Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba?

Stigma bahwa rokok sebagai sebab dari seseorang memakai narkoba kerap kita dengar dilontarkan oleh antirokok, dan berkembang menjadi stigma di masyarakat. Tuduhan ini meletakkan rokok merupakan awal atau sebab dari seseorang untuk kemudian hari mencoba mempergunakan narkoba.

Tentu saja, anggapan ini seolah benar tapi cacat secara logika. Seorang pengguna narkoba bisa minum susu atau usai berkunjung ke dokter atau apa saja, kemudian dia mengkosumsi narkoba. Bisa apa saja.

Dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, stigma ini pernah diperdebatkan. Dan yang menarik, yang membantah stigma tersebut justru Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Hendri Yosodiningrat.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Merokok Bukan Kriminal

Pagi hari di tanggal 31 Mei 2015, Mahayu Koesoemo mendapatkan pertanyaan di Ask.fm, “Cowok ngerokok itu bandel nggak sih, menurut kamu?”

Tak cukup di situ, dia juga membuka linimassa media sosial yang dicerca oleh berbagai gambar menyeramkan, informasi menakutkan, dan berbagai hal yang membuat seseorang berhenti merokok. Ada pula kampanye yang memerintahkan orang untuk mengambil rokok seseorang dan mematahkannya. Semua kampanye itu disatukan dalam hastak Anti Tembakau.

Menanggapi hal ini Mahayu berkomentar: “Merokok bukan tindakan criminal. Bulan pula doa yang membuat kamu mati besok pagi setelag menghisap beberapa barang. Yang masih bersikera koar-koar menggap rokok itu buruk sampai-sampai ada Hari Anti Tembakau (Saya masih tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan para petani tembakau dan buruh rokok menanggapi hal ini), mungkin hidupmu kurang piknik.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Sosanto (flickr)

Siapa Lelaki dalam Gambar Peringatan “Merokok Membunuhmu”?

Sejak pertengahan 2014 lalu, bungkus rokok di Indonesia harus menyertakan peringatan bergambar.

Kebijakan terkait ini, diatur oleh PP 109 Tahun 2012, yang mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kesepakatan yang melibatkan berbagai negara dan paling cepat mencapai kesepakatan ini menuai kontroversi. Sebab, diketahui ada aliran dana dari berbagai Perusahaan Multinasional Farmasi yang mempunyai kepentingan bisnis atas bisnis “nikotin” berperan besar untuk mendorong kesepakatan segera tercapai, dan akhirnya diadopsi oleh berbagai negara.

Tetapi bukan saja peraturannya saja yang diimpor, gambar peringatan yang ditampilkan di bungkus rokok versi “merokok membunuhmu” bersanding dengan dua tengkorak juga bukan orang Indonesia.

Gambar peringatan itu pertama kali dipublikasikan di Thaliand sejak tahun 2012, dan diyakini sebagai orang Thailand. Sedangkan di Indonesia mulai digunakan tahun 2014.

Ah, dari gambar peringatan itu, Anda tahu kan sebab yang membuat orang tidak kreatif?

Foto: Eko Susanto (Flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Manfaat Tembakau untuk Melepas Gigitan Lintah

Bagi Anda yang mempunyai hobi mendaki gunung, menyurusi hutan, atau berkelana di alam. Ada baiknya untuk membawa rokok. Rokok yang berbahan utama tembakau tersebut bisa Anda manfaatkan, walaupun Anda bukanlah seorang perokok.

Terlebih bila di alam bebas, Anda tergigit oleh lintah yang mengisap darah Anda. Kandungan Neurotoxin dari tembakau akan sangat membantu untuk melepaskan gigitan lintah.

Anda tinggal membalurkan tembakau dari rokok yang Anda bawa itu, atau bisa juga dicampurkan dengan air dan usapkan di bagian tubuh yang sedang digigit lintah. Dan biarkanlah lintah itu melepaskan gigitannya dan tanpa melukai bagian dari tubuh Anda.

Foto: Eko Susanto (flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Tembakau Obat ala Monardes

Tak semua sampel tanaman dari Bangsa Indian yang dibawa oleh Christopher Columbus berhasil dibudidayakan di Spanyol. Selain koka, tembakau salah satu yang menuai sukses besar. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik dan segera menarik perhatian karena manfaatnya.

Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicobakan untuk merawat pasien.

“Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes dalam publikasinya yang terbit sekitar tahun 1565-1574. Diterbitkan dalam bagasa Inggris pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.

Kabar gembira mengenai tembakau dalam kesimpulan MOnardes mengikuti kerangka pemahaman medis Yunani yang dipelopori Galen, yaitu setiap bentuk penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan biologis manusia yang terdiri dari darah, empedu hitam, empedu kuning, dan mucus, yang juga terbagi atas empat dimensi cuaca.

Monardes mengkasifikasi manfaat tembakau memberikan keseimbangan (humor) dalam dimensi “panas” dan “dingin”. Daun tembakau, menurutnya, dapat menyembuhan gangguan seperti sakit perut, bau mulut, sakit kepala, luka-luka, nyeri otot, hingga mengurangi sakit melahirkan.

“Dalam kondisi nyeri gigi, yang disebabkan humor dingin, buatlah gulungan dari lembaran daun tembakau dan tempelkan di bagian gigi yang sakit, yang sebelumnya telah dibasuh dengan kain yang diperciki sari tembakau…” kata Monardes.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Bila Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang merokok!”

Begitu aturan yang diberlakukan di Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdol.

Gus Dur bercerita kejadian di suatu malam, ketika aliran listrik ke pesantren itu tiba-tiba terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri yang tak bisa belajar segera mencari hal untuk mengisi waktu luang, ada yang tiduran dan ada juga yang mencari udara segar.

Di luar sebuah bangunan, ada seorang duduk-duduk sambil mengisap rokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa santri itu kepada seorang yang asyik merokok. Seorang yang merokok tadi agak sungkan ada orang yang mengetahui merokok, maka ia memberikan rokoknya untuk dihisap bersama. Saat dihisap, bara rokok itu membesar sehingga wajah si pemberi rokok samar-samar terlihat.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjaman. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak si pemberi pinjaman rokok, yang ternyata Kiai Fattah.

Sumber: Rokok Indonesia | Foto: Eko Susanto (Flickr)