Tembakau dan Rokok: Budaya Masyarakat Bali

Komang Armada, seorang petani di Bali, merasa aneh mengapa orang dengan berisiknya menyucapkan “Hari Ini Sedunia”, “Hari Itu Sedunia”, dan yang paling tak dimengerti dan menyengatnya hadirnya peringatan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”. Mendengar seruan Anti Tembakau tersebut Komang justru membayangkan wajah-wajah terperanjat para leluhurnya.

“Orang tua saya, kakek, nenek, dan entah berapa tetua saya di Bali adalah pengkosumsi tembakau level “hardcore”. Pendeknya, tembakau adalah kultur. Mereka mengosumsi sebagairokok linting tradisional sebagai sisig (diemil berjam-jam, diyakini punya efek bagus buat tubuh), sebagai sarana sesajen, sebagai peringan sakit saat keselo/terkilir/salah urat, dan banyak lagi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Advertisements

Melarang Merokok Seperti Melarang Muslimah Berhijab

Begini kata Ahmad Taufik tentang Hari Anti Tembakau:

“Sederhana saja, Bung, merokok itu aktivitas yang legal dan serba lumrah. Sama lumrahnya dengan makan nasi, minum susu, kentut di pagi hari, balikan dengan mantan, nikah muda, atau muslimah mengenakan hijab. Tak perlu dihebat-hebatkan, apalagi dilarang-larang. Melarang orang merokok sama buruknya dengan melarang muslimah berhijab.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Susanto (Flickr)

Tanggapan atas Penistaan Pembela Kretek di Hari Anti Tembakau Sedunia

Nashir Haq, orang yang bertahun-tahun tinggal di tengah puluhan ribu buruh kretek, merasa disudutkan sebagai pendukung kretek oleh kampanye Anti Rokok. Dan seolah tak pernah diberi kesempatan untuk membela diri.

Pada 31 Mei, bertepatan dengan Hari Anti Tembakau Sedunia, di mana kampanye menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan tembakau sedang gencar-gencarnya, Nashir Haq bersuara:

“Untuk para lebay antirokok yang menuduh setiap acara dukungan terhadap kretek didanai oleh korporasi kretek: Sebagai orang yang berasal dari Kudus, sebuah kabupaten yang tak segan memasang predikat “Kota Kretek”, sebuah kabupaten tempat berdirinya berbagai macam industri kretek, dukungan saya terhadap kretek mungkin akan kalian tafsirkan sebagai pembelaan saya terhadap korporasi besar produsen kretek. Terserah kalau kalian beranggapan seperti itu, toh itu hak kalian.

Tapi, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya kepentingan langsung terhadap korporasi kretek. Saya bukanlah penerima beasiswa dari perusahaan rokok, Saya pun merasa tidak pernah mendapat apapun dari perusahaan kretek. Ketika pendukung kretek makin lama makin kalian nistakan, sesungguhnya yang terpikir di benak saya hanya tetangga-tetangga saya yang bekerja sebagai buruh kretek, orangtua teman-teman saya yang bisa menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi, dan 45% penduduk kota saya yang menggantungkan hidupnya dapa komoditas kretek.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Susanto (flickr)

Tembakau adalah Kultur Masyarakat Bali

Komang Armada, seorang petani di Bali, merasa aneh mengapa orang dengan berisiknya menyucapkan “Hari Ini Sedunia”, “Hari Itu Sedunia”, dan yang paling tak dimengerti dan menyengatnya hadirnya peringatan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”.

Mendengar seruan Anti Tembakau tersebut Komang justru membayangkan wajah-wajah terperanjat para leluhurnya.

“Orang tua saya, kakek, nenek, dan entah berapa tetua saya di Bali adalah pengkosumsi tembakau level “hardcore”. Pendeknya, tembakau adalah kultur. Mereka mengosumsi sebagai rokok linting tradisional sebagai sisig (diemil berjam-jam, diyakini punya efek bagus buat tubuh), sebagai sarana sesajen, sebagai peringan sakit saat keselo/terkilir/salah urat, dan banyak lagi.“

Sumbet: Rokok Indonesia

Rokok dan Bulan Puasa

Pada bulan Ramadan begini ada yang menarik yang terjadi di sekitar kita. Seseorang meski menahan diri untuk menahan nafsu, amarah, makan dan minum, dan juga merokok.

Dalam pelaksanaan puasa semacam sekarang ini, seseorang muslim yang merokok juga diwajibkan untuk menahan diri tidak merokok sampai bedug Magrib terdengar. Jika diperhatikan, adakah saudara kita, handai taulan, dan kerabat, yang sampai sakaw ketika tidak merokok kurang lebih selama 14 jam itu?

Tentu tidak ada, karena aktivitas merokok tidak menimbulkan kecanduan bagi penggunaan. Aktivitas lebih tepat bila diletakkan sebagai kebiasaan sebagaimana seseorang yang suka minum kopi dan minum teh.

Sumber: Rokok Indonesia
Sumber foto: Eko Susanto (Flickr)

Nikotin Membunuh Kuman Penyebab Tuberculosis

Suatu hari, Nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan sebagai obat Tubercolosis atau TBC yang susah diobati, kata seorang peneliti dari University of Central Florida (UCF).

Senyawa dari nikotin menghentikan pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila digunakan dalam jumlah kecil saja, kata Saleh Naser, seorang profesor dari mikrobiologi dan molokuler dari UFC.

Itu sebabnya, mengapa sulit sekali perokok yang terserang TBC.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Bila Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang merokok!”

Begitu aturan yang diberlakukan di Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdol.

Gus Dur bercerita kejadian di suatu malam, ketika aliran listrik ke pesantren itu tiba-tiba terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri yang tak bisa belajar segera mencari hal untuk mengisi waktu luang, ada yang tiduran dan ada juga yang mencari udara segar.

Di luar sebuah bangunan, ada seorang duduk-duduk sambil mengisap rokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa santri itu kepada seorang yang asyik merokok. Seorang yang merokok tadi agak sungkan ada orang yang mengetahui merokok, maka ia memberikan rokoknya untuk dihisap bersama. Saat dihisap, bara rokok itu membesar sehingga wajah si pemberi rokok samar-samar terlihat.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjaman. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak si pemberi pinjaman rokok, yang ternyata Kiai Fattah.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)