Blokosutho, Produk Rokok Mandiri Tarekat Shiddiqiyyah

Blokosutho, Produk Rokok Mandiri Tarekat Shiddiqiyyah

“Blokosutho adalah Bahasa Jawa yang berarti keterbukaan atau apa adanya. Di dalam rokok ini mengandung obat adapun gambar yang ditampilkan di cover depan tidak ada hubungannya dengan kandungan rokok ini.”

Itulah kalimat yang tertera di bungkus rokok obat Blokosutho produksi Majmaal Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman, salah satu Tarekat Shiddiqiyyah di Jombangi.

rokok blokosutho

Rokok obat sebenarnya bukan hal baru, karena sebelumnya ada produk Divine Kretek yang juga menyatakan bekerja secara nanoteknologi sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup penggunannya. Tetapi keberadaan rokok Blokosutho ini diterima oleh masyarakat, khususnya anggota Tarekat Shiddiqiyyah.

rokok

rokok

Menurut Muklis (32) warga Soerudji, Kepanjen, Kabupaten Malang, membeli rokok karya KH Muhammad Muktar Mukti, mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, sekaligus bentuk kepeduliaan sosial religinya. “Karena setahu saya hasil penjualan dari rokok maupun rokok lain dari Sehat Tentrem (ST) yang dikelola oleh Tarekat Shiddiqiyyah juga diperuntukkan untuk dana pembangunan rumah layak huni (RHL) masyarakat,” katanya seperti dikutip malangtimes.com.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Advertisements

Benarkah Paru-paru Hitam di Bungkus Rokok Milik Perokok?

Sejak Juni 2014, bungkus rokok di Indonesia meski mencantumkan gambar peringatan yang mengerikan. Dada terbelah, paru-paru terlihat warna coklat cenderung menghitam. Tentu saja, gambar itu hasil olah Photoshop untuk menakut-nakuti para perokok.

Tetapi benarkah gambar paru-paru yang menghitam itu milik perokok?

Lauren A. Colby melalui penelitiannya yang dibukukan dalam In Defense of Smokers menyangkal jika gambar paru-paru yang berwarna coklat itu sebagai akibat dari akumulasi bertahun-tahun kosumsi tar dan nikotin. Dari sumber dua ahli otopsi, Wray Kephart dan Ed Uthman M.D, Colby tahu paru-paru coklat atau hitam sebagai akibat kosumsi rokok adalah mitos belaka.

Kephart maupun Uthman menegaskan, dari hasil otopsi medis sangat tidak mungkin diketahui, apakah almarhum merupakan seorang perokok atau bukan. Sementara foto yang sering dijadikan bukti rusaknya paru-paru para perokok tersebut, menurut kedua sumber tersebut adalah foto paru-paru orang yang terkena kanker paru-paru dan tak ada persoalan dengan apakah ia perokok atau tidak.

Skeptisme dan kritisme Colby atas kebenaran propaganda antirokok bermula dari pengalamannya mengamati kampanye pemerintah Amerika memerangi HIV AIDS ketika ia bekerja di Lembaga Komunikasi Pemerintah Washngton DC. Persis sebagaimana kasus AIDS, Colby melihat ada lembaga kesehtan yang berwenang di Amerika yang menentukan bagaimana sebuah paradigma pengetahuan disusun dan dikontrol, yang tidak membolehkan adanya pendaat dari luar.

Di sini sudah jelas, bahwa lembaga-lembaga yang berwenang itu secara teratur mengelola buku-buku dengan menyulap data statistik dan data-data lain, merapikan dan memotong di sana-sini untuk membuktikan bahwa “pengetahuan resmi” yang benar.

Tujuan dan kepentinganya apa? Menurut Colby, jawabannya datang dengan suara keras dan jelas: bukan lain adalah UANG.

Lalu di Indonesia? Hahaha, bukannya kita hanya pecundang yang hanya mengimpor pengetahuan dari lembaga berwenang di Amerika sana.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Tak Ada Kaitan Rokok dan Kanker Paru-paru

Propaganda rokok sebagai penyebab timbulnya kanker paru-paru dibantah oleh Lauren A. Colby melalui penelitian yang kemudian dirangkum dalam buku In Defense of Smokers.

Colby menemukan banyak kejanggalan atas praktik brutal proganda dan data-data statisik yang dipublikasikan oleh antirokok. Menurutnya, kita tahu tak semua perokok menderita kanker paru-paru. Sebaliknya kita juga tahu, banyak orang yang tidak merokok sepanjang hidupnya, namun justru sakit kanker paru-paru di usia dini dan meninggal karena sakit itu.

Dengan meneliti data-data statistik “The Oxfort Atlas of the World” (1992) tentang tingkat kosumsi rokok di banyak negara, dan menginterpolarisasi dengan laporan Bank Dunia (1990) terkait tingkat prevelensi penyakit kanker / Lung Cancer Death Rates (LCDR) di sejumlah negara, Colby justru tiba pada kesimpulan sebaliknya. Colby menemukan fakta, bahwa Jepang, seperti juga Hongaria, adalah negara yang memiliki tingkat rata-rata kosumsi rokok tertinggi di dunia.

Namun berbeda dengan Hongaria yang memiliki angka LCDR laki-laki sebesar 2,4 %; perempuan 0,5 %, namun Jepang justru memiliki rasio sangat rendah, LCDR untuk laki-laki sebesar 0,5 % dan perempan 0,2 %. Angka ini hanya sekitar seperlima rata-rata Hongaria, atau sekitar sepertiga rata-rata Amerika Serikat.

Tanpa terkecuali China, di negara Tirai Bambu itu, bahkan pemerintah menanam tembakau dan banyak menerima pemasukan dari penjualan rokok perusahaan plat merah, Merujuk data Bank Dunia (1988), angka LCDR China hampir sama dengan Jepang, yaitu 0,56 % untuk laki-laki dan 0,39 % perempuan.

Walaupun memiliki angka rata-rata merokok tinggi, orang Jepang dan China sangatlah sehat. Artinya, bisa dikatakan dengan pasti di Jepang dan China merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru. Karena seandainya merokok pasti menjadi penyebab kanker paru-paru, tentu rasio LCDR kedua negara yang dihuni banyak perokok berat pasti memiliki prosentase tinggi.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah perkenalan bangsa Eropa dengan rokok

Kehadiran Columbus dari Amerika membawa orang Eropa berkenalan dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal dalam kehidupan mereka. Ketiga jenis fenomena baru ini mereka ketahui lewat orang Indian, penduduk asli Amerika, yang jauh sebelum kedatangan Columbus telah merasakan nikmatnya mengunyah tembakau, menghisap rokok dan cerutu.

Peristiwa bersejarah yang membuat bangsa Eropa berkenalan dengan tembakau terjadi pada 1492, seusai Columbus dan rombongannya mendarat di pulau San Salvador atau pulau Walting, setelah sekian lama berlayar mengarungi lautan Atlantik. Ketika rombongan Columbus berlayar kembali ke arah barat daya, mereka menjumpai sebuah perahu lesung orang Indian berisi muatan, di antaranya daun-daun kering yang dibelakang hari dikenal sebagai tembakau.

Pemakaian tembakau sendiri untuk pertama kalinya dilihat oleh dua orang utusan yang dikirimkan rombongan Columbus ke pantai Cuba, atau menurut sejarah yang lain, telah dikirimkan Columbus ke Hispaniola (Santo Domingo). Utusan tersebut bertemu dengan banyak membawa kayu bakar dan bungkusan-bungkusan berisi daun pengobat yang telah dikeringkan dan digulung dalam selembar daun kering. Orang-orang ini menghisap gulungan daun tersebut sambil menerangkan, perbuatan mereka ini bisa menimbulkan kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat mereka mabuk dan mengantuk, namun juga bisa mengurangi kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat seperti mabuk dan mengantuk, juga bisa mengurangi kelelahan. Gulungan daun yang sungguh bermanfaat ini mereka sebut “tobacco”.

Di samping itu ada sesi kisah bagaimana awak Columbus menemukan rokok. Peristiwanya terjadi setelah mereka mendarat di pulau Guanahani (San Salvador), di mana mereka melihat orang-orang Indoan mengulung sejenis rempah-rempah yang telah dikeringkan dalam sepotong kecil daun jagung, hingga menghasilkan gulungan kecil berbentuk silinder. Salah satu gulungan tersebut disulut api, sedangkan asapnya dihisap dari ujung lainnya.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Resep Umur Panjang Perokok

Mark Twain, satrawan yang terkenal melalui karyanya Petualang Tom Sawyer dan menjadi acuan bagi para penulis dunia ini, punya cerita tentang resep umur panjang.

Pada perayaan ulang tahunnya yang ke 70 tahun, dan barangkali tertawa sambil mengisap tembakau ia menuliskan resep umur panjangnya demikian:

“Saya telah mencapai umur tujuh puluh dengan cara biasa: dengan mengikuti secara ketat jalan kehidupan yang mungkin akan membunuh orang lain. Kedengarannya seperti berlebihan, tetapi ini benar-benar aturan umum untuk mencapai usia tua. Ketika kita meneliti dari setiap orang tua yang cerewet, kita selalu menemukan bahwa kebiasaan yang telah membuat mereka bertahan mungkin akan membusukkan kita… Saya tawarkan di sini sebuah dugaan… bahwa kita tidak dapat mencapai usia tua lewat jalan orang lain…

Saya telah membuat suatu aturan untuk tidak merokok lebih dari satu cerutu pada satu waktu. Saya tidak memiliki pembatasan lain soal merokok. Saya tidak tahu kapan saya mulai merokok. Saya hanya tahu bahwa itu berlangsung selama ayah saya masih hidup dan saya merokok diam-diam. Beliau meninggal pada awal tahun 1847, ketika saya melewati umur sebelas tahun.

Sejak saat itu saya merokok terang-terangan. Sebagai contoh untuk orang lain, dan bukan karena saya peduli untuk membatasi diri, saya selalu mempraktekkan untuk tidak tidur dan tidak pernah menahan diri ketika terjaga. Ini merupakan praktek yang baik. Maksud saya, bagi saya, tetapi beberapa dari Anda mengetahui dengan baik bahwa itu tidak akan menjawab pertanyaan semua orang yang mencoba mencapai umur tujuh puluh tahun…

Hari ini, sudah enam puluh tahun saya mulai merokok hingga kini.”

Foto: Eko Susanto (Flickr)

Sumber: Rokok Indonesia

Manfaat Tembakau untuk Melepas Gigitan Lintah

Bagi Anda yang mempunyai hobi mendaki gunung, menyurusi hutan, atau berkelana di alam. Ada baiknya untuk membawa rokok. Rokok yang berbahan utama tembakau tersebut bisa Anda manfaatkan, walaupun Anda bukanlah seorang perokok.

Terlebih bila di alam bebas, Anda tergigit oleh lintah yang mengisap darah Anda. Kandungan Neurotoxin dari tembakau akan sangat membantu untuk melepaskan gigitan lintah.

Anda tinggal membalurkan tembakau dari rokok yang Anda bawa itu, atau bisa juga dicampurkan dengan air dan usapkan di bagian tubuh yang sedang digigit lintah. Dan biarkanlah lintah itu melepaskan gigitannya dan tanpa melukai bagian dari tubuh Anda.

Foto: Eko Susanto (flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Manfaat Tembakau sebagai Obat Luka

Nicotiana tombacum ternyata memiliki banyak manfaat tak seperti yang dikampanyekan oleh lembaga kesehatan. Salah satunya ialah untuk menyebuhkan luka terutama untuk membunuh kuman yang bersarang bagian tubuh yang terluka.

Caranya dengan menggunakan sekitar 25 gram daun segar tembakau, dicuci dan ditumbuk sampai lumat. Kemudian ditambah minyak tanah sekitar 25 ml, campurkan, lali diperas dan disaring. Kemudian oleskan pada bagian tubuh yang luka.

Foto: Eko Susanto (Flickr)
Sumber: Rokok Indonesia