4 Tips Memerahkan Bibir Bagi Orang Merokok

4 Tips Memerahkan Bibir Bagi Orang Merokok

Kebiasaan orang merokok dikeluhkan akan membuat bibir tampak hitam. Hal ini wajar karena proses pembakaran ketika merokok.

orang merokok

Tetapi, jika kamu adalah orang merokok dan tak sudi bibirmu menjadi hitam dan ingin memperoleh bibir yang merah, cerah, dan tampak lebih sehat, berikut ini beberapa tips yang pantas untuk kamu coba.

1. Madu

Cara memerahkan bibir secara alami yang pertama adalah menggunakan madu. Madu tidak hanya berkhasiat untuk menyehatkan tubuh secara umum, namun juga bermanfaat untuk memerahkan bibir anda.

Caranya dengan mengambil sedikit madu murni, kemudian mengoleskan pada bibir secara merata. Cara ini akan lebih efektif bila dilakukan jelang tidur. Anda bisa mengoleskan madu secara rutin untuk mendapatkan hasil yang baik.

rokok

2. Minyak Zaitun

Minyak zaitun juga bisa dimanfaatkan untuk membuat bibir anda tampak lebih segar. Minyak zaitun mengandung nutrisi penting untuk memelihara bibir dan pelembab alami yang membuat bibir terasa lembut dan indah.

Caranya ialah dengan mengoleskan minyak zaitun pada bibir. Lakukan secara rutin setiap hari sebelum tidur. Anda juga dapat mencampur satu setengah sendok teh gula dan beberapa tetes minyak zaitun. Gogok bibir dengan lembut dengan campuran tersebut seminggu sekali. Cara sederhana ini akan mengembalikan warna alami bibir dalam 1-2 bulan.

rokok

3. Jeruk Nips

Selain menjadi ramuan alami untuk perawatan wajah dan mencegah jerawat, jeruk nipis bisa digunakan pula sevagai bahan alami untuk memerahkan bibir.

Caranya dengan siapkan perasan air jeruk nipis sebanyak 2-3 sendok makan, lalu campurkan sedikit air hangat. Larutan tersebut dioleskan pada bibir secara menyeluruh dan diamkan 15 menit lamanya. Setelah itu bilas menggunakan air hangat. Lakukan hal ini 1-3 kali dalam sehari.

4. Gula

Pengelupasan sel kulit mati pada bibir dapat menggunakan gula. Dimana sel-sel kulit mati yang dapat membuat bibir terlihat gelap dan kusam bisa terkelupas secara alami menggunakan gula.

Caranya dengan melembutkan tiga sendok gula pasir dan dua sendok makan mentega untuk membuat pasta. Gosok bibir secara lembut dengan pasta tersebut. Lakukan hal ini sekali dalam seminggu untuk mengembalikan warna alami bibir anda. Selain itu, anda dapat membuat scrub dengan mencampur satu sendok teh gula pasir, satu sendok teh madu, dan setenga sendok teh almond. Gosok lembut bibir semingggu sekali. Lakukan menjelang tidur.

Oh ya, selain memerahkan bibir, kamu juga bisa mencoba tips untuk memutihkan gigi bagi orang merokok lho, banyak tutorial yang tersebar di internet, kamu bisa baca sendiri satu per satu

Gambar Ilustrasi: Eko Susanto

Advertisements

Gagalnya Proyek Monica menemukan kaitan rokok dan penyakit kardiovaskuler

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1980 membuat sebuah proyek besar untuk menjawab berbagai kecenderungan kematian akibat penyakit kardiovaskuler (CVD) yang melibatkan 10 juta orang responden di seluruh dunia dengan kisaran usia 25-64 tahun, dan dibentuk 32 sentra kolaborasi di 21 negara. Proyek ini dikenal dengan Proyek Monica (Monitoring of trend and determinants in Cardivascular Disease).

Rokok yang diduga sebagai penyebab dari timbulnya penyakit kardiovaskuler ternyata tak terbukti. Proyek Monica tak menemukan kaitan antara hubungan trend faktor risiko utama CVD seperti kolestrol serum darah, tekanan darah dan kosumsi rokok. Juga tak ada hubungan tren pengaruh (serangan fatal dan non-fatal) stroke dan penyakit jantung koroner.

Ternyata, penyakit kardiovaskuler tersebut disebabkan karena defisiensi asam folat (folic acid); demikian juga dengan ibu hamil memerlukan asam folat lebih tinggi daripada sebelum hamil, bisa fatal dalam pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba?

Stigma bahwa rokok sebagai sebab dari seseorang memakai narkoba kerap kita dengar dilontarkan oleh antirokok, dan berkembang menjadi stigma di masyarakat. Tuduhan ini meletakkan rokok merupakan awal atau sebab dari seseorang untuk kemudian hari mencoba mempergunakan narkoba.

Tentu saja, anggapan ini seolah benar tapi cacat secara logika. Seorang pengguna narkoba bisa minum susu atau usai berkunjung ke dokter atau apa saja, kemudian dia mengkosumsi narkoba. Bisa apa saja.

Dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, stigma ini pernah diperdebatkan. Dan yang menarik, yang membantah stigma tersebut justru Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Hendri Yosodiningrat.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Benarkah Paru-paru Hitam di Bungkus Rokok Milik Perokok?

Sejak Juni 2014, bungkus rokok di Indonesia meski mencantumkan gambar peringatan yang mengerikan. Dada terbelah, paru-paru terlihat warna coklat cenderung menghitam. Tentu saja, gambar itu hasil olah Photoshop untuk menakut-nakuti para perokok.

Tetapi benarkah gambar paru-paru yang menghitam itu milik perokok?

Lauren A. Colby melalui penelitiannya yang dibukukan dalam In Defense of Smokers menyangkal jika gambar paru-paru yang berwarna coklat itu sebagai akibat dari akumulasi bertahun-tahun kosumsi tar dan nikotin. Dari sumber dua ahli otopsi, Wray Kephart dan Ed Uthman M.D, Colby tahu paru-paru coklat atau hitam sebagai akibat kosumsi rokok adalah mitos belaka.

Kephart maupun Uthman menegaskan, dari hasil otopsi medis sangat tidak mungkin diketahui, apakah almarhum merupakan seorang perokok atau bukan. Sementara foto yang sering dijadikan bukti rusaknya paru-paru para perokok tersebut, menurut kedua sumber tersebut adalah foto paru-paru orang yang terkena kanker paru-paru dan tak ada persoalan dengan apakah ia perokok atau tidak.

Skeptisme dan kritisme Colby atas kebenaran propaganda antirokok bermula dari pengalamannya mengamati kampanye pemerintah Amerika memerangi HIV AIDS ketika ia bekerja di Lembaga Komunikasi Pemerintah Washngton DC. Persis sebagaimana kasus AIDS, Colby melihat ada lembaga kesehtan yang berwenang di Amerika yang menentukan bagaimana sebuah paradigma pengetahuan disusun dan dikontrol, yang tidak membolehkan adanya pendaat dari luar.

Di sini sudah jelas, bahwa lembaga-lembaga yang berwenang itu secara teratur mengelola buku-buku dengan menyulap data statistik dan data-data lain, merapikan dan memotong di sana-sini untuk membuktikan bahwa “pengetahuan resmi” yang benar.

Tujuan dan kepentinganya apa? Menurut Colby, jawabannya datang dengan suara keras dan jelas: bukan lain adalah UANG.

Lalu di Indonesia? Hahaha, bukannya kita hanya pecundang yang hanya mengimpor pengetahuan dari lembaga berwenang di Amerika sana.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Tak Ada Kaitan Rokok dan Kanker Paru-paru

Propaganda rokok sebagai penyebab timbulnya kanker paru-paru dibantah oleh Lauren A. Colby melalui penelitian yang kemudian dirangkum dalam buku In Defense of Smokers.

Colby menemukan banyak kejanggalan atas praktik brutal proganda dan data-data statisik yang dipublikasikan oleh antirokok. Menurutnya, kita tahu tak semua perokok menderita kanker paru-paru. Sebaliknya kita juga tahu, banyak orang yang tidak merokok sepanjang hidupnya, namun justru sakit kanker paru-paru di usia dini dan meninggal karena sakit itu.

Dengan meneliti data-data statistik “The Oxfort Atlas of the World” (1992) tentang tingkat kosumsi rokok di banyak negara, dan menginterpolarisasi dengan laporan Bank Dunia (1990) terkait tingkat prevelensi penyakit kanker / Lung Cancer Death Rates (LCDR) di sejumlah negara, Colby justru tiba pada kesimpulan sebaliknya. Colby menemukan fakta, bahwa Jepang, seperti juga Hongaria, adalah negara yang memiliki tingkat rata-rata kosumsi rokok tertinggi di dunia.

Namun berbeda dengan Hongaria yang memiliki angka LCDR laki-laki sebesar 2,4 %; perempuan 0,5 %, namun Jepang justru memiliki rasio sangat rendah, LCDR untuk laki-laki sebesar 0,5 % dan perempan 0,2 %. Angka ini hanya sekitar seperlima rata-rata Hongaria, atau sekitar sepertiga rata-rata Amerika Serikat.

Tanpa terkecuali China, di negara Tirai Bambu itu, bahkan pemerintah menanam tembakau dan banyak menerima pemasukan dari penjualan rokok perusahaan plat merah, Merujuk data Bank Dunia (1988), angka LCDR China hampir sama dengan Jepang, yaitu 0,56 % untuk laki-laki dan 0,39 % perempuan.

Walaupun memiliki angka rata-rata merokok tinggi, orang Jepang dan China sangatlah sehat. Artinya, bisa dikatakan dengan pasti di Jepang dan China merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru. Karena seandainya merokok pasti menjadi penyebab kanker paru-paru, tentu rasio LCDR kedua negara yang dihuni banyak perokok berat pasti memiliki prosentase tinggi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

36 Negara Dukung Gugatan Indonesia atas Kebijakan Kemasan Polos Rokok di Australia

Gugatan yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan kemasan polos produk rokok di Australia memperoleh dukungan sebagian besar anggota WTO (World Trade Organization). Tercatat 36 negara lain yang turut berkentingan terhadap gugatan bersedia menjadi pihak ketiga. Sedangkan tiga negara lain Kuba, Honduras, dan Republik Dominika berada dalam barisan Indonesia dalam melakukan gugatan.

Gugatan disampaikan ke WTO ini disebabkan pemberlakuan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

Di mana negara-negara yang terlibat dalam perjanjian TRIPS perlu melindungi hak konsumen untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan.

Sumber: Rokok Indonesia

Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Gambar: Eko Susanto (Flickr)