Tiga Fungsi Rokok Dilihat dari Aspek Psikologi, Ekonomi, dan Sosial Budaya

Tiga Fungsi Rokok Dilihat dari Aspek Psikologi, Ekonomi, dan Sosial Budaya

Dalam beberapa waktu terakhir, Tedi Kholiludin, sosiolog Universitas Wahid Hasyim Semarang melakukan riset  bersama Prof Sumanto Al Qurtuby. Mereka menemukan fakta bahwa: efek (negatif) medis dari rokok itu banyak digaungkan oleh mereka yang bukan perokok. Sementara, kalangan perokok, meski menyadari ada dampak medis bagi orang lain dan dirinya, mereka tetap merokok karena merasa mendapatkan manfaat dari rokok. Setidaknya manfaat secara non medis.

rokok

Rokok bagi banyak perokok dianggap mempunyai fungsi-fungsi multidimensi dalam kehidupan bermasyarakat. Setidaknya ada tiga manfaat rokok yang bisa digali.

Fungsi pertama adalah fungsi yang sangat personal, yakni meningkatkan konsentrasi mendorong keadaan diri untuk rileks, tenang, dan “damai”. Ada kandungan nikotin dalam rokok yang mampu menyebabkan hal tenang, rileks dan damai tersebut.

Orang yang merokok cenderung bisa rileks dengan stress yang minim karena memang dalam rokok ada kandungan nikotin yang punya fungsi untuk membuat otot dan syaraf rileks.

orang merokok

Fungsi Kedua adalah Fungsi Ekonomi. Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan dengan mewawancarai banyak orang ditemukan bahwa aktivitas merokok adalah cara untuk membantu petani tembakau.

Para petani tembakau di Jawa Tengah, misalnya, banyak menggantungkan hidup pada keberhasilan sirkulasi dan distribusi rokok di pasaran. Nasib mereka ada pada keberhasilan memasarkan pelbagai jenis produk rokok. Selain itu, ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada industri tembakau ini seperti pedagang kelontong, buruh petik tembakau, buruh linting dan toko-toko ritel di seluruh Indonesia.

Fungsi ketiga adalah fungsi yang bersifat sosial. Aktivitas merokok kerap menjadi langkah pertama untuk membuka obrolan dalam percakapan dengan anggota kelompok sekaligus sebagai ungkapan rasa setia kawan dengan perokok lain.

Dari sudut sosiologis, rokok kerap hadir dalam interaksi antarmasyarakat yang akrab dan hangat. Rokok bisa menjelma menjadi “simbol sosialisasi” dan keakraban dalam masyarakat komunal atau “masyarakat kolektif” sekaligus menjadi bagian dari “kebudayaan Nusantara”.

rokok

Dalam berbagai kegiatan sosial kebudayaan di masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya seperti slametan, kenduren, tirakatan, muludan, mantenan, sunatan, tahlilan, dan sebagainya, hampir selalu disertai rokok. Tanpa rokok, aktivitas sosial-kultural- keagamaan itu pun terasa hambar.

Ada nilai yang terkandung di dalamnya dan kerap bertaut dengan simbol serta identitas kultural bagi individu atau masyarakat. Hal-hal itulah yang tak bisa dihilangkan dari masyarakat Indonesia

Advertisements

Tembakau Jawa Barat diminati Industri Rokok Luar Negeri

Tembakau Jawa Barat diminati Industri Rokok Luar Negeri

Indonesia merupakan salah satu negara yang punya tembakau dengan kualitas nomor satu di dunia. Maklum saja, sebagai negara dengan perpaduan daerah dan iklim tropis yang sangat ideal, tanaman tembakau bisa tumbuh dengan sangat baik di Indonesia.

tembakau

Setiap tahunnya, tembakau-tembakau terbaik Indonesia diekspor ke luar negeri. Banyak negara yang sangat berminat terhadap tembakau Indonesia.

Salah satu daerah yang tembakaunya dikenal sangat bagus adalah Jawa Barat.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat menyatakan bahwa tembakau dari Jawa Barat banyak dminati oleh pabrikan-pabrikan rokok luar negeri karena punya kualitas yang bagus.

“Tembakau kita diminati di luar negeri untuk masuk pabrikan,” kata Ketua APTI Jabar Nana Suryana.

rokok

Saat ini, beberapa jenis tembakau Jawa Barat jenis tembakau hitam, mole dan krosok sudah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Filipina dan Jerman.

Nilai ekspor tembakau Jawa Barat ini tak main-main. Pada 2017 lalu saja, ekspor tembakau Jawa Barat mencapai 3 ribu ton.

tembakau

Nana mengatakan bahwa besarnya minat negara-negara lain untuk membeli tembakau Indonesia, khususnya Jawa Barat bisa menjadi kesempatan bagi petani untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Negara-Negara Tujuan Ekspor Utama Rokok Kretek Indonesia

Negara-Negara Tujuan Ekspor Utama Rokok Kretek Indonesia

Di Asia bahkan dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai eksportir rokok kretek. Maklum saja, cita rasa kretek Indonesia memang sangat terkenal di luar negeri. Banyak orang luar yang suka dengan rokok kretek Indonesia karena rasanya yang khas dan baunya yang harum. Tak heran jika nilai ekspor rokok kretek Indonesia hampir selalu menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.

rokok

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah ekspor rokok kretek Indonesia pada 2017 meningkat 8,43% menjadi 84,03 juta kg dari tahun sebelumnya. Sementara nilainya tumbuh 12,12% menjadi Rp 11 triliun dari tahun sebelumnya. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara merupakan pangsa pasar terbesar ekspor rokok kretek Indonesia, yakni mencapai 85% dari total seluruh ekspor.

rokok

Negara-Negara di kawasan Asia Tenggara adalah penyerap rokok kretek Indonesia terbesar. Jumlahnya hampir 85 % pasar rokok kretek Indonesia. Negara-negara tersebut adalah: Kamboja, sebagai peringkat tertinggi pertama, Kedua adalah Malaysia, kemudian Singapura di posisi ketiga, Vietnam di posisi keempat dan terakhir ada Thailand.

Kamboja menjadi negara dengan pangsa pasar ekspor rokok kretek terbesar bagi Indonesia dengan volume 39,47 juta kg atau sebesar 46,97% dari total ekspor dengan nilai mencapai US$ 281,74 juta. Di urutan kedua Malaysia dengan volume 11,25 juta kg atau setara 13,39% dari total volume ekspor dengan nilai US$ 214 juta.

rokok

Sebagai informasi tambahan, untuk ekspor tembakau olahan Indonesia pada 2017 tumbuh 32,24% menjadi 32,88 juta kg dengan nilai US$ 178,97 juta. Sementara untuk rokok dan cerutu lainnya tumbuh 29,9% menjadi 9,78 juta kg dengan nilai US$ 76,7 juta.

Gara-Gara Sukses Jualan Rokok, Djoko Susanto Berhasil Membangun Alfamart

Gara-Gara Sukses Jualan Rokok, Djoko Susanto Berhasil Membangun Alfamart

Mungkin tak banyak yang tahu dengan sosok Djoko Susanto, namun hampir seluruh orang Indonesia pasti akrab dengan usaha yang ia rintis: Alfamart.

djoko susanto

Ya, Djoko Susanto adalah CEO dari Alfamart, perusahaan toko retail yang gerainya tersebar hampir di seluruh penjuru kota di Indonesia.

alfamart

Tak ada yang menyangka, Djoko yang seorang pengusaha sukses dan kaya raya ini dulunya adalah seorang pedagang kios kelontong. Djoko menjalani pekerjaannya sebagai pedagang kelontong saat ia berusia 17 tahun.

Toko kelontong yang dikelola oleh Djoko ini dulu hanyalah kios kelontong biasa. penghasilannya tak terlalu besar. Titik balik kesuksesan toko kelontong milik Djoko dimulai saat kiosnya laku keras setelah menjajakan rokok.

bungkus rokok

Kesuksesan penjualan rokok di kios kelontong miliknya membuat salah seorang pengusaha rokok terkemuka kemudian mengajaknya untuk bekerja sama.

rokok

rokok

Dari sanalah kemudian muncul ide untuk membangun toko kelontong berjaringan yang kelak mernama Alfa Minimart atau yang lebih dikenal sebagai Alfamart.

Alfamart kemudian tumbuh menjadi toko ritel berjaringan yang sukses dan berkembang. Pada akhir tahun 2017, jumlah gerainya mencapai 13.477 dengan penghasilan mencapai 56 triliun.

Beli Rokok 20 ribu, 13 Ribunya Untuk Negara

Beli Rokok 20 ribu, 13 Ribunya Untuk Negara

Ada banyak cara untuk membantu perekonomian negara, namun tak ada yang menyangka bila merokok merupakan salah satunya.

Boleh percaya atau tidak, tiap tahunnya, produk rokok menyumbang pemasukan yang besar bagi Negara. Masyarakat banyak yang tak tahu besaran pajak cukai rokok yang terdapat pada satu bungkus rokok. Persentase pajak rokok terhadap negara merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan produk-produk lainnya.

orang merokok

Bayangkan, produk rokok pajaknya mencapai 50 persen lebih.

“Kalau bapak beli rokok Rp 1.000, itu Rp 650 untuk negara. Kalau beli rokok yang sebungkus Rp 20 ribu, itu bapak menyumbang Rp 13 ribu untuk negara.” begitu kata Pelaksana tugas (Plt) Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Nugroho Wahyu Widodo.

cukai rokok

Ya, rokok memang dikenakan sebesar 65 persen dari harga jual eceran (HJE). Tarif tersebut diperoleh dari cukai dan pajak pertambahan nilai (PPN).

Jumlah yang cukup besar diterima oleh Negara dari satu produk rokok. Kalikan saja dengan banyaknya bungkus rokok yang dikonsumsi oleh masyarakat. Artinya, para perokok adalah penyumbang terbesar bagi pemasukan Negara.

rokok

Dari sini terlihat jelas bahwa produk rokok tak bisa dianggap buruk. Ia mampu memberikan kontribusi nyata bagi Negara dengan cukainya. Dan para perokok adalah masyarakat yang taat membayar pajak dan memberikan kontribusi langsung pada Negara.

Cukai Rokok yang Tinggi Meningkatkan Peredaran Rokok Ilegal

Cukai Rokok yang Tinggi Meningkatkan Peredaran Rokok Ilegal

Rencana Pemerintah untuk membuat tarif cukai rokok naik di tahun 2019 kembali menuai protes. Kali ini protes keras disuarakan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI).

Ketua GAPPRI, Ismanu Soemiran bersuara keras menolak adanya kenaikan tarif cukai rokok, dan penyederhanaan layer tarif cukai rokok. Kedua poin ini tertulis secara jelas dalam pasal-pasal Peraturan Menteri Keuangan No 146/PMK.010/2017 tentang tarif cukai hasil tembakau. Jika kenaikan tarif dan penyederhanaan layer dilakukan Pemerintah, maka akan terjadi kenaikan ganda. Yakni kenaikan regular tarif cukai  dan kenaikan atas dampak penghapusan layer.

  bungkus rokok

“Perlu diingat kondisi industri rokok saat ini sedang terpuruk dengan menurunnya volume secara drastis. Ada penurunan 1-2 persen selama 4 tahun terakhir. Bahkan hingga April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7 persen. Hal itu sesuai penelitian Nielsen, April 2018,” tegas Ismanu.

Beliau mengharapkan Pemerintah dapat mengkaji kembali rencana penerapan kenaikan cukai dan penyederhanaan layer cukai yang berpotensi akan menimbulkan kerugian bagi industri.

rokok

Seperti laporan Dirjen Pajak, pada semester ini, di bulan July kemarin, cukai rokok menyumbang cukup banyak kepada Negara. Belum lagi jika kita lihat secara keseluruhan, Industri Hasil Tembakau (IHT) selalu menyumbang 70% pendapatannya kepada Negara. Kalau di IHT bisa disebut sebagai Badan Usaha Milik Negara, maka ia termasuk BUMN Swasta penyumbang terbesar kepada Negara setiap tahunnya. Jelas, kebijakan kenaikkan harga cukai rokok yang akan dilakukan 2019 ini, akan berdampak buruk bagi semua. Bagi Industri dan terutama bagi pendapatan Negara.

Gappri menilai salah satu sebab meningkatnya rokok ilegal dan menurunnya produksi rokok adalah karena tingginya harga rokok akibat kenaikan tarif cukai. Perdagangan rokok ilegal, selain mengganggu stabilitas industri rokok, juga mengganggu penerimaan negara.

cukai rokok

Kalau Pemerintah bersikeras menaikkan harga cukai rokok, bukan tidak mungkin akan marak munculnya rokok ilegal. Rokok-rokok yang tidak memakai cukai dan beredar dalam jumlah besar. Hal ini pernah terjadi di negara tetangga Indonesia, yakni di Malaysia. Harga rokok yang mahal di Malaysia, membuat kran penjualan dan persebaran rokok ilegal yang jauh lebih murah dengan kualitas rokok yang setara melambung bebas.

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Tembakau bukanlah tanaman asli dari Indonesia. Hal ini diyakini betul oleh sinology Prof. G. Schlegel. Keyakinan tersebut berdasarkan kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia yang mana ia menemukan bahwa kata tembakau merujuk pada perkataan orang Portugis yakni Tabaco atau tumbaco. 

petani tembakau

Pernyataan tersebut sukar dinalar, apa lagi jika kita melihat tahun berapakah tembakau diperkenalkan atau masuk pada masyarakat Jawa. Secara mudahnya, untuk menelusuri sejarah akan hal ini bisa dimulai dengan mengumpulkan data dari orang-orang lanjut usia di Jawa. Dimulai dari mengumpulkan cerita-cerita, orang-orang tersebut, atau bisa kita sebut sebagai sejarah lisan. Hal ini yang coba dilakukan oleh Rumphius dalam bukunya soal rempah-rempah di Indonesia.

Ia menemukan bahwa sekitar tahun 1496 di tanah Jawa telah diketemukan tembakau. Tahun ini adalah tahun sebelum adanya orang-orang Portugis. Saat itu tembakau sudah digunakan oleh masyarakat Jawa untuk penyembuhan. Belum digunakan sebagai rokok.

Artinya ada kemungkinan bahwa orang-orang Portugis hanya memperkenalkan tembakau sebagai rokok pada masyarakat Jawa.  Namun ada juga pendapat lain, bahwa yang memperkenalkan tembakau sebagai rokok adalah bangsa Belanda. Hal ini berdasarkan keterangan dari karya Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang berjudul The History of Java jilid I. Menurut buku tersebut, tembakau diperkenalkan sebagai rokok dalam adat Jawa sejak tahun 1601.

petani tembakau

Pendapat dari hasil karya Thomas Stamford Raffles ini jika kita telusuri lagi pada buku-buku rujukan hasil karya peneliti Belanda, maka akan didapatkan data bahwa tembakau dan pemakaiannya sebagai rokok telah ada di Jawa pada awal abad ke XVII atau pada tahun 1600-an. Hal ini sesuai dengan naskah Jawa Babad Ing Sangkala yang menyebutkan tembakau telah dimasukkan ke Pulau Jawa bersamaan dengan meninggalnya Panembahan Senapati, ayah Sultan Agung Banten. Ada syair terkenal dari peristiwa ini yaitu:

“Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngudud.”

Artinya: “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok.”

tembakau

Dari catatan Babad Ing Sangkala ini kita bisa mengetahui pada tahun 1600-an masyarakat Jawa telah mengenal tembakau untuk diperuntukkan sebagai rokok. Sayangnya dalam naskah tersebut, tidak tercantum secara jelas tentang siapa yang pertama kali memasukkan tembakau ke Pulau Jawa.