Puntung Rokok Didaur Menjadi Kertas Anti Rayap di Tangan Pelajar Kreatif

Puntung Rokok Didaur Menjadi Kertas Anti Rayap di Tangan Pelajar Kreatif

Puntung rokok kerap kali menjadi sampah yang terabaikan di sekitar kita. Namun di tangan kreatif dua siswa kelas XII Man 2 Kudus ini puntung rokok justru menjadi produk berguna, sebagai pengusir rayap.

Cara kreatif yang mereka lakukan berangkat dari hal sepele yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dua anak muda yang jeli dalam memafaatkan puntung rokok tersebut adalah Muhammad Rifda Kamil, dan Tsalis Wizka Mubarok.

Idenya bermula dari ditemukannya buku lama yang tersimpan di asrama sekolah mereka, diketahui saat membuka buku lama tersebut kondisinya rusak semua karena dimakan rayap. Maka terbesitlah ide untuk membuat bahan anti rayap. Dari hasil diskusi keduanya, tiba-tiba mereka teringat salah satu pelajaran Biologi yang menerangkan nikotin bisa menjadi bahan insektisida.

44018300254_626d87253a_k

Ide yang mereka temukan itu segera disampaikan kepada guru pembimbing sains, bahwasanya mereka ingin membuat eksperimen puntung rokok yang dijadikan kertas anti rayap. Gayung bersambut, guru pembimbing sains mendukung, dan kebetulan ada informasi kompetisi penelitian dari Kementerian Agama (Kemenag) pusat yakni Madrasah Young Supercamp (Myres).

Rifda beserta Tsalis langsung menyelesaikan ide tersebut beserta proposalnya, supaya bisa diikutkan kompetisi Myres. Mereka berdua menyelesaikan proposal tentang puntung rokok dijadikan kertas anti rayap selama satu bulan. Setelah menunggu proses penyeleksian, ternyata ide mereka lolos lima besar bidang sains dan teknogi, pesertanya tidak sedikit, para peserta berasal dari seluruh daerah di Indonesia.

Cara dalam eksperimen yang mereka lakukan adalah dengan mengambil sisa tembakau pada puntung rokok, kemudian mengekstraksi dengan metode maserasi. Setelah diperoleh ekstraksi, ditambahkan pada bahan bubur kertas, lalu dicetak.

41447602292_bc5c743d60_k

Ada lima kertas yang dibuat dengan konsentrasi ekstrak tembakau. Konsentrasi kertas pertama 0 persen, kertas kedua dengan konsentrasi satu persen, konsentrasi kertas ketiga dengan dua persen, konsentrasi kertas keempat dengan empat persen, dan konsentrasi kertas kelima dengan delapan persen.

Setelah kertas jadi, mereka menguji coba dengan membuat kompartemen berbahan pralon yang diisi rayap dan diberikan kertas dengan masing-masing konsentrasi. Hasilnya, di kertas pertama, kedua, dan ketiga ada yang mati sebagian.

Pada kompartemen keempat yang diisi kertas anti rayap pada konsentrasi tembakau empat persen, lanjutnya, seluruh rayap mati. Hal berbeda justru pada kompartemen kelima dengan kertas anti rayap konsentrasi delapan persen. Di sana, sebagian rayap justru masih bertahan hidup.

39870390235_a6b98fb277_k

Untuk membuat uji coba tersebut, Rifda dan Tsalis membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Sedangkan proses dari awal pembuatan proposal sampai menjadi finalis Madrasah Young Researcher Supercamp (Myres) membutuhkan waktu hampir satu tahun. Proses ini dinikmatinya dengan terus memperbaharui produknya. Berkat penemuan brilian ini keduanya meraih medali emas dari kompetisi tersebut.

 

Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba?

Stigma bahwa rokok sebagai sebab dari seseorang memakai narkoba kerap kita dengar dilontarkan oleh antirokok, dan berkembang menjadi stigma di masyarakat. Tuduhan ini meletakkan rokok merupakan awal atau sebab dari seseorang untuk kemudian hari mencoba mempergunakan narkoba.

Tentu saja, anggapan ini seolah benar tapi cacat secara logika. Seorang pengguna narkoba bisa minum susu atau usai berkunjung ke dokter atau apa saja, kemudian dia mengkosumsi narkoba. Bisa apa saja.

Dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, stigma ini pernah diperdebatkan. Dan yang menarik, yang membantah stigma tersebut justru Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Hendri Yosodiningrat.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Merokok Bukan Kriminal

Pagi hari di tanggal 31 Mei 2015, Mahayu Koesoemo mendapatkan pertanyaan di Ask.fm, “Cowok ngerokok itu bandel nggak sih, menurut kamu?”

Tak cukup di situ, dia juga membuka linimassa media sosial yang dicerca oleh berbagai gambar menyeramkan, informasi menakutkan, dan berbagai hal yang membuat seseorang berhenti merokok. Ada pula kampanye yang memerintahkan orang untuk mengambil rokok seseorang dan mematahkannya. Semua kampanye itu disatukan dalam hastak Anti Tembakau.

Menanggapi hal ini Mahayu berkomentar: “Merokok bukan tindakan criminal. Bulan pula doa yang membuat kamu mati besok pagi setelag menghisap beberapa barang. Yang masih bersikera koar-koar menggap rokok itu buruk sampai-sampai ada Hari Anti Tembakau (Saya masih tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan para petani tembakau dan buruh rokok menanggapi hal ini), mungkin hidupmu kurang piknik.”

Sumber: Rokok Indonesia
Foto: Eko Sosanto (flickr)

Siapa Lelaki dalam Gambar Peringatan “Merokok Membunuhmu”?

Sejak pertengahan 2014 lalu, bungkus rokok di Indonesia harus menyertakan peringatan bergambar.

Kebijakan terkait ini, diatur oleh PP 109 Tahun 2012, yang mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Kesepakatan yang melibatkan berbagai negara dan paling cepat mencapai kesepakatan ini menuai kontroversi. Sebab, diketahui ada aliran dana dari berbagai Perusahaan Multinasional Farmasi yang mempunyai kepentingan bisnis atas bisnis “nikotin” berperan besar untuk mendorong kesepakatan segera tercapai, dan akhirnya diadopsi oleh berbagai negara.

Tetapi bukan saja peraturannya saja yang diimpor, gambar peringatan yang ditampilkan di bungkus rokok versi “merokok membunuhmu” bersanding dengan dua tengkorak juga bukan orang Indonesia.

Gambar peringatan itu pertama kali dipublikasikan di Thaliand sejak tahun 2012, dan diyakini sebagai orang Thailand. Sedangkan di Indonesia mulai digunakan tahun 2014.

Ah, dari gambar peringatan itu, Anda tahu kan sebab yang membuat orang tidak kreatif?

Foto: Eko Susanto (Flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Manfaat Tembakau untuk Melepas Gigitan Lintah

Bagi Anda yang mempunyai hobi mendaki gunung, menyurusi hutan, atau berkelana di alam. Ada baiknya untuk membawa rokok. Rokok yang berbahan utama tembakau tersebut bisa Anda manfaatkan, walaupun Anda bukanlah seorang perokok.

Terlebih bila di alam bebas, Anda tergigit oleh lintah yang mengisap darah Anda. Kandungan Neurotoxin dari tembakau akan sangat membantu untuk melepaskan gigitan lintah.

Anda tinggal membalurkan tembakau dari rokok yang Anda bawa itu, atau bisa juga dicampurkan dengan air dan usapkan di bagian tubuh yang sedang digigit lintah. Dan biarkanlah lintah itu melepaskan gigitannya dan tanpa melukai bagian dari tubuh Anda.

Foto: Eko Susanto (flickr)
Sumber: Rokok Indonesia

Tembakau Obat ala Monardes

Tak semua sampel tanaman dari Bangsa Indian yang dibawa oleh Christopher Columbus berhasil dibudidayakan di Spanyol. Selain koka, tembakau salah satu yang menuai sukses besar. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik dan segera menarik perhatian karena manfaatnya.

Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicobakan untuk merawat pasien.

“Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes dalam publikasinya yang terbit sekitar tahun 1565-1574. Diterbitkan dalam bagasa Inggris pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.

Kabar gembira mengenai tembakau dalam kesimpulan MOnardes mengikuti kerangka pemahaman medis Yunani yang dipelopori Galen, yaitu setiap bentuk penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan biologis manusia yang terdiri dari darah, empedu hitam, empedu kuning, dan mucus, yang juga terbagi atas empat dimensi cuaca.

Monardes mengkasifikasi manfaat tembakau memberikan keseimbangan (humor) dalam dimensi “panas” dan “dingin”. Daun tembakau, menurutnya, dapat menyembuhan gangguan seperti sakit perut, bau mulut, sakit kepala, luka-luka, nyeri otot, hingga mengurangi sakit melahirkan.

“Dalam kondisi nyeri gigi, yang disebabkan humor dingin, buatlah gulungan dari lembaran daun tembakau dan tempelkan di bagian gigi yang sakit, yang sebelumnya telah dibasuh dengan kain yang diperciki sari tembakau…” kata Monardes.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)