Rokok Mencegah Penularan Infeksi Helicobacter pylori

Rokok Mencegah Penularan Infeksi Helicobacter pylori

Manfaat Rokok – Penelitian mengungkap hubungan terbalik yang kuat antara seorang ibu yang merokok dan ibu yang tidak merokok terkait infeksi Helicobacter pylori di antara anak-anak prasekolah.

manfaat rokok

Untuk mengavaluasi hipotesis ini lebih lanjut, dilakukan studi berbasis populasi di mana infeksi H. Pylori diukur dengan 13C- urea breath test (tes kandungan urea pada nafas) dalam 979 anak-anak prasekolah dan ibu-ibu yang merokok, dengan menggunakan kuesionier standar.

manfaat rokok

Secara kesuluran 9,8% (93 dari 947) dari anak-anak dan 34,7% (329 dari 947) dari ibu-ibu telah terinfeksi. Prevalansi (rasio jumlah kejadian penyakit dengan unit pada populasi berisiko) infeksi jauh lebih rendah di antara anak-anak dari ibu yang tidak terinfeksi (1,9%) dibandingkan dari ibu yang terinfeksi (24,7%).

manfaat rokok

Ada hubungan terbalik yang kuat infeksi dengan ibu yang merokok (odds rasio atau penyimpangan disesuaikan = 0,24, interval kepercayaan 95% = 0,12-0,49) di antara anak-anak dari ibu yang terinfeksi. Hasil ini mendukung hipotesis dari peran utama untuk penularan ibu-anak berupa H. Pylori menjadi kirang efisien jika si ibu merokok.

Sumber gambar: Eko Susanto

Advertisements

Peneliti Inggris Ungkap Perokok Berat Bisa Miliki Paru-Paru Sehat

Peneliti Inggris Ungkap Perokok Berat Bisa Miliki Paru-Paru Sehat

Sebuah misteri tentang manfaat rokok telah terungkap, para ilmuwan Inggris telah mengungkapkan bahwa meskipun dalam seumur hidupnya seseorang merokok, beberapa orang juga bisa memiliki paru-paru yang sehat.

Penelitian ini menganalisis lebih dari 50.000 orang dan menunjukkan ada mutasi DNA orang yang bisa meningkatkan fungsi paru-paru dan menutupi risiko mematikan dari merokok.

manfaat rokok
manfaat rokok

Para ilmuwan Medical Research Council mengatakan, temuan ini dapat menjadi obat baru untuk meningkatkan fungsi paru-paru. Tapi, menurut mereka, tetap saja tidak merokok adalah pilihan terbaik.

Namun, menurut salah seorang peneliti di Univeristas of Leicester, Profesor Martin Tobin, hal terbaik yang bisa dilakukan orang yang bisa berdampak pada kesehatan mereka di masa depan terkait penyakit paru-paru kronik atau penyakit lain seperti kanker dan penyakit hati adalah dengan berhenti merokok.

manfaat rokok
manfaat rokok

Menurutnya, tidak semua prokok mengalami infeksi paru-paru. Tapi, penyakit ini juga ditemukan pada orang-orang yang sama sekali belum pernah menyentuh rokok selama hidupnya.

Dalam penelitian ini para peneliti menganalisa data kesehatan dan genetika dalam jumlah besar dari relawan dalam proyek Biobank di Inggris.

Foto oleh : Eko Susanto

Benarkah Paru-paru Hitam di Bungkus Rokok Milik Perokok?

Sejak Juni 2014, bungkus rokok di Indonesia meski mencantumkan gambar peringatan yang mengerikan. Dada terbelah, paru-paru terlihat warna coklat cenderung menghitam. Tentu saja, gambar itu hasil olah Photoshop untuk menakut-nakuti para perokok.

Tetapi benarkah gambar paru-paru yang menghitam itu milik perokok?

Lauren A. Colby melalui penelitiannya yang dibukukan dalam In Defense of Smokers menyangkal jika gambar paru-paru yang berwarna coklat itu sebagai akibat dari akumulasi bertahun-tahun kosumsi tar dan nikotin. Dari sumber dua ahli otopsi, Wray Kephart dan Ed Uthman M.D, Colby tahu paru-paru coklat atau hitam sebagai akibat kosumsi rokok adalah mitos belaka.

Kephart maupun Uthman menegaskan, dari hasil otopsi medis sangat tidak mungkin diketahui, apakah almarhum merupakan seorang perokok atau bukan. Sementara foto yang sering dijadikan bukti rusaknya paru-paru para perokok tersebut, menurut kedua sumber tersebut adalah foto paru-paru orang yang terkena kanker paru-paru dan tak ada persoalan dengan apakah ia perokok atau tidak.

Skeptisme dan kritisme Colby atas kebenaran propaganda antirokok bermula dari pengalamannya mengamati kampanye pemerintah Amerika memerangi HIV AIDS ketika ia bekerja di Lembaga Komunikasi Pemerintah Washngton DC. Persis sebagaimana kasus AIDS, Colby melihat ada lembaga kesehtan yang berwenang di Amerika yang menentukan bagaimana sebuah paradigma pengetahuan disusun dan dikontrol, yang tidak membolehkan adanya pendaat dari luar.

Di sini sudah jelas, bahwa lembaga-lembaga yang berwenang itu secara teratur mengelola buku-buku dengan menyulap data statistik dan data-data lain, merapikan dan memotong di sana-sini untuk membuktikan bahwa “pengetahuan resmi” yang benar.

Tujuan dan kepentinganya apa? Menurut Colby, jawabannya datang dengan suara keras dan jelas: bukan lain adalah UANG.

Lalu di Indonesia? Hahaha, bukannya kita hanya pecundang yang hanya mengimpor pengetahuan dari lembaga berwenang di Amerika sana.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Tak Ada Kaitan Rokok dan Kanker Paru-paru

Propaganda rokok sebagai penyebab timbulnya kanker paru-paru dibantah oleh Lauren A. Colby melalui penelitian yang kemudian dirangkum dalam buku In Defense of Smokers.

Colby menemukan banyak kejanggalan atas praktik brutal proganda dan data-data statisik yang dipublikasikan oleh antirokok. Menurutnya, kita tahu tak semua perokok menderita kanker paru-paru. Sebaliknya kita juga tahu, banyak orang yang tidak merokok sepanjang hidupnya, namun justru sakit kanker paru-paru di usia dini dan meninggal karena sakit itu.

Dengan meneliti data-data statistik “The Oxfort Atlas of the World” (1992) tentang tingkat kosumsi rokok di banyak negara, dan menginterpolarisasi dengan laporan Bank Dunia (1990) terkait tingkat prevelensi penyakit kanker / Lung Cancer Death Rates (LCDR) di sejumlah negara, Colby justru tiba pada kesimpulan sebaliknya. Colby menemukan fakta, bahwa Jepang, seperti juga Hongaria, adalah negara yang memiliki tingkat rata-rata kosumsi rokok tertinggi di dunia.

Namun berbeda dengan Hongaria yang memiliki angka LCDR laki-laki sebesar 2,4 %; perempuan 0,5 %, namun Jepang justru memiliki rasio sangat rendah, LCDR untuk laki-laki sebesar 0,5 % dan perempan 0,2 %. Angka ini hanya sekitar seperlima rata-rata Hongaria, atau sekitar sepertiga rata-rata Amerika Serikat.

Tanpa terkecuali China, di negara Tirai Bambu itu, bahkan pemerintah menanam tembakau dan banyak menerima pemasukan dari penjualan rokok perusahaan plat merah, Merujuk data Bank Dunia (1988), angka LCDR China hampir sama dengan Jepang, yaitu 0,56 % untuk laki-laki dan 0,39 % perempuan.

Walaupun memiliki angka rata-rata merokok tinggi, orang Jepang dan China sangatlah sehat. Artinya, bisa dikatakan dengan pasti di Jepang dan China merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru. Karena seandainya merokok pasti menjadi penyebab kanker paru-paru, tentu rasio LCDR kedua negara yang dihuni banyak perokok berat pasti memiliki prosentase tinggi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Peneliti: Tembakau Bermanfaat untuk kehidupan

“Tak banyak yang tahu jika tembakau mengandung banyak komponen bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan,” begitu kata Toto Sudargo, peniti dari Universias Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam sebuah seminar “Tembakau untuk Kehidupan” di Jember.

Menurut Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.

Selain itu, kata dia, di dalam daun tembakau juga terdapar vitamin C atau asma askorbat yang menjadi antioksidan dan dapar bereaksi dengan antiradical bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. “Selain itu, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik,” katanya.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Nikotin Membunuh Kuman Penyebab Tuberculosis

Suatu hari, Nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan sebagai obat Tubercolosis atau TBC yang susah diobati, kata seorang peneliti dari University of Central Florida (UCF).

Senyawa dari nikotin menghentikan pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila digunakan dalam jumlah kecil saja, kata Saleh Naser, seorang profesor dari mikrobiologi dan molokuler dari UFC.

Itu sebabnya, mengapa sulit sekali perokok yang terserang TBC.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Bila Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang merokok!”

Begitu aturan yang diberlakukan di Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdol.

Gus Dur bercerita kejadian di suatu malam, ketika aliran listrik ke pesantren itu tiba-tiba terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri yang tak bisa belajar segera mencari hal untuk mengisi waktu luang, ada yang tiduran dan ada juga yang mencari udara segar.

Di luar sebuah bangunan, ada seorang duduk-duduk sambil mengisap rokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa santri itu kepada seorang yang asyik merokok. Seorang yang merokok tadi agak sungkan ada orang yang mengetahui merokok, maka ia memberikan rokoknya untuk dihisap bersama. Saat dihisap, bara rokok itu membesar sehingga wajah si pemberi rokok samar-samar terlihat.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjaman. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak si pemberi pinjaman rokok, yang ternyata Kiai Fattah.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)