Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Advertisements

36 Negara Dukung Gugatan Indonesia atas Kebijakan Kemasan Polos Rokok di Australia

Gugatan yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan kemasan polos produk rokok di Australia memperoleh dukungan sebagian besar anggota WTO (World Trade Organization). Tercatat 36 negara lain yang turut berkentingan terhadap gugatan bersedia menjadi pihak ketiga. Sedangkan tiga negara lain Kuba, Honduras, dan Republik Dominika berada dalam barisan Indonesia dalam melakukan gugatan.

Gugatan disampaikan ke WTO ini disebabkan pemberlakuan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

Di mana negara-negara yang terlibat dalam perjanjian TRIPS perlu melindungi hak konsumen untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan.

Sumber: Rokok Indonesia

Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Indonesia Menggugat Aturan Kemasan Polos Produk Rokok ala Australia

Indonesia melayangkan gugatan ke WTO (Woarld Trade Organization) berkaitan dengan pemberlakuan kemasan polos produk rokok yang diberlakukan di Australia.

Gugatan yang disampaikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan ini merupakan sengketa dagang terbesar yang ditangani WTO, sebab selain Indonesia terdapat tiga negara lain, Honduras, Republik Dominika, dan Kuba, serta 36 negara anggota WTO ikut serta menjadi pihak ketiga yang berkepentingan atas gugatan ini.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi menegaskan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

“Konsumen memiliki hak untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan-hambatan yang tidak berdasar,” kata Bachrul.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Nasilah, Perempuan Dibalik Rokok Kretek

Dalam kisah sejarah penemuan rokok kretek, ada seorang perempuan yang juga berperan dalam mempopulerkan rokok khas Indonesia ini. Jika Haji Djamhari menemukan rokok kretek dengan sebab kesehatan, lantaran dia sakit bengek kemudian sembuh. Nasilah, si penjaga kedai ini lebih pada faktor kebersihan yakni ia memasarkan rokok kretek supaya para kusir yang datang ke kedainya mengurangi kebiasaan nginang.

Kemudian, di kedainya, datangkan Nitisemito yang akhirnya menjadi suaminya. Kedua pasangan ini malah lebih fokus untuk menjalankan usaha pabrik rokok. Bahkan sempat menjadi pabrik besar yang memasarkan rokok bermerek Tjap Tiga Bal.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Gambar Rokok

Siapa Lelaki dalam Gambar Peringatan “Merokok Membunuhmu”?

Sejak pertengahan 2014 lalu, bungkus rokok di Indonesia harus menyertakan peringatan bergambar.

Kebijakan terkait ini, diatur oleh PP 109 Tahun 2012, yang mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kesepakatan yang melibatkan berbagai negara dan paling cepat mencapai kesepakatan ini menuai kontroversi. Sebab, diketahui ada aliran dana dari berbagai Perusahaan Multinasional Farmasi yang mempunyai kepentingan bisnis atas bisnis “nikotin” berperan besar untuk mendorong kesepakatan segera tercapai, dan akhirnya diadopsi oleh berbagai negara.

Tetapi bukan saja peraturannya saja yang diimpor, gambar peringatan yang ditampilkan di bungkus rokok versi “merokok membunuhmu” bersanding dengan dua tengkorak juga bukan orang Indonesia.

Gambar peringatan itu pertama kali dipublikasikan di Thaliand sejak tahun 2012, dan diyakini sebagai orang Thailand. Sedangkan di Indonesia mulai digunakan tahun 2014.

Ah, dari gambar peringatan itu, Anda tahu kan sebab yang membuat orang tidak kreatif?

Foto: Eko Susanto (Flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Nikotin Membunuh Kuman Penyebab Tuberculosis

Suatu hari, Nikotin mungkin menjadi alternatif yang mengejutkan sebagai obat Tubercolosis atau TBC yang susah diobati, kata seorang peneliti dari University of Central Florida (UCF).

Senyawa dari nikotin menghentikan pertumbuhan kuman TBC dalam sebuah tes laboratorium, bahkan bila digunakan dalam jumlah kecil saja, kata Saleh Naser, seorang profesor dari mikrobiologi dan molokuler dari UFC.

Itu sebabnya, mengapa sulit sekali perokok yang terserang TBC.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)

Bila Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang merokok!”

Begitu aturan yang diberlakukan di Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdol.

Gus Dur bercerita kejadian di suatu malam, ketika aliran listrik ke pesantren itu tiba-tiba terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri yang tak bisa belajar segera mencari hal untuk mengisi waktu luang, ada yang tiduran dan ada juga yang mencari udara segar.

Di luar sebuah bangunan, ada seorang duduk-duduk sambil mengisap rokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa santri itu kepada seorang yang asyik merokok. Seorang yang merokok tadi agak sungkan ada orang yang mengetahui merokok, maka ia memberikan rokoknya untuk dihisap bersama. Saat dihisap, bara rokok itu membesar sehingga wajah si pemberi rokok samar-samar terlihat.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjaman. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak si pemberi pinjaman rokok, yang ternyata Kiai Fattah.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)