Tembakau dan Rokok: Budaya Masyarakat Bali

Komang Armada, seorang petani di Bali, merasa aneh mengapa orang dengan berisiknya menyucapkan “Hari Ini Sedunia”, “Hari Itu Sedunia”, dan yang paling tak dimengerti dan menyengatnya hadirnya peringatan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”. Mendengar seruan Anti Tembakau tersebut Komang justru membayangkan wajah-wajah terperanjat para leluhurnya.

“Orang tua saya, kakek, nenek, dan entah berapa tetua saya di Bali adalah pengkosumsi tembakau level “hardcore”. Pendeknya, tembakau adalah kultur. Mereka mengosumsi sebagairokok linting tradisional sebagai sisig (diemil berjam-jam, diyakini punya efek bagus buat tubuh), sebagai sarana sesajen, sebagai peringan sakit saat keselo/terkilir/salah urat, dan banyak lagi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Advertisements

Sejarah perkenalan bangsa Eropa dengan rokok

Kehadiran Columbus dari Amerika membawa orang Eropa berkenalan dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal dalam kehidupan mereka. Ketiga jenis fenomena baru ini mereka ketahui lewat orang Indian, penduduk asli Amerika, yang jauh sebelum kedatangan Columbus telah merasakan nikmatnya mengunyah tembakau, menghisap rokok dan cerutu.

Peristiwa bersejarah yang membuat bangsa Eropa berkenalan dengan tembakau terjadi pada 1492, seusai Columbus dan rombongannya mendarat di pulau San Salvador atau pulau Walting, setelah sekian lama berlayar mengarungi lautan Atlantik. Ketika rombongan Columbus berlayar kembali ke arah barat daya, mereka menjumpai sebuah perahu lesung orang Indian berisi muatan, di antaranya daun-daun kering yang dibelakang hari dikenal sebagai tembakau.

Pemakaian tembakau sendiri untuk pertama kalinya dilihat oleh dua orang utusan yang dikirimkan rombongan Columbus ke pantai Cuba, atau menurut sejarah yang lain, telah dikirimkan Columbus ke Hispaniola (Santo Domingo). Utusan tersebut bertemu dengan banyak membawa kayu bakar dan bungkusan-bungkusan berisi daun pengobat yang telah dikeringkan dan digulung dalam selembar daun kering. Orang-orang ini menghisap gulungan daun tersebut sambil menerangkan, perbuatan mereka ini bisa menimbulkan kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat mereka mabuk dan mengantuk, namun juga bisa mengurangi kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat seperti mabuk dan mengantuk, juga bisa mengurangi kelelahan. Gulungan daun yang sungguh bermanfaat ini mereka sebut “tobacco”.

Di samping itu ada sesi kisah bagaimana awak Columbus menemukan rokok. Peristiwanya terjadi setelah mereka mendarat di pulau Guanahani (San Salvador), di mana mereka melihat orang-orang Indoan mengulung sejenis rempah-rempah yang telah dikeringkan dalam sepotong kecil daun jagung, hingga menghasilkan gulungan kecil berbentuk silinder. Salah satu gulungan tersebut disulut api, sedangkan asapnya dihisap dari ujung lainnya.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com