Maurizio Sarri: Rokok bisa Membuatnya Lebih Tenang dan Merasa Sehat

Maurizio Sarri: Rokok bisa Membuatnya Lebih Tenang dan Merasa Sehat

Maurizio Sarri banyak menjadi sorotan media karena ia sering terlihat membawa rokok di pinggir lapangan.

orang merokokPelatih sepakbola yang kini menjadi melatih di Juventus ini kembali membeberkan betapa pentingnya rokok untuk kehidupannya sehari-hari. Menurutnya. rokok bisa membuatnya lebih tenang dan juga membuat dirinya merasa sehat.

Mantan pelatih Napoli dan Chealsea ini mengutarakan bahwa dirinya bisa menghabiskan 60 batang rokok per harinya. Hal itu dirasakan perlu dilakukan untuk mengurangi rasa sakit di punggungnya.orang merokok

Sarri secara khusus dia tidak merasa perlu merokok selama pertandingam, tapi setelah pertandingan dia benar-benar merasa harus merokok.

Dia mengaku, tidak bisa lepas dari itu karena punya masalah di punggung yang sangat menyiksa. Tetapi, setelah merokok dia merasa lebih baik.

Kebiasaan merokok Sarri memang sempat tidak bisa dilakukan selama melatih Chelsea. Di sana ia mendapat larangan dari manajemen klub untuk tidak merokok selama pertandingan.

Kejadian lucu sempat terjadi saat perayaan Liga Europa Chelsea beberapa waktu lalu. Di sela-sela perayaan itu, pelatih asal Italia ini mengeluarkan cerutu dari sakunya dan membuat para pemain yang berada di sampingnya ikut tertawa melihatnya.

Advertisements

Jawa Timur Jadi Provinsi Penerima Dana Bagi Hasil Cukai Rokok Tertinggi

Jawa Timur Jadi Provinsi Penerima Dana Bagi Hasil Cukai Rokok Tertinggi

Kementerian Keuangan mencantumkan Jawa Timur sebagai provinsi yang paling banyak menerima jatah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT)

Keputusan ini tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Rincian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota tahun anggaran 2019.

rokok

Di tingkat kabupaten dan kota, penerima DBH CHT tertinggi adalah Kabupaten Pasuruan dengan nilai Rp177,53 miliar dan Kabupaten Kudus dengan nilai Rp158,06 miliar.

Sementara itu, kabupaten yang menerima nilai DBH CHT paling sedikit adalah 15 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan yakni Lahat, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Muara Enim, Ogan Komerin Ulu, Ogan Komering Ilir, Palembang, Pagar Alam. Lubuk Linggau, Prabumulih, Banyuasin, Ogan Ilir, Empat Lawang, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Musi Rawas Utara.

rokok

Penjatahan jatah DBH CHT ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Rincian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota tahun anggaran 2019.

toko rokok

Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atau yang sering disingkat sebagai disingkat DBH-CHT sendiri merupakan bagi hasil pungutan di luar pajak dalam bentuk cukai dari olahan tembakau, yang diatur dan dikelola negara.

Pembagian DBH-CHT ini punya alokasi tersendiri, yakni 30 persen untuk provinsi penghasil, 40 persen untuk kabupaten/kota daerah penghasil, dan 30 persen untuk kabupaten/kota lainnya

Pajak Rokok Sumbang PAD Sulawesi Barat 85 Miliar

Pajak Rokok Sumbang PAD Sulawesi Barat 85 Miliar

Tahun 2018 kemarin, banyak daerah di Indonesia mampu mencapai target penerimaan pajak yang ditetapkan Pemerintah. Sebagian besar hasil pajak ini didapatkan dari cukai pajak rokok. Salah satu Industri yang paling tidak disukai oleh kelompok Anti-Rokok, namun ternyata mampu memberikan sumbangsih besar kepada Pemerintah.

rokok

Salah satu daerah di Indonesia yang mampu mencapai realisasi pajak adalah Sulawesi Barat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pajak Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Sulbar Fahri. Beliau mengatakan bahwa target realisasi pajak rokok tahun 2018 mencapai jumlah sekitar Rp 85 miliar.

Pajak ini memberikan sumbangsih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sulawesi Barat. Penerimaan besar pajak ini juga akan disalurkan ke Kabupaten melalui Dana Bagi Hasil pajak rokok.

bungkus rokok

Porsi Kabupaten akan mendapat DBH Rp 58,8 miliar. Ini akan dibagikan sesuai jumlah penduduknya. Bagi hasil pajak daerah kepada kabupaten: Mamuju mendapatkan Rp11.705.441.785, Majene Rp8.062.631.065, Polewali Mandar Rp16.821.103.927. Mamasa Rp7.664.045.5565, Pasangkayu Rp7.924.671.938 dan Mamuju Tengah Rp6.678.560.333.

rokok

Dengan pertimbangan realisasi ini, maka di tahun 2019 target penerimaan Pajak untuk Sulawesi Barat akan dinaikkan sebesar 91 miliar. Meningkat 6 miliar dibandingkan tahun 2018.

Cukai Rokok Mendominasi Perolehan Bea dan Cukai Kediri

Cukai Rokok Mendominasi Perolehan Bea dan Cukai Kediri

Cukai tembakau mendominasi raihan bea dan cukai Kediri selama 2018. Angkanya mencapai 96 persen dari total target raihan sebesar Rp 17,9 triliun.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kediri, Bapak Suryana.

bungkus rokok

“Capaian target melebihi tahun lalu yaitu sebesar 16,9 triliun,”

Menurut Suryana, hasil pencapaian ini dipengaruhi oleh 28 pabrik cukai hasil tembakau, tujuh kawasan dan satu gudang untuk wilayah KPPBC Kediri.

Kepala Seksi Layanan dan Informasi KPPBC Kediri, Adiek Marga Raharja menambahkan; “Pencapaian target cukai tembakau berasal dari pabean dan cukai. Untuk cukai sumbangsihnya besar. Sebesar 96 persen lebih dari 103,01 persen berasal dari Industri Gudang Garam untuk Kediri.”

cukai rokok

Sekitar 96 persen lebih didapatkan dari cukai hasil tembakau berupa rokok. Hal ini karena meningkatnya produksi yang dilakukan pabrik rokok, di sisi lain juga menunjukkan semakin bertambahnya jumlah perokok yang berada di Kediri. Dan juga faktor rutinnya tindak pemberantasan rokok ilegal di Kediri.

rokok

Sementara itu, Ellyn T. Brahmana, kepala BPS Kota Kediri menilai meningkatnya jumlah perokok meningkatkan perolehan cukai secara signifikan.

“Rokok memang tidak selalu naik harga, tapi andilnya berasal dari meningkatnya jumlah perokok di Kediri, akhirnya penjualan rokok meningkat,” ujar Ellyn.

Cukai Rokok Sumbang Pemasukan Negara 153 Triliun

Cukai Rokok Sumbang Pemasukan Negara 153 Triliun

Penerimaan Bea Cukai pada 2018 kemarin berhasil memenuhi target APBN 2018. Realisasinya luar biasa, mencapai Rp 205,5 triliun atau tumbuh sebanyak 6,7% dibandingkan pada tahun 2017. Realisasi penerimaan Bea Cukai itu mencapai 106% dari target yang disepakati pemerintah dan DPR di APBN 2018 yang sebesar Rp 194 triliun.

rokok

cukai rokok

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi saat ditanyai di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta. Penerimaan terbesar Bea Cukai pada 2018 disumbang oleh cukai rokok. Total pendapatan dari cukai itu mencapai Rp159,7 triliun, yang terdiri dari cukai rokok Rp 153 triliun, minuman (beralkohol) Rp 6,4 triliun dan etil alkohol Rp 0,1 triliun, serta cukai lainnya Rp 0,1 triliun.

rokok

Pendapatan besar dari cukai rokok tersebut juga telah dialokasikan untuk menambal biaya defisit BPJS Kesehatan seluruh warga negara Indonesia.

Hal ini telah diputuskan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada pertengahan tahun 2018 lalu. Keputusan tersebut banyak menuai kontroversi, terlebih lagi bagi para pembenci rokok. Namun, manfaat dari keputusan tersebut mampu menambal kekurangan biaya Jaminan Kesehatan seluruh warga negara Indonesia. Artinya para perokok mensubsidi seluruhnya, baik itu perokok, dan non-perokok.

orang merokok

Pemasukan besar dari cukai rokok di tahun 2018 menjadi tolok ukur untuk target penerimaan pajak di tahun 2019 ini. Tentu targetnya akan lebih meningkat. Seluruh stakeholders Industri Tembakau akan berusaha menyumbangkan lebih banyak lagi, mengingat tahun ini pajak cukai rokok tak dinaikkan harganya untuk dibebankan ke konsumen. Artinya kinerja Bea Cukai harus ekstra keras, karena tak dinaikkan pajak cukai rokok berarti butuh langkah strategis mendapatkan penerimaan cukai rokok agar sesuai target. Salah satu yang dikerjakan Bea Cukai saat ini adalah melakukan inspeksi rutin mencegah peredaran rokok-rokok ilegal yang tak bercukai.

rokok

Sebagai konsumen, perokok tentu punya peran besar untuk membantu Negara. Salah satunya adalah dengan cerdas membeli produk-produk asli Indonesia yang bercukai resmi. Hal ini nantinya akan berimbas pada penerimaan cukai di tahun 2019.

Pembagian Pajak Rokok: Jabar, Jatim, dan Jateng Dapat Porsi Terbesar

Pembagian Pajak Rokok: Jabar, Jatim, dan Jateng Dapat Porsi Terbesar

Tahun 2018 lalu menjadi salah satu tahun terbaik bagi perusahaan rokok. Dana hasil pajak rokok mampu digunakan untuk menambal biaya defisit BPJS kesehatan seluruh masyarakat Indonesia. Atas pencapaian tersebut, Pemerintah pusat melalui Presiden Republik Indonesia mentepakan tidak akan menaikkan harga pajak cukai rokok di tahun 2019. Kebijakan ini memberi angin segar bagi para pelaku industri tembakau, khususnya kalangan menengah dan kecil.

bungkus rokok

Tidak dinaikkannya tarif pajak untuk rokok ini ternyata tak membuat target penerimaan pemerintah dari rokok di tahun 2019 turun. Angkanya justru cenderung naik.

cukai rokok

Baru-baru ini Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK), menerbitkan Keputusan KEP- 47/2018. Di mana keputusan ini menjelaskan soal besaran setoran pajak rokok ke rekening kas umum daerah untuk tiap proponsi tahun 2019. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2019.

Estimasi besaran pajak rokok terhadap 34 propinsi di Indonesia berbeda-beda. Tiga propinsi yang mendapatkan pajak rokok paling besar adalah Jawa Barat 2,6 Triliun, lalu Jawa Timur sebesar 2,3 Triliun, dan Jawa Tengah sebesar 2,1 triliun. Estimasi pajak rokok paling rendah adalah dari Kalimatan Utara yakni sebesar 37,9 Miliar. Total dari 34 Propinsi tersebut pajak rokok yang dibagikan senilai 15,56 Triliun.

rokok

Penentuan proporsi atau besaran pajak rokok yang diterima daerah berasal dari total penerimaan pajak rokok, yang merupakan 10% dari Cukai Hasil Tembakau, dibagi dengan jumlah penduduk yang dijadikan dasar pengitungan Dana Alokasi Umum (DAU) 2019.

Pajak rokok sendiri merupakan pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh pemerintah daerah yang berwenang bersamaan dengan pemungutan cukai rokok. Besaran pajak rokok adalah 10% dari total penerimaan cukai rokok.

Kisah Unik Mbah Abdul Jalil Mustaqim dan Santri Tentang Merokok

Kisah Unik Mbah Abdul Jalil Mustaqim dan Santri Tentang Merokok

Kisah rokok dan juga kopi di kalangan pesantren memang kerap dibicarakan. Selayaknya kebutuhan pokok, di pesantren, rokok dan kopi merupakan baarang kebutuhan yang harus ada sehari-hari. Kopi membantu para santri untuk tetap berjaga di kala mendaraskan ayat-ayat suci Al-Quran. Sedangkan bagi kiai, kopi merupakan sumber tenaga untuk berbagi dawuh kepada para santri dan masyarakat sekitar. Nah, kalau rokok adalah sumber inspirasi bagi para kiai dan juga santri.

rokok

Rebutan rokok juga menjadi salah satu aktivitas yang dinantikan para santri dan juga masyarakat saat pengajian sedang berlangsung. Mereka percaya, sisa rokok, atau kopi dari kiai mereka merupakan berkah dan harus dinikmati agar berkah tersebut bisa menular kepada si pengambilnya.

Anda boleh percaya ataupun tidak. Kisah-kisah yang terasa ganjil dan gaib ini sudah berlangsung bertahun-tahun di pesantren.

bungkus rokok

Kisah soal rokok juga marak terdengar di daerah-daerah pesantren di Jawa Timur, salah satunya kisah legendaris yang terjadi di daerah Tulungagung. Seorang murid yang juga Kiai di daerah Jombang berkunjung ke gurunya di Tulungagung. Ia dikenal sebagai Kiai Jamaluddin dan gurunya adalah Mbah Kiai Abdul Jalil Mustaqim.

Ketika dalam perjalanan Kiai Jamaluddin dawuh pada santri yang diajaknya berkunjung. “Nak, kamu saya ajak sowan ke Romo Kiai Abdul Jalil. Beliau termasuk bagian dari Wali Allah. Nanti kalau di sana kamu tidak perlu banyak tanya, cukup dengarkan dawuh-dawuhnya.”

Sesampainya di kediaman Mbah Kiai Abdul Jalil Mustaqim, Kiai Jamaluddin berbincang cukup lama saking kangennya. Pada waktu itu pula Mbah Kiai Abdul Jalil menghisap rokok tanpa henti. Habis satu batang disambung lagi dan terus begitu sampai habis berbatang-batang rokok.

rokok

Santri yang diajak Kiai Jamaludin terheran-heran. Dalam hatinya ia berprasangka. “Katanya kiai ini seorang wali. Dari awal saya bertamu sampai sekarang rokoknya kok ngebut, habis satu langsung nyulut habis lagi nyulut lagi tanpa henti. Di mana letak kewaliannya?”

Melihat rasa terheran-heran santri Kiai Jamaludin, Mbah Jalil lalu berujar: “Kiai Jamal, lebih baik merokok tapi selalu ingat Allah, daripada tidak merokok tapi suka ngurusin orang lain yang sedang menikmati rokok tapi hatinya lalai pada Allah.”

“Njih, leres Kiai” (Ya benar, Kiai), jawab Kiai Jamaluddin.

Saat itu pula santri yang diajak Kiai Jamaludin tertunduk malu dan kemudian percaya bahwa prasangka buruk itu lebih berbahaya dan cenderung mengarah ke perilaku yang membuat dosa.