Industri Rokok Contoh Bagus Industri Nasional

Pengamat Kebijakan Publik dari Institute from Policy Reform (IRR), Riant Nugroho, menyatakan industri rokok merupakan contoh bagus sebagai industri yang mengandalkan bahan baku dari dalam negeri. “Dia unik dan seharusnya dibantu,” katanya seperti dikutip CNN Indonesia (20/3).

Pernyataan itu menanggapi situasi perekonomian nasional yang melamah diakibatkan berbagai tingginya sektor industri dalam negeri yang bergantung dari bahan luar negeri. Ketergantungan ini yang mengakibatkan banyak sektor industri rentan terhadap pukulan krisis, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah.

Keadaan ini bermula dari kegagalan pemerintah membangun kultur industri yang kuat di berbagai sektor. “Stuktur industri kita rapuh dan tidak pernah dibangun oleh kabinet-kabinet yang dulu,” katanya.

Sumber foto: Eko Susanto (Flickr) / Artikel: Rokok Indonesia

Advertisements

Turunnya Nilai Tukar Rupiah Tak Menggangu Industri Rokok

Rokok Indonesia
Rokok Indonesia

 

Industri dalam negeri terpukul dari terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS yang terjadi belakangan ini. Berbagai sektor industri mengalami kemunduran. Hal ini diakibatkan makin tingginya beban biaya bahan baku yang meski ditanggung akibat melemahnya nilai rupiah. Keadaan ini terjadi akibat sektor industri dalam negeri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor.

Di saat sektor industri lain mengalami kemunduran, industri rokok bisa dipastikan akan bertahan dari goncangan krisis ini. “Seperti ketika krisis-krisis sebelumnya, industri kretek akan tetap bertahan karena dari hulu hingga hilir hampir semua bahan bakunya dari dalam negeri,” kata Hasan Aoni, Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPRI), seperti dikutip CNN Indonesia.

Tetapi, yang menjadi persoalannya pemerintah justru memberikan beban tambahan terhadap industri rokok nasional dengan rencana Pajak Pertambahan NIlai (PPN) sebesar 10 persen dalam semester kedua tahun ini. Padahal, awal tahun lalu telah terjadi kenaikan cukai 8,72 persen.

Kenaikan beban pajak dan cukai yang hampir terjadi setiap tahunnya terhadap industri rokok telah terbukti menjadi beban dan berhasil membuat banyak pabrik rokok kecil tumbang. “Pada 2009 ada 4.900 industri rokok dan lima tahun kemudian tinggal 800 pabrik. Kalau satu pabrik mempekerjan sekitar 25 orang, total sekitar 102,5 ribu orang kehilangan pekerjaan,” katanya.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr) /Artikel: Rokok Indonesia

Tari Lahbako, persembahan untuk perempuan pekerja tembakau

Tari Lahbako, persembahan untuk perempuan pekerja tembakau

Tari Lahbako merupakan tarian tradisional dari Jember. Tarian yang dimainkan oleh sekelompok penari perempuan, dengan iringan musik yang rentak, mengambarkan kaum perempuan yang bekerja keras di ladang dan kebun-kebun tembakau.

Di daerah berjuluk Kota Tembakau ini, para perempuan memang menjadi ujung tombak perekonomian yang ditimbulkan dari daun tembakau. Pada saat-saat musim tembakau, baik voor oogst (tembakau musim kemarau) danna oogst (tembakau musim penghujan, dimanfaatkan sebagai bahan rokok cerutu), para perempuan banyak ditemui di ladang dan gudang-gudang pengolahan tembakau. Perempuan terlibat dalam proses kerja budidaya tembakau, utamanya di masa-masa pascapanen. Dari memetik daun tembakau, membawa ke gudang, menjemur, sortasi, dan pengepakkan. Para perempuan ini bekerja untuk menunjang perekonomian keluarga selama musim tembakau.

Dari sana, para penari di Jember melihat aktivas di perkebunan tembakau, dan sebagai hasilnya terciptalah Tari Lahbako, yang berarti Olah tembakau pada 1985. Selama menciptakan tarian ini, para penciptanya diberi arahan oleh Bagong Kussudiarjo. Dari tari ini, bisa dilihat bagaimana tembakau –berikut juga rokok kretek, sebagai produk hasilnya– telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

Rokok ketengan, penyelamat di tanggal tua

Rokok Budaya
Rokok Budaya

Rokok ketengan merupakan istilah khas budaya Indonesia, merujuk pada rokok yang dijajakan secara ecer, biasanya per batang. Kamus memang menerangkan istilah ketengan sebagai “penjualan atau pembelian sedikit-sedikit; eceran;”. Rokok ketengan bisa ditemukan di kios rokok, warung makan, hingga pedagang asongan.

Kenapa dijual per batang? Biasanya untuk menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi di sekitarnya. Misal di lingkungan kost-kostan. Atau di sekitar kawasan pabrik, kampung, dan lain sebagainya.

Penjual juga bisa mendapat untung lebih dari menjual rokok ketengan. Misal, sebuah rokok Gudang Garam Filter isi 12 batang per bungkus harganya Rp12.500, maka hanga ketengannya akan dijual seharga Rp1250. Artinya bila 12 batang laku secara “ketengan” total uang yang diterimanya adalah 15.000.

Di sisi konsumen, rokok ketengan juga sangat membantu. Misal Anda seorang pemuda rantau, tentu pernah merasakan pahitnya tanggal tua. Nah di saat-saat macam ini kadang tersedianya rokok ketengan jadi “penyelamat”.

Foto: Eko Susanto di Flickr /Artikel: Rokok Indonesia

Kios rokok dalam budaya Indonesia

Roko Budaya
Roko Budaya

Kios rokok atau warung rokok, merupakan istilah yang kerap kita dengar dalam budaya sehari-hari di Indonesia. Merujuk pada kios atau warung kecil yang menjajakan rokok. Biasanya istilah ini mengarah ke warung kecil di tengah kampung, atau gerobak kios kecil yang biasa ditemukan di pinggir jalan.

Di tempat macam ini, biasanya rokok juga tidak sekadar di jual per bungkus, tapi juga dijajakan per batang atau yang biasa dikenal dengan istilah ketengan. Bungkus rokok, biasanya ditempatkan dalam lemari display sederhana berukuran mini.

Normalnya kios rokok juga tidak sekadar menjajakan rokok, biasanya juga menyediakan produk lain macam permen, camilan, mie instan, minuman dingin, pulsa telepon, dan produk eceran lain. Meski begitu tetap saja orang lebih suka menyebutnya sebagai kios rokok.

Tak jarang juga kios atau warung rokok menjadi tempat orang berkumpul. Biasanya di tengah kampung mereka akan nogkrong, menjadi ruang sialtuhrahmi. Tak jarang kita temui ornag berkumpul di kios rokok, sambil sekadar main gaple, kartu dan lain sebagainya.

Sumber foto: Eko Susanto di Flickr / Artikel: Rokok Indonesia

Rokok Terakhir Panglima Besar Soedirman

Rokok Indonesia
Rokok Indonesia

Indonesia, negeri kita ini mempunyai banyak jenderal. Tetapi, dari sekian banyak jenderal itu hanya segelintir orang saja yang dianggap sebagai Panglima Besar. Tak lain adalah Jenderal Soedirman salah seorangnya, yang dalam keadaan sakit sekalipun ia tetap berjuang. Dengan tandu yang diusung para pejuang kemerdekaan lain, ia masih begerilya masuk-keluar hutan , melawan agresi Belanda .

Di tengah keadaan yang sulit itu, Jenderal Soedirman senantiasa membawa tembakau iris untuk bahan linting tembakau, yang dihisapnya di sela-sela menentukan strategi berikutnya. Ia seperti tak bisa menghentikan kebiasaan ini, walupun ia telah bernafas dengan paru-paru tinggal sebelah. Ya, paru-parunya sempat diangkat, tapi bukan karena kebiasaan merokok melainkan karena dokter yang salah mendianogsa sakit yang dideritanya.

Tak bisa dilepaskannya Jenderal Soedirman dari rokok bisa kita nilai dari suatu adegan romantis di akhir hayatnya. Ketika itu, Sang Jenderal hanya memiliki keinginan sederhana yakni menghisap rokok. Barangkali untuk meredakan kegelisahannya lantaran banyak ingin yang belum terlaksana atau supaya ia lebih percaya diri ketika menghadapi malaikat maut, lawan yang tak mungkin ia kalahkan dengan bedil dan strategi gerilya.

Sayang, dokter tak mengijinkan keinginan sederhana itu telaksana. Namun lantaran rasa cinta yang agung istrinya kepada Sang Jenderal ini, ia menyediakan diri membantu. Istrinya nyalakan sebatang rokok, meletakkan  di sela-sela bibir dan menghembuskan asapnya kepada kekasihnya.

Sumber foto: Wikimedia (atas) – Eko Susanto di Flickr (bawah)

Artikel: Rokok Indonesia

rokok indonesia (2)

 

Sollar Cell dari Tembakau

manfaat rokok
manfaat rokok

Pemenuhan kebutuhan energi untuk masa depan merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi umat manusia. Diperkirakan pemenuhan kebutuhan energi yang selama ini dipenuhi dengan sumber daya alam tak terbarukan akan semakin menipis dan sulit untuk dicari. Tapi, manusia merupakan makhluk yang berakal yang senantiasa mencari jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi. Ia melakukan penelitian, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang senantiasa terbuka.

Selain digunakan pada rokok, ternyata tembakau bisa menghasilkan elektron berenergi tinggi, yang punya manfaat untuk menghasilkan Sollar Cell. Baru-baru ini seseorang bernama Matt Francis dari UC Bekerley menemukan Sollar Cell yang dihasilkan dari daun tembakau. Yohannes Surya, dalam penjelasannya di fanpage Facebook-nya,  Matt Francis melakukan penelitian dengan menyuntikkan Tobacco Mosaic Virus (TMV) pada tunas  tembakau muda. Ketika pohon tumbuh, virus mulai menghasilkan banyak Chromophores (bagian sel yang mampu menghasilkan electron berenergi tinggi dengan bantuan sinar matahari).

Chromophoreschomophores yang dihasilkan dari tembakau ini bekerja dengan cara ajaib. Jaraknya antar chomophores cukup jauh sehingga tetap bisa mengalirkan listrik, tapi juga cukup dekat sehingga elektron-elektron bisa berkumpul.   “Susunan ini sangat pas untuk menghasilkan Sollar Cell,” begitu kata Yohannes Surya.

Penemuan ini juga membuktikan jika tembakau juga memiliki banyak manfaat. Selain itu, menganggap tembakau sebagai sumber utama bagi kesehatan manusia bukan saja tidak tepat tapi juga menutup ruang bagi ilmu pengetahuan untuk bekerja, memberikan alternatif-alternatif  baru untuk memecah persoalan yang ada.

Foto: Eko Susanto di Flickr