“Belum Ada Rencana Kenaikan Cukai Rokok Indonesia Tahun Ini”

Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan, pihaknya belum memutuskan adanya kenaikan tarif cukai terhadap rokok. Sebab hingga saat ini Ditjen Bea Cukai masih fokus di pengawasan.

“Belum ada keputusan. Kita masih ingin intensifikasi atau pengawasan dulu, strateginya pengawasan,” Ujar Dirjen Bea Cukai yang dilantik awal Juli lalu itu.

Kenaikan cukai yang cenderung mengalami peningkatan setiap tahun justru memberikan beban bagi industri rokok untuk bekerja dengan lebih tertib. Sebab, peningkatan cukai yang terjadi justru membuat peluang untuk pemalsuan cukai semakin besar. Juga beban yang ditanggung oleh industri serta tenaga kerja yang terkait dengan industri rokok Indonesia.

Dirinya menambahkan, dengan fokus pada strategi pegawasan terlebih dahulu, juga belum diputuskan apakah akan digunakan instrumen tarif terhadap produk rokok. “Kita masih terus lakukan penindakan-penindakan sama verifikasi administrasi supaya lebih tepat, tertib administrasi,” ujar Heru.

Gambar: Eko Susanto
Sumber: rokokindonesia.com

Advertisements

Menyokong industri rokok Indonesia

Peningkatan tarif cukai hasil tembakau terjadi setiap tahun membuat produksi rokok mengalami penurunan.

Ismanu Soemiran, Ketua Gabungan Perserikatan Gabungan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), penurunan produksi terlihat pada periode Januari-Mei 2015. Padahal, pada periode yang sama tahun 2014 pemesanan pita cukai periode yang sama tahun lalu mencapai 147,8 miliar batang. Sedangkan pada tahun 2015 hanya tercatat 129,3 miliar batang.

“Turun 12,5 persen ketimbang periode yang sama 2014,” kata Ismanu.

Turunnya tingkat produksi secara otomatis memberi pengaruh pada penurunan pendapatan negara dari cukai dan pajak daerah. Terlebih keadaan ekonomi nasional sedang melambat. Dan, di samping itu kampanye antirokok juga ikut mempersempit industri rokok Indonesia.

Padahal ini merupakan industri nasional padat karya, yang menyerap tenaga kerja. Sehingga, Ismanu mengambil kesimpulan, jika kondisi penjuaan rokok di Indonesia turun terus, maka akan ada ancaman pemutusan kerja (PHK) di industri rokok.

Di situasi pelambatan ekonomi semacam sekarang, perekonomian nasional butuh mendukung industri yang menyerap tenaga kerja, menyerap bahan laku lokal, dan memberi kontribusi besar bagi pendapatan negara. Dengan begitu roda ekonomi bisa berputar dengan lebih mantap.

“Melihat penurunan produksi yang lesu, pemerintah seharusnya tidak memojokkan industri rokok. Alasannya, industri rokok telah memberi kontribusi positif terhadap pendapatan negara,” katanya.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Rokok dan budaya hidup di Kasepuhan Ciptagelar

Bagi warga kasepuhan Ciptagelar –walaupun kegiatan ini merupakan aktivitassehari-sehari– namun merokok tidak sekadar ekspresi kebebasan dan sikap eksistensialisme sebagaimana budaya barat.

Lebih jauh dari itu, merokok merupakan bagian dari keberlangsungan praktik dan budaya yang diwariskan secara turun-menurun oleh nenek moyang mereka. Karenanya, rokok senantiasa hadir dalam ritual budaya warga kasepuhan Ciptagelar. Juga sebagai sarana bagi warga kasepuhan untuk berkomunikasi dengan leluhur.

Merujuk tuturan “Baris kolot” yaitu para pemangku adat yang secara hierarkis berkedudukan di bawah abah, istilah rokok yang berasa; dari akronim ‘dikerok pakai batuk’, daun yang dikerok pakai bakau. Dan yang digunakan oleh warga sebagai bahan pelinting adalah daun aren.

Sementara legenda Dewi Sri yang bermaka sang “pemberi energi” dan lazimnya juga melekat pada tembakau dan kopi. Tak aneh mengonsumsi keduanya, kopi dan rokok, membuat kenyang.

Dengan baris kolot dengan praktik merokok diharapkan generasi masa kini sanggup kembali mengingat dan berkomunikasi dengan para leluhur. Fenomena asap sebagai simbol spiritualisme manusia tambak di berbagai khasanah kasepuhan. Asal yang dikeluarkan darinya representasi dan sekaligus simbol dari adanya proses transformasi bentuk, yakni perubahan dari yang kelihatan menjadi tak terlihat, dari yang material menjadi immaterial (nafas).

Gambar: eko susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Kampanye anti-rokok Tere Liye menuai kritik

Sastrawan yang telah menerbitkan buku-buku best seller Tere Liye, diprotes pengagum lantaran kampanyekan antirokok di laman fanpage Facebook. Dalam kampanyenya, Tere Liye menuliskan: “Keuntungan bersih PT HM Sampoerna tahun 2014 adalah 10,1 triliun rupiah. Kalau gaji kalian 10 juta/bulan, maka kalian butuh nyaris 1.000.000 bulan bekerja agar menyamai untung perusahaan rokok ini.”

Sekilas, pernyataan Tere Liye ini terkesan matematis, bahwa pengusaha rokok Indonesia jauh di atas penghasilan para perokok. Juga semestinya orang miskin tidak memperkaya orang-orang yang sudah sangat kaya.

“Tapi ya sekilas saja. Kalau sudah dua kilas, akan tampak jika sudup pandangnya agak memprihatinkan. Maksud saya, kalau memang mau konsisten memakai nalar perbandingan ala begituan, kenapa nggak sekalian Mas Tere pakai contoh pola-pola konsumsi yang lain?” tanya pengagum Tere Liye sebagai dimuat di mojok.co pada 6 Juli 2015 lalu.

Ia kemudian menyampaikan contoh-contoh konsumsi lain, bagaimana konsumen mie instan dan juga pengguna jasa layanan telekomunikasi Telkomsel  atau Indosat yang jumlah uangnya tak bisa menandingi keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut.

“Sekali lagi, logikanya matematikanya boleh sih. Tapi konteksnya wagu (tak tepat),” katanya, apalagi untuk seorang penulis yang menulis Negeri Para Bedebah.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Protes Larangan Merokok dari Penjara

Larangan  merokok yang diberlakukan pada Rabu, (1/7/2015), di seluruh penjara di negara bagian Victoria, Australia, diprotes oleh narapidana dari LP Metropolitan Remand Centre, Ravenhaal, sekitar 24 kilometer dari pusat kota Melbrourne.

Protes dari penjara ini dilakukan dengan sejumlah narapidana yang menutup wajahnya kemudian melanggar batas keamanan dan sampai merusak sejumlah fasilitas publik.  Dari aksi yang dilakukan dari pukul 12.00 sampai 18.00 sempat membuat pihak keamanan kewalahan.

Kebijakan pelarangan merokok yang sewenang-wenang di penjara menjadi sebabnya, karena kebijakan baru ini tidak memberikan tempat bagi narapidana yang merokok.

Komisioner penjara mengatakan lembaga pemasyarakatan telah melakukan persiapan selama 18 bulan untuk mengantisipasi pemberlakuan larangan merokok.

Salah satu langkah antisipasi  yang dilakukan memaksa narapidana merokok untuk mengikuti program berhenti merokok. Tetapi, upaya pemaksaan tersebut gagal. Dan berakhir dengan aksi protes narapidana baik yang merokok dan tidak sehari sebelum pemberlakuan aturan larangan merokok.

“Narapidana di LP Remand ….mereka bukan pihak yang banyak menekan kami terkait rencana penerapan aturan larangan merokok ini karena mereka relatif baru,” kata Komisioner Penjara seperti yang dikutip Australia Plus ABC.

Gambar: Eko Susanto
Sumber: rokokindonesia.com

Perokok Pasif Tak Rentan Kena Kanker Paru

manfaat rokok

Selama ini orang awam diberi pemahaman jika berada dekat seorang perokok aktif akan meningkatkan peluang mereka terkena gangguan pernapasan hinga kanker paru. Namun sebuah studi terbaru dari AS mengatakan hal ini tidaklah benar.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Stanford University menemukan bukti nyata bahwa merokok memiliki ketertarikan yang kuat dengan kanker, tapi tidak bagi perokok pasif. Hanya yang tinggal satu rumah dengan perokok aktif selama 30 tahun yang berpeluang untuk mengidap kanker paru.

Dengan mengamati data 76.304 partisipasi wanita, terutama tentang papara rokok pasif mereka sejak kecil, paparan rokok pasif mereka di rumah setelah dewasa dan paparan rokok pasif di tempat kerja. Di situ tercatat 901 orang terkena kanker paru dalam kurun 10,5 tahun.

Selain itu peneliti memastikan bahwa peluang kanker paru pada perokok aktif 13 kali lebih besar daripada yang tidak pernah merokok dan empat lebih besar terjadi pada mantan perokok. Yang jelas tinggi rendahnya risiko kanker paru, baik bagi perokok yang masih aktif maupun mantan perokok, bergantung pada tingkat paparan rokok mereka.

Namun pada partisipan yang tidak pernah merokok maupun yang menjadi perokok pasif tidak ditemukan adanya risiko kanker paru secara signifikan.

“Satu-satunya kategori paparan yang ditemukan studi ini adalah adanya tren peningkatan risiko pada orang-orang yang tinggal serumah dengan seorang perokok aktif selama 30 tahun atau lebih,” kata peniliti Ange Wang, mahasiswa kedokteran dari Stanfors University. Dia mempresentasikan hasil temuan ini dalam pertemuan American Society of Oncology di Chicago pada 2013.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Perokok Pasif Hanya Bualan Semu

Sejak Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mempublikasikan penelitian perokok pasif, untuk menyebut orang-orang yang tinggal dan hidup berdekatan dengan para perokok, mempunyai akibat mengidap penyakit paru-paru yang sama dengan perokok aktif pada 1992.  Data tersebut sering didaur ulang hingga sekarang tanpa lagi mempertanyakan secara kritis kebenaran dan maksud tersembunyi di balik penelitian ini.

Padahal Congressional Research Service (CSR) telah mengeluarkan laporan penelitian kaitan antara perokok pasif dengan penyakit paru-paru dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru-paru.

Dari penelitian yang dilakukan selama 20 bulan dan melibatkan 35.000 responden yang tidak pernah merokok selama 39 tahun di California, CSR akhirnya membuat publikasi ilmiah yang menyatakan tak ada hubungan statistik yang signifikan antara paparan perokok pasif dan kematian akibat kanker paru-paru.

Ternyata studi ini bukanlah yang pertama menyatakan bahwa tak ada kaitan antara kanker paru dengan perokok pasif. Bahkan antara tahun 1959-1989, dua pentolan kampanye antirokok di AS bernama James Enstrom dan Goeffrey Kabat melakukan survey terhadap 118.094 California untuk membuktikan apakah merokok benar-benar memberikan efek samping yang mengerikan pada orang-orang terdekat pada perokok.

Keduanya melaporkan paparan rokok dari lingkungan atau biasa disebut dengan “Perokok pasif” tidaklah menaikkan risiko kanker paru maupun penyakit jantung seseorang secara signifikan, bahkan ketika mereka terpapar bertahun-tahun.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: Rokok Indonesia