Tembakau: Si daun emas pujaan petani

petani tembakau
petani tembakau

Dari banyak jenis daun yang tumbuh di Pulau Madura, hanya satu daun yang dijuluki sebagai “daun emas”. Penyebutan ini juga digunakan di daerah Eks Karesidenan Besuki (Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi).

Asal-asul kata banyak ahli bahasa tak terlepas dari kebiasaan yang dianut oleh masyarakat di sekitar sana. Termasuk kemunculan idiom “daun emas” di masyarakat dengan kultur Madura. Kebiasaan para petani tembakau di daerah sana mempunyai kebiasaan yang unik, yakni membeli emas ketika panen tembakau berlangsung.

Benda yang satu ini memang mempunyai nilai yang meningkat setiap tahunnya sehingga bisa digunakan sebagai tabungan atau setidaknya menutup inflasi. Sehingga bila suatu waktu ada kebutuhan yang mendesak, emas bisa langsung ditukarkan. Itulah sebabnya istilah daun emas hanya ditujukan untuk menyebut daun tembakau, daun yang dimanfaatkan sebagai bahan baku rokok.

Sumber: Rokok Indonesia. Ilustrasi foto dari Eko Susanto (Flickr)

Rokok, harmoni, dan healty

Rokok budaya
Rokok budaya

Di tengah makin banyak peraturan yang membatasi ruang merokok di ketok dan kelompok-kelompok yang memerangi keberadaan rokok bertumbuh subur, malahan Smoker Club Indonesia berdiri.

Presiden Smoker Club Indonesia, Ferry Mursyidan Baldan, mengatakan jika berdirinya organisasi ini bukan untuk memperbanyak perokok atau kampanye untuk merokok. Pendirian Smoker Club justru untuk meluruskan akal sehat bahwa perokok itu tidak untuk disingkirkan, dibenci atau dimusuhi. Pemikiran yang dirasa tidak tepat meletakkan rokok sebagai bahan yang harus perangi oleh sebagian besar orang itu yang membuat organisasi ini dibentuk.

“Orang kok dilarang merokok. Sebab, kalau mau melarang hentikan saja produksinya. Kalau masalahnya ruang merokok, ya disediakan, maka orang tidak akan merokok sembarangan,” katanya.

Kampanye antirokok justru akan membuat membuat timbul kesenjangan antara perokok dan tidak perokok. Padahal yang dibutuhkan adalah kesalipedulian antara perokok dan bukan perokok.

“Di club ini kita saling sharing tentang masalah rokok, dan senantisa berusaha agar tidak memaksa orang lain merokok atau sebaliknya,” kata Ferry tentan club yang bertagline harmoni dan healty yang dipimpinnya.

Dirangkum dari Divine Kretek Rokok Sehat (Rokok Indonesia). Ilustrasi foto dari Eko Susanto (Flickr).

Ratna Sarumpaet: rokok adalah teman setia

Penulis naskah dan sutradara teater yang kerap mengangkat kisah-kisah orang marginal ini mempunyai kebiasaan merokok sejak usia 25 tahun. “Apakah rokok membantu aku dalam mencari inspirasi, sebagai pelarian, atau kompensasi lain, itu tidak penting. Pendek kata, rokok telah menjadi teman setiaku,” kata Ratna Sarumpaet. Rokok memang telah menemani perempuan ini dalam melakoni beragam aktivitas budaya dan politiknya.

Namun, dalam merokok ia cenderung memilih tempat yang agak jauh dari keramaian dan apabila ada orang lain, maka ia akan meminta ijin terlebih dahulu. “Saya hanya menginginkan kita saling menghormati. Mereka yang tidak merokok janganlah tidak menghormati yang merokok.”

Sambil mengisap rokok kretek favoritnya, Ratna Satumpaet bercerita tentang pengalaman tentang aktivitasnya yang padat meskipun usianya telah menginjak kepala enam. Ia merasa nasih sehat, baginya kesehatan ditentukan oleh banyak faktor.

rokok budaya
rokok budaya

Artikel dari Rokok Indonesia. Sumber ilustrasi lewat Eko Susanto (Flickr).

Resep Merokok dan Tetap Sehat

manfaat rokok
manfaat rokok

FS Swantoro yang pemikirannya kerap kita baca di media massa sekarang ini, memang hampir tak pernah meninggalkan rokok. Apalagi di forum-forum yang membutuhkannya otak bekerja lebih keras.

Pegiat Soegeng Sarjadi Syndicate ini telah tak bisa lepas dari rokok sejak di masa sekolah. Sambil bersembunyi di toilet ia mencuri kesempatan untuk merokok bersama kawan-kawan di SMA-nya. Dan ketika ia meneruskan di Universitas Parahiyangan di kota Paris van Java yang dingin, kebiasaan merokoknya bertambah.

Ia bercerita juga semasa aktif di bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PDI bersama Tarto Sudiro, Sukowaluyo, Angelina Patiasina, Mohctar Pakpahan, Soegeng Sarjadi, Laksamana Sukardi, dan Kwik Kian yang menjabat sebagai ketua Litbang PDI.

Di lingkungan itu, setiap kali pertemuan untuk mendiskusikan berbagai hal terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, justru rokok tak bisa dilihat sebelah mata. Menjadi kurang semagat manakala diskusi tidak disertai dengan merokok.

Lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 8 September 1953 ini memang dikenal sebagai perokok berat. Di rumahnya istri dan anak-anaknya cukup toleran terhadapnya.

Sampai sekarang ia merokok, belum ganti merek rokok, dan masih tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Sesungguhnya kesehatan manusia tidak hanya ditentukan oleh satu unsur, misalnya rokok. Tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pola hidup, pola makan dan minum, pola istirahat, olahraga, dan sebagainya.

Mengacu pada temuan bangsa China kuno, kesehatan manusia itu sangat dipengaruhi oleh energi yang masuk dan energi yang keluar. Jika energi yang masuk dan keluar seimbang, maka tubuh manusia menjadi sehat.

“Itulah prinsip hidup sehat menurut bangsa China kuno, yang saya terapkan dalam kehidupan saya,” kata FS Swantoro.

Dikutip dari Divine Kretek Rokok Sehat.

Sumber foto Eko Susanto (Flickr).

Fahmi Idris: Regulasi Pembatasan Rokok sebagai Kemunafikan Negara

manfaat rokok
manfaat rokok

Keberadaan rokok yang digugat memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan ditanggapi oleh Fahmi Idris, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Perindustrian di Kabinet Indonesia Bersatu, sebagai bentuk ketidakadilan dalam praktek ekonomi.

Dalam pengantar buku Divine Kretek Rokok Sehat, Fahmi Idris menyampaikan bermacam-macam regulasi yang dihadirkan merupakan upaya untuk mengharamkan rokok di negeri sendiri. Sementara itu, pendapatan dari rokok yang masuk melalui APBN tidak diharamkan.

Merokok dan rokok dinilai sebagai kegiatan dan barang haram, sementara pendapatan negara yang berasal dari industri menjadi penopang pendapatan negara paling tinggi.

“Regulasi dan persepsi yang diskriminatif ini terus-menerus dikembangkan secara masif. Rokok seakan-akan tak lebih dari rumah bordil atau bagian dari pelacuran, tetapi seluruh warga negara tergantung dari cukai yang dipungut darinya.”

Vicky Burki: Rokok Kretek Itu… Aku Banget!

manfaat rokok

Pesohor di dunia pertevisian berwajah ayu memulai karir sebagai pesenam dan instruktur aerobik. Siapa sangka jika artis yang selalu tampak segar di layar kaca ini merupakan seorang perokok. Wanita bernama lengkap Victorine Cherryline Soedarjono Burki atau kita kenal sebagai Vicky Burki, sudah merokok sejak duduk di bangku SMP di Bandung.

Pertama kali merokok, ia langsung jatuh cinta pada kretek tanpa filter. Di matanya, kretek itu Indonesia banget (baca: budaya Indonesia banget). Sampai sekarang dia masih setia dengan kretek yang pertama kali diisapnya, walaupun kadanv diselingi dengan rokok kretek filter jenis mild.  Cengkeh bikin kretek beda banget dengan rokok putih.

“Saya memang suka. Suka sama gayanya, suka sama cengkehnya yang aromanya eksotis banget waktu terbakar berasama tembakau. Pokoknya rokok kretek itu.. aku banget!” katanya dengan pandangan mata tajam dan bahasa tubuh yang menunjukkan kesungguhan.

Dikutip dari Rokok Kretek Rokok Sehat.

Rokok, tembakau, dan sirih dalam budaya dayak

Manfaat Rokok
Manfaat Rokok Bagi Masyarakat Dayak

Bagi orang Dayak sirih, tembakau, dan rokok menduduki peran ritual masyarakat yang penting. Ketiganya dipadu bersama kapur sirih serta dipercaya mempunyai manfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kemunculan tembakau dalam konteks terkait sirih, terlihat dari terus digunakan sirih sebagai obat, dan tembakau yang baru dikenal belakangan ditambahkan sebagai bahan baru. Begitu pula ketika rokok mulai dikenal orang Dayak.

Dalam ritual yang berkaitan dengan kematian, tembakau dan sirih digunakan dengan cara yang sama, dan bisa saling mengantikan, dalam bentuk sesajen kepada orang mati atau yang sedang menjelang ajal.

Di akhir abad 19, sebagaimana ditulis H. L. Roth dan H. B. Low dalam The Natives of Serawak and British North Borneo, sirih dan rokok dijadikan persembahan bagi orang mati. Benda-benda itu dikuburkan bersama beras serta mayat seorang yang telah mati sebagai simbol kehidupan si mati telah terbekati.

Pada masa setelahnya, di mana Belanda mulai membuka perkebunan di Kalimantan, upah bagi pekerja juga berupa gulungan tembakau. Pemberiann sesajen dan upah dalam kehidupan masyarakat Dayak didasarkan pada keyakinan benda-benda tersebut bermanfaat.

Pengamatan Frank Marryat pada awal abad 19 terhadap berbagai kelompok masyarakat Dayak, yang termuat dalam Borneo and the Indian Archipeago, tertulis cara orang Dayak merokok, “(mereka) menguyah dan merokok tembakau, tetapi mereka tidak menggunakan pipa untuk merokok, mereka menggulung tembakau di lembaran daun kering, mengambil tiga atau empat isapan, mengembuskan asap melalui hidung, dan mematikannya.”

Sumber foto: Eko Susanto (Flickr)