Nikotin Membunuh Kuman Penyebab Tuberculosis

Suatu hari, Nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan sebagai obat Tubercolosis atau TBC yang susah diobati, kata seorang peneliti dari University of Central Florida (UCF).

Senyawa dari nikotin menghentikan pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila digunakan dalam jumlah kecil saja, kata Saleh Naser, seorang profesor dari mikrobiologi dan molokuler dari UFC.

Itu sebabnya, mengapa sulit sekali perokok yang terserang TBC.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Bila Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang merokok!”

Begitu aturan yang diberlakukan di Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdol.

Gus Dur bercerita kejadian di suatu malam, ketika aliran listrik ke pesantren itu tiba-tiba terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri yang tak bisa belajar segera mencari hal untuk mengisi waktu luang, ada yang tiduran dan ada juga yang mencari udara segar.

Di luar sebuah bangunan, ada seorang duduk-duduk sambil mengisap rokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa santri itu kepada seorang yang asyik merokok. Seorang yang merokok tadi agak sungkan ada orang yang mengetahui merokok, maka ia memberikan rokoknya untuk dihisap bersama. Saat dihisap, bara rokok itu membesar sehingga wajah si pemberi rokok samar-samar terlihat.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjaman. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak si pemberi pinjaman rokok, yang ternyata Kiai Fattah.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Teka-teki Kematian Perokok

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempunyai seorang kawan yang masuk dalam kategori perokok berat. Ke manapun dia pergi akan selalu dibawanya dua bungkus rokok. Yas, namanya. Kamar mereka bersebelahan di Mesir, semasa Gus Dur masih bersekolah.

Suatu hari, Gus Dur mencoba menegur kawannya itu, “Yas, apa kamu enggak pernah baca tulisan di majalah bahwa tiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik?”

Gus Dur belum selesai, ia meneruskan, “Sekarang coba kamu itung sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu.”

Sambil menyulut sebatang rokok lagi, Yas menimpali, “Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati.”

Inilah teka-teki kematian perokok.

Sumber: Rokok Indonesia

Merokok Mengurangi Risiko Parkinson

Ada banyak bukti bahwa merokok melawan penyakit parkinson. Tapi, sebenarnya aktivitas merokok bukan hanya melawan penyakit parkinson. Bagi yang sehat, merokok bisa mengurangi risiko seseorang terserang penyakit parkinson.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr Tanner terhadap 113 pasangan kembar laki-laki melihat pengaruf positif merokok terhadap Parkinson Desease. Dalam penelitian yang dipublikasi dalam Smoking and Parkinson’s disease in twins ini melihat perbedaan yang signifikan ketika dosis dihitung sampai 10 atau 20 tahun sebelum diagnosis.

Secara khusus penelitian ini menunjukkan hubungan temporal antara kebiasaan merokok dan berkurangnya risiko parkinson. Artinya, efek perlindungan terhadap parkinson berkurang setelah perokok menghentikan kebiasaan merokoknya.

Dalam kesimpulannya, temuan ini menyangkal pernyataan bahwa orang yang merokok cenderung memiliki parkinson.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Perokok Lebih Kuat dan Cepat Sembuh dari Serangan Jantung dan Stroke

Kebiasaan merokok yang membuat seseorang lebih mampu bertahan terhadap restenosis atau penyempitan pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah menjadi terbatas, seperti pembuluh darah ke jantung (Cardiovaskular disease) atau ke otak (stroke). Itu sebabnya, perokok memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup dan penyembuhan yang lebih cepat.

Penelitian lain menyebutkan karbon monoksida dapat mengurangi serangan jantung (Myocardinal infarction) dan stroke. Karbon monoksida merupakan produk sampingan dari asap tembakau. Sebuah laporan menunjukkan tingkat sangat rendah dari karbon monoksida dapat membantu orang dari serangan jantung stroke.

Karbon monoksida menghambat pembekuan darah, sehingga melarutkan gumpalan berbahaya di pembuluh arteri. Para peneliti memfokuskan pada kemiripan yang dekat antara karbon monksida dengan oksida nitrat yang menjaga pembuluh darah tetap melebar dan mencegah penumpukan sel darah putih.

Barubaru ini oksida nitrat telah ditingkatkan statusnya dari polutan udara biasa menjadi penghubung terpenting kedua secara internal. Oleh karena itu tidak akan mengherankan kalau karbon monoksida secaa paradoks dapat menyelamatkan paru-paru dar cidera akibat penyumbatan pembuluh darah ke jantung (Cardiovascullar blockage).

Sumber: The Carbon Monoxide Paradox dan Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Tom Waits: Kopi dan Rokok

rokok indonesia

Thomas Alan Waits atau lebih dikenal dengan Tom Waits mempunyai kebiasaan merokok, entah rokok atau cerutu, yang membuatnya memiliki suara khas, agak berat dan serak.

Penyanyi kharismatik ini pernah pula melontarkan pertanyaan kepada Iggy Pop di sebuah kedai kopi, dalam film Coffee and Cigarettes: Somewhere in California. “We’re really the coffee and cigarettes generation, when you think about it.”

Dan, di lain kesempatan ia juga bercanda tentang kematian seperti apa yang dikampanyekan oleh para antirokok, dan biasanya demi alasan kesehatan dan perhitungan kematian para perokok yang seolah ilmiah memperhitungkan takdir Tuhan.

“Kenapa harus khawatir tentang sesuatu yang akan membunuhmu 10 tahun lagi, saat ada banyak hal yang bisa membunuhmu hari ini,” kata Tom Waits.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (flickr)