanker paru-paru dan tak ada persoalan dengan apakah ia perokok atau tidak.

Skeptisme dan kritisme Colby atas kebenaran propaganda antirokok bermula dari pengalamannya mengamati kampanye pemerintah Amerika memerangi HIV AIDS ketika ia bekerja di Lembaga Komunikasi Pemerintah Washngton DC. Persis sebagaimana kasus AIDS, Colby melihat ada lembaga kesehtan yang berwenang di Amerika yang menentukan bagaimana sebuah paradigma pengetahuan disusun dan dikontrol, yang tidak membolehkan adanya pendaat dari luar.

Di sini sudah jelas, bahwa lembaga-lembaga yang berwenang itu secara teratur mengelola buku-buku dengan menyulap data statistik dan data-data lain, merapikan dan memotong di sana-sini untuk membuktikan bahwa “pengetahuan resmi” yang benar.

Tujuan dan kepentinganya apa? Menurut Colby, jawabannya datang dengan suara keras dan jelas: bukan lain adalah UANG.

Lalu di Indonesia? Hahaha, bukannya kita hanya pecundang yang hanya mengimpor pengetahuan dari lembaga berwenang di Amerika sana.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Rokok dalam budaya Indian kuno

Merokok merupakan salah sebuah aspek kebudayaan masyarakat Indian yang telah sangat tua usianya. Ketinggian usia ini bisa dikata dari penemuan ratusan pipa di situs-situs pedesaan dan darah anak-anak perbukitan di sebelah timur Amerika Serikar dan berasal dari masa sebelum kedatangan Columbus.

Sekalipun peninggalan-peninggalan sejarah ini tidak bisa ditemukan asal-usul tarikhnya, namun menurut pendapat Ralph Linton, beberapa bagian di anatarnya pastilah berasal dari suatu kurun masa yang telah sangat berlalu.

Pembuktian lain terjumpai dari kalangan masyarakat Indian “the Basket Makers” di sebelah barat daya Amerika Serikat, suatu golongan penduduk Indian kuno yang sisa-sisa peninggalannya terjumpai di bawah situs prasejarah “cliff dwellers” (para penghuni gua).

Berdasarkan beberapa bukti bisa dinyatakan, orang-orang Indian ini telah hidup di daerah tersebut pada awal masa Masehi dan kemudian didesak keluar dari tempat kediaman mereka pada tahun 1000 Masehi.

Dari mereka kita menemukan sejumlah pipa untuk keperluan merokok, yang merupakan pipa-pipa paling tua untuk keperluan merokok.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

foto: eko susanto

sumber: rokokindonesia.com

Indonesia Menggugat Aturan Kemasan Polos Produk Rokok ala Australia

Indonesia melayangkan gugatan ke WTO (Woarld Trade Organization) berkaitan dengan pemberlakuan kemasan polos produk rokok yang diberlakukan di Australia.

Gugatan yang disampaikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan ini merupakan sengketa dagang terbesar yang ditangani WTO, sebab selain Indonesia terdapat tiga negara lain, Honduras, Republik Dominika, dan Kuba, serta 36 negara anggota WTO ikut serta menjadi pihak ketiga yang berkepentingan atas gugatan ini.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi menegaskan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

“Konsumen memiliki hak untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan-hambatan yang tidak berdasar,” kata Bachrul.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Nasilah, Perempuan Dibalik Rokok Kretek

Dalam kisah sejarah penemuan rokok kretek, ada seorang perempuan yang juga berperan dalam mempopulerkan rokok khas Indonesia ini. Jika Haji Djamhari menemukan rokok kretek dengan sebab kesehatan, lantaran dia sakit bengek kemudian sembuh. Nasilah, si penjaga kedai ini lebih pada faktor kebersihan yakni ia memasarkan rokok kretek supaya para kusir yang datang ke kedainya mengurangi kebiasaan nginang.

Kemudian, di kedainya, datangkan Nitisemito yang akhirnya menjadi suaminya. Kedua pasangan ini malah lebih fokus untuk menjalankan usaha pabrik rokok. Bahkan sempat menjadi pabrik besar yang memasarkan rokok bermerek Tjap Tiga Bal.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Gambar Rokok

Siapa Lelaki dalam Gambar Peringatan “Merokok Membunuhmu”?

Sejak pertengahan 2014 lalu, bungkus rokok di Indonesia harus menyertakan peringatan bergambar.

Kebijakan terkait ini, diatur oleh PP 109 Tahun 2012, yang mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kesepakatan yang melibatkan berbagai negara dan paling cepat mencapai kesepakatan ini menuai kontroversi. Sebab, diketahui ada aliran dana dari berbagai Perusahaan Multinasional Farmasi yang mempunyai kepentingan bisnis atas bisnis “nikotin” berperan besar untuk mendorong kesepakatan segera tercapai, dan akhirnya diadopsi oleh berbagai negara.

Tetapi bukan saja peraturannya saja yang diimpor, gambar peringatan yang ditampilkan di bungkus rokok versi “merokok membunuhmu” bersanding dengan dua tengkorak juga bukan orang Indonesia.

Gambar peringatan itu pertama kali dipublikasikan di Thaliand sejak tahun 2012, dan diyakini sebagai orang Thailand. Sedangkan di Indonesia mulai digunakan tahun 2014.

Ah, dari gambar peringatan itu, Anda tahu kan sebab yang membuat orang tidak kreatif?

Foto: Eko Susanto (Flickr)
Sumber: Rokok Indonesia