Manfaat Tembakau sebagai Anti Radang

Manfaat Tembakau sebagai Anti Radang

Manfaat tembakau – Temuan dari beberapa lembaga penelitian di Eropa yang berpartisipasi dalam proyek bertajuk “Pharma-Planta” yang dipimpin Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona menyatakan tembakau bisa menghasilkan protein anti radang yang ampuh.

manfaat tembakau
Perkebunan Tembakau

Proyek ini membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10) yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine merupakan protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif.

Kode genetik (DNA) yang mengode IL-10 ditanam dalam tembakau, lalu tembakau akan memproduksi protein tersebut. Mereka mencoba dua versi IL-10 yang berbeda. Satu dari virus, yang lainnya dari tikus. Para peneliti menemukan, tembakau dapat memproduksi dua bentuk IL-10 itu dengan tepat. Produksi cytokine yang aktif cukup tinggi, yang mungkin dapat digunakan lewat proses ekstraksi dan pemurnian.

manfaat tembakau
Manfaat Tembakau nan bermanfaat

Langkah selanjutnya, IL-10 hasil tembakau itu diberikan kepada tikus untuk meneliti seberapa efektif ia membangkitkan kekebalan tubuh. Peneliti menggunakan IL-10 hasil tembakau dalam dosis kecil dapat membantu mencegah kencing manis atau diabetes melitus tipe 1. Diabetes melitus tipe 1 atau diabetes anak-anak dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pankreas. Sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita anak-anak maupun orang dewasa.

Foto oleh : Eko Susanto

Advertisements

Sejarah perkenalan bangsa Eropa dengan rokok

Kehadiran Columbus dari Amerika membawa orang Eropa berkenalan dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal dalam kehidupan mereka. Ketiga jenis fenomena baru ini mereka ketahui lewat orang Indian, penduduk asli Amerika, yang jauh sebelum kedatangan Columbus telah merasakan nikmatnya mengunyah tembakau, menghisap rokok dan cerutu.

Peristiwa bersejarah yang membuat bangsa Eropa berkenalan dengan tembakau terjadi pada 1492, seusai Columbus dan rombongannya mendarat di pulau San Salvador atau pulau Walting, setelah sekian lama berlayar mengarungi lautan Atlantik. Ketika rombongan Columbus berlayar kembali ke arah barat daya, mereka menjumpai sebuah perahu lesung orang Indian berisi muatan, di antaranya daun-daun kering yang dibelakang hari dikenal sebagai tembakau.

Pemakaian tembakau sendiri untuk pertama kalinya dilihat oleh dua orang utusan yang dikirimkan rombongan Columbus ke pantai Cuba, atau menurut sejarah yang lain, telah dikirimkan Columbus ke Hispaniola (Santo Domingo). Utusan tersebut bertemu dengan banyak membawa kayu bakar dan bungkusan-bungkusan berisi daun pengobat yang telah dikeringkan dan digulung dalam selembar daun kering. Orang-orang ini menghisap gulungan daun tersebut sambil menerangkan, perbuatan mereka ini bisa menimbulkan kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat mereka mabuk dan mengantuk, namun juga bisa mengurangi kenikmatan pada anggota tubuh mereka, bisa membuat seperti mabuk dan mengantuk, juga bisa mengurangi kelelahan. Gulungan daun yang sungguh bermanfaat ini mereka sebut “tobacco”.

Di samping itu ada sesi kisah bagaimana awak Columbus menemukan rokok. Peristiwanya terjadi setelah mereka mendarat di pulau Guanahani (San Salvador), di mana mereka melihat orang-orang Indoan mengulung sejenis rempah-rempah yang telah dikeringkan dalam sepotong kecil daun jagung, hingga menghasilkan gulungan kecil berbentuk silinder. Salah satu gulungan tersebut disulut api, sedangkan asapnya dihisap dari ujung lainnya.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Rokok dalam budaya Indian kuno

Merokok merupakan salah sebuah aspek kebudayaan masyarakat Indian yang telah sangat tua usianya. Ketinggian usia ini bisa dikata dari penemuan ratusan pipa di situs-situs pedesaan dan darah anak-anak perbukitan di sebelah timur Amerika Serikar dan berasal dari masa sebelum kedatangan Columbus.

Sekalipun peninggalan-peninggalan sejarah ini tidak bisa ditemukan asal-usul tarikhnya, namun menurut pendapat Ralph Linton, beberapa bagian di anatarnya pastilah berasal dari suatu kurun masa yang telah sangat berlalu.

Pembuktian lain terjumpai dari kalangan masyarakat Indian “the Basket Makers” di sebelah barat daya Amerika Serikat, suatu golongan penduduk Indian kuno yang sisa-sisa peninggalannya terjumpai di bawah situs prasejarah “cliff dwellers” (para penghuni gua).

Berdasarkan beberapa bukti bisa dinyatakan, orang-orang Indian ini telah hidup di daerah tersebut pada awal masa Masehi dan kemudian didesak keluar dari tempat kediaman mereka pada tahun 1000 Masehi.

Dari mereka kita menemukan sejumlah pipa untuk keperluan merokok, yang merupakan pipa-pipa paling tua untuk keperluan merokok.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

foto: eko susanto

sumber: rokokindonesia.com

Indonesia Menggugat Aturan Kemasan Polos Produk Rokok ala Australia

Indonesia melayangkan gugatan ke WTO (Woarld Trade Organization) berkaitan dengan pemberlakuan kemasan polos produk rokok yang diberlakukan di Australia.

Gugatan yang disampaikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan ini merupakan sengketa dagang terbesar yang ditangani WTO, sebab selain Indonesia terdapat tiga negara lain, Honduras, Republik Dominika, dan Kuba, serta 36 negara anggota WTO ikut serta menjadi pihak ketiga yang berkepentingan atas gugatan ini.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi menegaskan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

“Konsumen memiliki hak untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan-hambatan yang tidak berdasar,” kata Bachrul.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Merokok Bukan Kriminal

Pagi hari di tanggal 31 Mei 2015, Mahayu Koesoemo mendapatkan pertanyaan di Ask.fm, “Cowok ngerokok itu bandel nggak sih, menurut kamu?”

Tak cukup di situ, dia juga membuka linimassa media sosial yang dicerca oleh berbagai gambar menyeramkan, informasi menakutkan, dan berbagai hal yang membuat seseorang berhenti merokok. Ada pula kampanye yang memerintahkan orang untuk mengambil rokok seseorang dan mematahkannya. Semua kampanye itu disatukan dalam hastak Anti Tembakau.

Menanggapi hal ini Mahayu berkomentar: “Merokok bukan tindakan criminal. Bulan pula doa yang membuat kamu mati besok pagi setelag menghisap beberapa barang. Yang masih bersikera koar-koar menggap rokok itu buruk sampai-sampai ada Hari Anti Tembakau (Saya masih tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan para petani tembakau dan buruh rokok menanggapi hal ini), mungkin hidupmu kurang piknik.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Sosanto (flickr)

Tanggapan atas Penistaan Pembela Kretek di Hari Anti Tembakau Sedunia

Nashir Haq, orang yang bertahun-tahun tinggal di tengah puluhan ribu buruh kretek, merasa disudutkan sebagai pendukung kretek oleh kampanye Anti Rokok. Dan seolah tak pernah diberi kesempatan untuk membela diri.

Pada 31 Mei, bertepatan dengan Hari Anti Tembakau Sedunia, di mana kampanye menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan tembakau sedang gencar-gencarnya, Nashir Haq bersuara:

“Untuk para lebay antirokok yang menuduh setiap acara dukungan terhadap kretek didanai oleh korporasi kretek: Sebagai orang yang berasal dari Kudus, sebuah kabupaten yang tak segan memasang predikat “Kota Kretek”, sebuah kabupaten tempat berdirinya berbagai macam industri kretek, dukungan saya terhadap kretek mungkin akan kalian tafsirkan sebagai pembelaan saya terhadap korporasi besar produsen kretek. Terserah kalau kalian beranggapan seperti itu, toh itu hak kalian.

Tapi, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya kepentingan langsung terhadap korporasi kretek. Saya bukanlah penerima beasiswa dari perusahaan rokok, Saya pun merasa tidak pernah mendapat apapun dari perusahaan kretek. Ketika pendukung kretek makin lama makin kalian nistakan, sesungguhnya yang terpikir di benak saya hanya tetangga-tetangga saya yang bekerja sebagai buruh kretek, orangtua teman-teman saya yang bisa menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi, dan 45% penduduk kota saya yang menggantungkan hidupnya dapa komoditas kretek.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Susanto (flickr)