10 Bintang Sepakbola Ini Bersinar dengan Rokok

Rokok sering dijadikan barang “haram” dalam industri olahraga, termasuk sepakbola. Namun, bukan berarti tidak ada pesepakbola yang merokok. Ada beberapa nama tenar bintang bola yang punya kebiasaan merokok.

Menariknya rokok tidak membuat mereka gagal dalam berprestasi. Soal prestasi tidak ada yang meragukan seorang Zinedine Zidane, dia bermain di dua final piala dunia, dan ternyata adalah seorang perokok. Berikut 10 bintang sepakbola yang hidup dengan rokok:

  1. Socrates (Brasil, 1974-2004): dua bungkus sehari
  2. Gianluca Vialli (Italia, 1980-199): Merokok hingga di pinggir lapangan
  3. Johan Cruijff (Belanda, 1964-1984): 20 batang rokok sehari
  4. Robert Prosinecki (Kroasia, 1986-2004): 40 batang rokok sehari
  5. Fabien Barthez (Prancis, 1990-2007): dua bungkus sehari
  6. Zinedine Zidane (Prancis, 1989-2006): satu setengah bungkus sehari
  7. Osvaldo Ardiles (Argentina, 1973-1991): 40 batang rokok sehari
  8. Dimitar Berbatov (Bulgaria, 1998-sekarang): 2 bungkus sehari
  9. Wayne rooney (Inggris, 2002-sekarang): dua bungkus sehari
  10. Mario Balotelli (Italia, 2006-sekarang): dua bungkus sehari

via rokokindonesia.com http://www.rokok.in/2014/11/10-bintang-sepakbola-ini-bersinar.html

Rokok dan Pernikahan

Rokok

Pada beberapa desa di Jawa, budaya ini masih hidup, terutama jelang hajatan pernikahan. Undangannya biasa disampaikan lewat medium rokok, ada yang berupa satu bungkus rokok ada pula sebatang rokok. Bloger Kompasiana, Agus Supriyatna pernah menceritakan perihal kebiasaan seperti ini. Berseting di Desa Citenjo, Kabupaten Kuningan. Begini petikanya:

“…Namun bagi yang dekat, katakanlah untuk yang sekampung, undangan bukan dalam bentuk cetakan. Misalnya, undangan dari si mempelai pria, berbentuk sebatang rokok. Tapi bila, dari si mempelai perempuan, seringnya shampo…”

Rokok juga disuguhkan pada acara-acara pernikahan atau hajatan lainnya. Ditempatkan pada wadah gelas, para tetamu undangan dipesilakan mengambil rokok secara percuma. Seperti pada gambar.

Sumber: http://rokokindonesia.com/rokok-dan-pernikahan
Gambar: Gambar Rokok di Flickr

via rokokindonesia.com http://www.rokok.in/2014/11/rokok-dan-pernikahan.html

Bung Karno: Antara Rokok dan Korek Api

H. Mangil Martowidjojo, adalah mantan Komandan Detasemen Kawal Pribadi, yang bertugas mengawal Presiden Indonesia pertama Soekarno. Mangil pernah menuliskan kenangannya terkait sosok Bung Karno dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno 1945 – 1967.

Salah satunya Mangil mengutip wejangan Bung Karno soal rokok dan korek api. Lebih kurang, Bung Karno beranggapan bahwa pahala akan diberikan kepada seseorang yang memberikan korek api kepada seorang perokok yang hendak menyulut rokok dan tengah kesulitan mencari pemantik. Berikut petikan kalimat bung karno itu:

“Mangil, kamu itu selalu dekat Bapak. Ibaratnya kamu harus selalu memegang baju Bapak sebelah belakang. Maka dari itu, kamu supaya selalu membawa sakarin dan korek api. Sungguh pun yang minta api itu bukan saya, tetapi orang lain. Kamu memberikan api kepada orang yang akan merokok, kamu dapat pahala.”

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1tH2LER

6 Aturan Sosial Bagi Perokok



Rokok (terkhusus kretek) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial. Dengan rokok, percakapan dimulai hingga menghangat. Bersama rokok, ada keakraban dan solidaritas. Di balik soal-soal pergaulan itu, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan oleh perokok. Komunitas Kretek pernah menulis enam aturan tidak tertulis yang mesti diketahui oleh perokok. Berikut penjelasannya:

1. Keluarkan Rokok dari Saku Anda
Ketika para perokok bertemu dan berbincang-bincang, mereka biasanya akan mengeluarkan rokok milik mereka masing-masing. Dikeluarkannya bungkus rokok, bisa dibaca sebagai pertanda dari si empunya guna mempersilahkan teman-teman yang lain menikmati rokok miliknya.

2. Jangan Taruh Pemantik di atas Bungkus Rokok
Pemantik atau korek api adalah benda yanga bisa dibilang selalu dikeluarkan bersama rokok. Sadar atau tidak, kebanyakan orang sering menempatkan korek api di atas bungkus rokok. Padahal, untuk sebagian orang, hal itu dianggap sebagai simbol eksklusivitas. Artinya, korek api di atas bungkus rokok menjadi peringatan agar tidak mengambil rokok di bungkus tersebut.

3. Pahami Kebiasaan Unik Teman
Anda mungkin pernah menemukan seseorang yang suka membalik posisi satu atau dua batang rokok di dalam bungkusnya. Jika dalam sebuah kesempatan Anda ketemu dan nongkrong dengan orang seperti itu, lebih baik hindari untuk mengambil rokok dalam posisi terbalik itu. Tentu ada banyak alasan, misal konon rokok yang terbalik memang sengaja ditandai agar bisa diisap si empunya. Ada juga yang menyebut itu sebagai rokok “make a wish” yang hanya boleh dihisap pemilik rokok.

4. Izin Sebelum Meminta Rokok
Memang, rokok yang dipersilahkan telah berubah dari milik pribadi menjadi milik bersama. Tapi dalam pergaulan selalu ada sopan-santung. Minta izin terlebih dahulu kepada pemilik sebelum mengambil rokok, meski terkesan basa-basi.

5. Jangan Ambil Rokok Terakhir
Ketika ngumpul, kadang kala kita terpaksa menghisap menyulut rokok dari bungkus kepunyaan teman. Kondisi seperti ini bisa terjadi semisal katakanlah rokok kepunyaan kita ternyata habis sepanjang obrolan. Ada satu hal yang mesti diperhatikan, jika terpaksa menghisap rokok punya kawan: bila tinggal sebatang, sebaiknya jangan dihisap; dalam kondisi ‘mendesak’ mintalah izin kepada pemiliknya, sebelum menyulut.

6. Posisi Rokok
Ketika asik ngobrol, tak jarang kita kehilangan pemantik, dan akhirnya memaksa untuk “meminjam api” dari batang rokok punya kawan. Ada yang perlu diperhatikan dalam proses memberikan rokok: berikan rokok pada ujung isap, jangan sampai memberikan bara (ujung bakar). Fungsinya jelas: menghindari sundutan rokok yang tidak diinginkan.

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1uF8E9o

APTI Protes Kebijakan Rokok Polos Australia

Melanjutkan mandat yang diterima pada Hari Petani Tembakau Sedunia (29 Oktober 2014) di Pamekasan – Madura, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyampaikan aspirasinya melalui aksi damai di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Perwakilan petani tembakau Indonesia menyerukan dukungannya terhadap posisi pemerintah yang telah mengajukan protes resmi kepada Pemerintah Australia. Terkait, kebijakan kemasan polos rokok (Plain Packaging) yang telah diterapkan di Australia semenjak Desember 2012.

Aksi damai ini dilakukan bertepatan dengan proses litigasi kebijakan kemasan polos rokok di Australia yang sedang ditangani oleh Badan penyelesaian Sengketa di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Seperti diketahui, pada pertengahan bulan Oktober yang lalu Pemerintah Indonesia telah menyampaikan dokumen tertulis pertama yang memuat argumentasi hukum bahwa kebijakan Australia itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan WTO.

“APTI percaya pemerintah Indonesia akan kembali memenangkan kasus sengketa dagang di WTO terkait kebijakan kemasan polos rokok yang diterapkan oleh pemerintah Australia. Bila kami diamkan, kebijakan ini dapat dipaksakan untuk diterapkan di Indonesia,” kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTI Suryana dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews.com, Kamis (6/11/2014).

Para petani membandingkan kasus ini dengan penjualan minuman keras asal Australia yang justru tak pernah dipersoalkan oleh pemerintah. Padahal, sudah jelas bahwa alkohol sama bahayanya dengan rokok. “Pada dasarnya kalau dibandingkan dengan alkohol kan kita tau, wine itu produk dari Australi, mengapa tidak dipersoalkan,” katanya.

Dalam pesan yang dibawakan oleh pimpinan APTI, seluruh petani tembakau Indonesia menyambut gembira akan upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam melindungi sektor tembakau nasional. Sekaligus memperjuangkan akses pasar produk tembakau Indonesia di pasar Internasional.

Sumber: http://ift.tt/10wtCcp

\Baca juga:
http://ift.tt/1uyS62x
http://ift.tt/1xaQ9bq

via rokokindonesia.com http://ift.tt/10wtE3T

4 Hal yang Membuat Rokok Putih Lebih Berbahaya

Berikut ini empat fakta soal bahaya rokok putih. Dari sini juga dapat dilihat kenapa jenis rokok putih mengancam industri nasional. Karenanya juga kita bisa melihat kadar nasionalisme seseorang dari jenis rokok yang dihisapnya.

Rokok putih menggunakan tembakau impor.
Rokok putih menggunakan tembakau yang dibudidayakan di luar negeri. Rokok putih menggunakan tiga jenis tembakau: Burley, Virginia, dan Turkish, masing-masing berasal dari Amerika dan daerah Mediterania. Ini miris, sebab Indonesia merupakan negara penghasil tembakau berkualitas terbaik di dunia. Ada lebih dari 100 varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia, dengan luas lahan lebih dari 250 ribu hektar.

Rokok putih tidak menggunakan cengkih atau rempah lain.
Rokok putih hanya menggunakan rajangan daun tembakau yang diberi aroma khusus. Berbeda dengan kretek yang menggunakan tambahan bahan yang khas nusantara, seperti cengkih dan klembak. Dengan demikian, keberadaan rokok putih bukan sekadar mengancam nasib petani tembakau, tapi juga para petani cengheh.

Produksi rokok putih menggunakan mesin dari proses awal sampai akhir.
Logika bisnis rokok putih mengandalkan efisiensi untuk menghasilkan produksi besar. Penggunaan mesin pun dibutuhkan, berimplikasi pada tercancamnya nasib buruh pembuat kretek tangan di Indonesia, yang saat ini jumlahnya mencapai 800.000 pekerja.

Bisnis rokok putih dimiliki asing.
Dengan dimiliki oleh asing, keuntungan yang diperoleh dari pasar Indonesia akan dibawa ke negara asal. Semisal perusahaan rokok asing di Indonesia seperti PT HM. Sampoerna dan PT Phillips Morris akan membawa keuntungannya ke Amerika.

Lawan Rokok Putih, Isap Kretekmu


via rokokindonesia.com http://ift.tt/1uzsBy8

Berkawan dengan Rokok Selama 60 tahun


Nani, 65 tahun, tinggal di Padang. Ia mencari nafkah dengan mengumpulkan barang bekas, atau yang jamak disebut sebagai ‘Mulung’, orang Padang menyebutnya ‘Maraok’. Nani seorang perokok berat. Ia mulai berkenalan dengan rokok sejak usia 5 tahun. Dengan kata lain ia telah berkawan bersama rokok selama 60 tahun. Jenis rokok-nya kretek, dengan merk 231. Dengan rokok-nya Nani hampir tidak punya masalah kesehatan di usianya yang terbilang uzur. Dia tetap segar-bugar, dan masih melakoni aktivitasnya, “sambil jalan, dorong becak (mencari barang bekas), sambil rokok terus,” jelasnya.

Sumber: http://ift.tt/1AonbZs

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1AoncwH

Jokowi Diminta Perhatikan Industri Rokok Kretek

Para pelaku usaha rokok kretek dan petani tembakau menyampaikan harapannya terkait Kabinet Kerja di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla. Ketua Umum Gabungan Perserikatan Rokok Indonesia (Gappri) Ismanu Sumiran meminta pemerintahan yang baru tetap memperjuangkan eksistensi produk rokok kretek. “Kami berharap pemerintahan baru memahami karakteristik kretek sebagai produk bangsa yang punya nilai budaya tinggi,” kata Ismanu di Jakarta, Selasa (4/11/2014).

Ismanu pun meminta dalam menelurkan program-program, tidak ada lagi ego sektoral antara kementerian. Salah satunya yang harus dihindari adalah upaya untuk memberangus industri rakyat ini dengan alasan kebijakan kesehatan. “Sebelumnya ego program kesehatan begitu kuat. Ada kepentingan dagang dibalik itu, misalnya keinginan industri farmasi asing untuk masuk serta pemain rokok asing yang tidak ingin tersaingi dengan rokok kretek khas Indonesia,” katanya.

Ia juga meminta, Jokowi untuk tidak meratifikasi aturan internasional seperti Konvensi mengenai Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan penerapan cukai rokok yang berlebihan. Keduanya dinilai akan memukul mundur industri kretek yang selama ini banyak memberi sumbangsih pada APBN, dan melibatkan sekitar 4,1 juta tenaga kerja.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Suryana menyampaikan, FCTC mengancam dan mengabaikan hak perekonomian petani tembakau. Salah satu ancaman pengendalian tembakau adalah larangan penggunaan bahan tambahan, termasuk penggunaan cengkeh, dan penerapan kemasan rokok polos.

Jika pengendalian tembakau diterapkan, dampaknya akan negatif bagi kondisi sosial dan ekonomi masyakarat yang sudah menanam tembakau secara turun-temurun. Pemerintah Indonesia pun diminta untuk melakukan upaya-upaya dalam melindungi sektor tembakau nasional dan memperjuangkan akses pasar produk tembakau Indonesia di pasar internasional.

Bahkan, APTI memiliki keyakinan bahwa Pemerintah Indonesia akan memenangkan kasus sengketa dagang di World Trade Organizaton (WTO), terkait kebijakan kemasan rokok polos yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Sumber:
http://ift.tt/1GsjKBy
http://ift.tt/1Eeitw2
http://ift.tt/1DVYEYn

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1GsjJxw

Minuman Bersoda Lebih Berbahaya Dibanding Rokok

Sebuah studi menunjukkan jika mengonsumsi setengah liter minuman soda per hari memiliki efek lebih buruk dibanding rokok. Minuman bersoda berpengaruh pada penuaan sel dalam tubuh, menimbulkan penyakit, obesitas, diabetes, gangguan pencernaan, dan lain sebagainya.

“Konsumsi minuman bersoda secara rutin dapat memengaruhi perkembangan penyakit. Tidak hanya berpengaruh pada sistem metabolisme tubuh tetapi juga mempercepat penuaan jaringan sel,” ungkap Elissa Epel, peneliti senior sekaligus profesor jurusan Psikiatri University of California, San Francisco (UCSF), seperti dilansir The Times of India. Studi tentang efek buruk minuman bersoda ini telah dipublikasikan secara online melalui jurnal American Journal of Public Health –sila lihat Times.

Pertanyaan besar, kenapa meniman bersoda tak menyertakan peringatan bahaya, bila ternyata bahayanya sama (bahkan lebih buruk) dibanding rokok? Kenapa rokok –terutama rokok khas Indonesia, kretek– yang selalu disudutkan?

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1uod2J3

Log, Rock, dan Rokok

Mendengar nama Log Zhelebour, seperti mendengar nama seorang suci bagi pecinta musik rock di tanah air. Pemilik nama asli Ong Oen Log ini merupakan produser dan promotor musik rock kesohor di tanah air. Sejak akhir era 1970-an, dia mulai merintis karirnya di dunia ini. Dari tangannya lahir sejumlah nama besar, sebutlah: Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, El Palmas, Kaisar, Power Metal, Gank Pegangsaan, Boomerang, dan Jamrud.

Ia juga yang penggagas utama Festival Rock Se-Indonesia, yang jadi tolok ukur utama bagi musisi dan pecinta musik rok tanah air. Total sebanyak 11 kali (1984-2004) event akbar itu digelar. Alex Palit dalam tulisannya di blog Tribunners menulis bahwa Log mengaku mensyukuri, karena selama menggelar panggung pertujukkan rock ini selalu mendapat dukungan penuh dari pihak perusahaan rokok yang mensponsori. Bahkan hampir setiap event musik yang dibuatnya selalu didukung perusahaan rokok sebagai sponsor penyandang dana. Hubungan mutualisme ini ibaratnya sudah jadi satu kesatuan yang tidak terpisahkankan lagi, Log, Rock dan Rokok.

“Duit dari mana lagi kalau nggak pakai sponsor (rokok). Karena untuk biaya semuanya, nggak sanggup dari kocek pribadi, apalagi kalau cuma mengandalkan dari hasil penjualan tiket, nggak nutup,” katanya dengan logat Suroboyoan yang medok.

Dari catatan Wikipedia selama 10 tahun menggelar acara festival rock se-Indonesia, Log didukung oleh Djarum Super (8 kali), Gudang garam (2 kali), sekali oleh stasiun televisi Indosiar. Log, Rock, dan Rokok, telah memberi kontribusi besar bagi perkembangan skena musik rock tanah air.

Sumber: http://ift.tt/1DYQLBc

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1GjfNza