Rokok di Masa Pendudukan Jepang (II)

Masa peralihan penguasa kolonial Indonesia, dari Belanda ke Jepang sekitar tahun 1942 merupakan waktu-waktu yang sulit bagi kebanyakan orang. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer melukiskan, kisah pendudukan Jepang ini dengan sangat baik. Termasuk bagaimana keberadaan rokok kretek menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan pelipur lara di masa sulit tersebut.

Berikut ini terjemahan bebas tulisan PAT tersebut, yang dipetik dari kata pengantarnya untuk buku Kretek – The Culture and Heritage of Indonesia’s Cloves Cigarettes:

Pada tahun 1942, saya pindah ke Jakarta. Untuk kebanyakan pribumi Indonesia, termasuk saya, itu merupakan masa-masa sulit. Ibu saya baru saja meninggal, dan saya menemukan diri berada di sebuah kota yang sama sekali baru bagi saya. Rokok kretek membantu saya untuk menjadi lebih tenang. Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh sebagian orang saat merokok, tapi begitulah efeknya pada saya.

Saya semakin sering menyulut rokok, lagi dan lagi. Selama masa pendudukan Jepang, kamu tidak akan menemukan kulit jagung untuk melinting rokok, jadi sebagian besar orang menggunakan jenis daun yang lain. Cengkeh juga menjadi sulit ditemukan, bila pun ada harganya sangat mahal. Sekalipun saya tidak memiliki cukup uang untuk makan, saya tetap merokok. Merokok menghindarkanmu dari rasa lapar, dan selama masa itu memang sangat sulit untuk mendapatkan makanan yang cukup. Merokok adalah cara terbaik untuk menangkal kepedihan karena lapar.

Tidak ada cukup makanan selama masa pendudukan Jepang. Sejumlah orang mati kelaparan di pinggir jalan. Para petani harus menyerahkan hasil panen mereka kepada Jepang. Praktis setiap hari, saya melihat dengan mata kepala sendiri orang mati kelaparan di pinggir jalan.

Sumber: http://ift.tt/1q7tRRT

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1zQsoJm

Advertisements

Rokok di masa pendudukan Jepang (I)

Saking mengakarnya tradisi rokok di Indonesia, Jepang menjadikannya sebagai alat propaganda di masa pendudukan mereka (1942-1945). Sebagaimana banyak ditulis dalam literatur sejarah, banyak perusahaan harus mengganti namanya menjadi bahasa Jepang dan Melayu, mulai dari bioskop hingga toko keperluan sehari-hari. Tak terkecuali perusahaan rokok, di berbagai lokasi di Jawa perusahaan rokok harus berganti nama.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah perusahaan rokok besar yang produknya banyak disukai di Eropa, Negresco NV. Perusahaan yang berbasis di Yogyakarta itu berganti nama menjadi Jawa Tobacco Kojo. Produk cerutunya berganti nama menjadi Momo Taro. Perusahaan ini juga memproduksi dua jenis sigaret yang di masa pendudukan Jepang sangat terkenal, yaitu Kooa dan Mizuho. Dua merk terakhir cukup beken di kalangan masyarakat.

Kepopuleran itu menghadirkan tandingan lain, di Surabaya muncul semboyan: “Sira Semangata, Musuha, tak kooaplok!” (Kalian semua semangatlah. Karena musuh sekalipun akan kupukul!). Kalimat dalam bahasa Jawa itu adalah penggabungan dari beberapa merk rokok pada masa itu: Siraho, Semangat, Mizuho, dan Kooa!

Di sisi lain, rokok kretek juga masih bisa ditemukan di pasaran meski dalam jumlah kecil. Beberapa yang beken adalah rokok kretek tali satu dan rokok kretek tali dua. Hadir pula olok-olokan dari kaum nasionalis, kepada Jepang:

Misuho misuho, Koa/Fajar semangat, Srutu Momotaru/Rokok kretek taline ijo/Isih enak rokok tali loro/Paling enak, klobote mbako… (Memaki, memakilah, Kau/Fajar semangat, Cerutu Momo aru/Rokok kretek bertali hijau/Masih enak rokok klobot tembakau…)

Serapan pendek dari:
Rokok Kretek sebagai Propaganda Politik Anti Jepang – http://ift.tt/RTDJnR
Lihat juga: http://ift.tt/1zQsnFm

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1zQspwS

Rempah dalam Sebatang Rokok

Salah satu keunikan rokok kretek, adalah pemanfaatan rempah sebagai bahan baku. Hal ini juga yang membedakan kretek, dengan jenis rokok lain, misal rokok khas para koboi Amerika itu.

Ada tiga komposisi utama dalam kretek: tembakau, cengkeh, dan saos. Tentang cengkeh, hasil bumi ini sudah beken sejak beratus tahun silam, bahkan mengundang bangsa-bangsa Eropa berlayar ke sejumlah wilayah Nusantara. Cengkeh dan pala, menjadi dua komoditi utama dari “Spicy Island” (Kepulauan Rempah-rempah) –gelar yang diberikan oleh para pelaut Eropa itu.

Cengkeh pula yang menguatkan aroma dan sensasi rempah khas Indonesia, dalam sebatang rokok kretek. Perpaduan tembakau dan cengkeh ini ditemukan oleh Haji Djamhari. Saos, ditemukan baru beberapa masa setelah penemuan rokok kretek. Mark Hanusz dalam Kretek – The culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, menyebut bahwa ide menambahkan saos itu berasal dari kebiasaan dalam tradisi kebudayaan Indonesia yang suka mencampur rempah-rempah di dalam makanan.

Rokok kretek adalah produk asli Indonesia, yang lahir dari pola-pola kebiasaan dan hasil bumi nusantara.

Sumber: http://ift.tt/1G1BAuX

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1wM2kti

Menyulut Rokok, Menyalakan Kesadaran Etis

Bagi perokok, kebiasaan menghisap produk tembakau telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas keseharian. Namun, ada juga pihak-pihak yang kerap merasa terganggu dengan asap rokok.

Untuk itu, baik perokok maupun non perokok mesti saling menghargai pandangan dan sikap masing-masing. Di satu sisi, golongan non perokok tidak perlu marah atau mencela kebiasaan menghisap rokok. Di sisi lain, para perokok harus menghargai hak non perokok. Bagi perokok, jadilah seorang perokok etis. Berikut beberapa ciri perokok etis:

1. Merokok di Ruang Merokok. Kawasan macam bandara, hotel, dan perkantoran, diwajibkan untuk menyediakan ruangan merokok. Anda bisa menggunakannya bila kebetulan berada di kawasan macam itu. Sayangnya, tidak semua kawasan telah menyediakan ruang merokok. Anda berhak protes bila ruangan macam ini tidak tersedia, sebab hal ini telah menjadi amanat peraturan pemerintah.

2. Tidak Merokok di dalam Angkutan Umum. Ruangan angkutan umum tidak begitu luas, dengan sirkulasi udara yang kurang baik. Kondisi ini membuat penumpang kurang nyaman. Maka sebaiknya tidak merokok di angkutan umum, atau di ruangan dengan kondisi serupa.

3. Menghindari Balita dan Ibu Hamil. Perokok sering dipaksa berhenti dari kebiasaan menkonsumsi produk tembakau, karena dianggap sebagai orang yang tidak sayang terhadap anak-anak dan tidak menghargai wanita hamil. Anggapan semacam itu menjadi tidak begitu relevan jika para perokok menghindari Balita dan Ibu Hamil saat menghisap rokok.

4. Tidak Menawarkan Rokok pada Anak-anak. Seorang perokok yang bertanggung jawab tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun.

5. Menaruh Abu dan Puntung Rokok di Tempatnya. Ini bentuk tanggung jawab dan kepedulian perokok terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Bahkan Anda bisa membawa asbak portabel guna memudahkan membuang abu dan puntung rokok.

Sumber: http://ift.tt/139cYRO

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1th0Si7

Pendapat Gus Dur Soal Fatwa Haram untuk Rokok

Almarhum Gus Dur pernah ditanya pendapatnya terkait wacana Fatwa Haram rokok. Saat itu, ia mengatakan boleh-boleh saja ada fatwa haram bagi rokok, namun harus benar-benar mesti dilihat lagi: apakah rokok memang tidak berguna dan sedemikian berbahaya?

Di sisi lain, Gus Dur mengingatkan fatwa-fatwa macam begini tidak akan banyak membantu, ia membandingkan dengan fatwa haram untuk berzina (yang diperintahkan Allah lewat sejumlah firman-Nya). Tokh fatwa sejelas itu masih saja dilanggar, apalagi soal rokok. Gus Dur beranggapan fatwa itu tidak akan banyak berguna.

Lebih dari itu, Gus Dur juga tidak buru-buru mengiyakan untuk mengharamkan sesuatu. Terlihat bahwa Gus Dur ingin mengajak para pemuka agama Islam untuk berhati-hati dalam mengambil kebijakan, tak asal lempar fatwa. Salah satu pertimbanganya adalah soal angkatan kerja dalam industri rokok yang begitu besar. Berikut petikannya:

“Adapun tentang industri rokok yang melibatkan 6,2 juta angkatan kerja akan terancam merugi bahkan bisa bangkrut, seharusnya si pembuat fatwa menyadari. Karena mengeluarkan fatwa tanpa diikuti langkah – langkah strategis, sehingga menyebabkan munculnya gejolak ekonomi dan mengakibatkan terjadinya pengangguran serta menimbulkan kemiskinan, juga “HARAM” hukumnya.”

Sumber: http://ift.tt/1zI0Sh6

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1E0hejG

Pram Pun Pernah Berjualan Rokok

Mendiang Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Dia seorang perokok berat, silakan Googling gambar PAT, dan Anda akan temukan beberapa posenya yang sedang menghisap rokok kretek. Rokok telah menjadi bagian dari hidupnya. Di antara bunyi mesin ketik, dan asap rokok banyak karya-karya hebatnya banyak tercipta.

Namun, tahukah Anda bahwa Pram pernah berjualan rokok? Hal tersebut dituliskan Pram dalam kata pengantarnya untuk buku Kretek – The Culture and Heritage of Indonesia Clove Cigaretes (Mark Hanusz). Pengalaman pram itu terjadi saat Pram masih remaja, ia dan saudaranya menjajakan rokok kretek di sebuah kios kecil yang terletak di kawasan pasar malam.

Pram menulis bahwa dirinya (saat itu 14 tahun) sadar benar saat itu punya sedikit masalah ekonomi guna melanjutkan pendidikan. Dia pun sadar, bila ingin melanjutkan pendidikan, maka ia harus menghasilkan uang. Menjual rokok kretek, merupakan bagian dari usahanya untuk menghasilkan uang dan kelak melanjutkan sekolah. Hasilnya, sekitar setahun kemudian (15 tahun), Pram remaja mampu melanjutkan sekolah ke Surabaya, dari hasil berjualan rokok kretek.

Pram melukiskan tentang kios rokok-nya tersebut, “kios kami menjadi terkenal ketika itu, pada suatu waktu semua rokok kretek kami terjual hanya dalam waktu dua jam.”

Sumber: http://ift.tt/1tKnZ7i

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1wBTkaY

Ro’ken, Rokok, Udud

Kata rokok, merupakan kata serapan dari bahasa Belanda “Ro’ken.” Namun ada istilah lain yang juga muncul di bahasa Jawa, sebutlah: udud (rokok), ngudud (merokok).

Istilah mengudud (menghisap) juga muncul dalam kakawin Smaradhana (VII masehi), tertulis: “saksat guguh makemilan mangudud kapundung” (“Tampaklah orang tua tak bergigi dengan kantong pipi menonjol mengisap dengan riuh rendah”). Sekilas kalimat itu menjelaskan aktivitas merokok (menghisap sesuatu), sayangnya tidak terjelaskan apa yang sedang dihisap.

Adapun Ngudud, termuat dalam Babad Sengkalan, bertepatan dengan mangkatnya Panembahan Senapati, pendiri kerajaan Mataram (1601).

Sumber: http://ift.tt/1rPuD6F

via rokokindonesia.com http://ift.tt/1oSSs1X