PT KAI Harus Belajar dari Jepang tentang Aturan Merokok di Kereta Api

PT KAI Harus Belajar dari Jepang tentang Aturan Merokok di Kereta Api

Aturan larangan merokok di seluruh bagian kereta api yang diberlakukan oleh PT Kereta Api Indonesia tidak terhitung lagi korbannya. Karena mereka yang kedapatan merokok di dalam kereta api diturunkan paksa di stasiun berikutnya. Sejumlah karyawan PT KAI ada pula yang dipecat karena kedapatan merokok di kereta api.

ruang merokok

Aturan yang diberlakukan sejak tahun 2012 tersebut, tidak hanya menghalangi para perokok untuk mendapatkan hak konstitusional. Rokok adalah produk legal yang dijamin oleh undang-undang.

rokok

Tetapi, hak konstitusional perokok itu tidak dipedulikan oleh PT KAI yang bersikukuh menyatakan seluruh bagian dari kereta api termasuk Kawasan Tanpa Rokok (KTR) tanpa mempedulikan hak konsumen rokok yang harusnya disediakan tempat khusus untuk merokok.

gerbong khusus merokok

Ada pelajaran menarik yang pengelolaan kereta api di Jepang yang menyediakan gerbong khusus untuk para perokok. Langkah yang diterapkan oleh Jepang ini lebih solutif, karena baik yang perokok maupun tidak merokok sama-sama diperhatikan. Seorang penumpang yang hendak merokok, bukannya diturunkan malah diantar ke gerbong yang disediakan khusus bagi perokok.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Bekal Rokok Kretek bagi Jamaah Haji Indonesia

Bekal Rokok Kretek bagi Jamaah Haji Indonesia

Bagi Anda yang punya kebiasaan merokok dan punya rencana berangkat Tanah Suci, baik untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, tak perlu khawatir tidak bisa menunaikan kegemaran tersebut. Sebab, Anda diperbolehkan untuk merokok asalkan di tempat-tempat yang diperkenankan agar tidak menganggu ibadah jamaah lainnya.

bungkus rokok

Bila Anda termasuk orang yang terbiasa dengan merokok kretek, maka sebaiknya bawalah rokok dari Tanah Air, sebab di sana akan sangat sulit untuk mendapatkan rokok. Aturan yang diberlakukan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram misalnya, rokok diperkenankan dijual di radius 5 kilometer dari masjid.

Di sana, harga rokok cukup mahal, apalagi untuk rokok jenis kretek, harga satu bungkusnya mencapai 15-20 riyal atau setara Rp55.000 sampai Rp88.000.

orang merokok

Harga mahal rokok di tanah suci inilah yang membuat banyak jamaah haji yang membawa rokok kretek dari tanah air, tentu saja sebagai persediaan selama menunaikan ibadah haji/umroh di sana. Aturan yang diberlakukan, setiap jamaah haji diperbolehkan membawa sebanyak 200 batang rokok atau dua slop rokok.

rokok

Kebiasaan membawa rokok bagi jamaah haji biasanya bukan hanya untuk kebutuhan pribadi saja. Ada juga yang sengaja membawa sebagai bingkisan untuk sanak saudara yang berada di sana. Dan yang khas orang Indonesia adalah sengaja membawa rokok kretek bukan untuk dihisap melainkan dijual kepada sesama jamaah lain.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Casio, dari Pipa Rokok sampai Jam Tangan Digital

Casio, dari Pipa Rokok sampai Jam Tangan Digital

Siapa yang tidak kenal Casio, perusahaan ini dikenal luas di berbagai belahan dunia karena produk-produk yang dihasilkannya. Dari jam tangan G-Shock yang laris manis di pasaran, kalkulator, telepon genggam, kamera digital, hingga alat musik elektronik.

jam tangan casio

Tetapi tahukah kamu? Bahwa perusahaan Casio Computer Co, Ltd (Kashio Keinsanki Kabushiki-gaisha) yang didirikan pada 1946 ini mengeluarkan produk besar pertamanya berupa pipa yubiwa. Pipa ini berbentuk cincin rokok.

pipa rokok yubiwa

Ketika Perang Dunia II, orang-orang di berbagai negara kesulitan untuk merokok, sebab banyak pabrik rokok yang kemudian diubah menjadi pabrik senjata. Selain itu, peperangan juga membuat kacau banyak lahan pertanian, tentu saja tak terkecuali lahan tembakau.

rokok

Masyarakat Jepang sendiri di masa PD II mengalami kesulitan ekonomi sehingga rokok terbilang mahal dan berharga. Karena itulah, produk keluaran Casio yakni pipa yubiwa laris manis. Sebab, karena dengan produk ini, masyarakat Jepang bisa menghisap rokok sampai habis. Tanpa keberhasilan itu, kita bisa jadi tidak menemukan keberhasilan-keberhasilan selanjutnya yang dilakukan perusahaan ini.

Mihaya Melawan Mitos Penyakit Akibat Rokok

Mihaya Melawan Mitos Penyakit Akibat Rokok

Mihaya punya kebiasaan merokok melebihi orang kebanyakan. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 30 batang rokok tingwe (linting dewe). Tetapi, meski demikian tubuhnya terlihat bugar. Ia pun masih tetap menjalankan aktivitas keseharian.

orang merokok

Lelaki berusia 85 tahun mengaku tidak ada penyakit akibat merokok sebagaimana yang ditampilkan di televisi. Ia pun hirau dengan peringatan kesehatan tersebut.

rokok tingwe

Sesekali keluhan yang datang kepadanya ialah darah rendah dan rematik. Dan pusing. Untuk yang terakhir itu pertolongan pertama yang diminta Mihaya hanyalah sebatang rokok.

orang merokok

Istri dan anaknya hanya bisa maklum dengan kebiasaan Mihaya. Sebab, Mihaya justru terlihat lemas dan tidak bergairah menjalankan aktivitas keseharian bila tidak dibarengi dengan merokok.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Rokok Sokong Lonjakan Penerimaan Bea dan Cukai

Rokok Sokong Lonjakan Penerimaan Bea dan Cukai

Penerimaan bea dan cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mencapai 16,4 triliun di bulan Ramadan ini. Mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan bulan sebelumnya.

bungkus rokok

Lonjakan ini sudah diperkirakan sebelumnya, karena biasanya pada bulan ini, tingkat konsumsi masyarakat meningkat. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk mengimpor kebutuhan barang sebagai stok selama Ramadan dan lebaran.

cukai rokok

Dalam penerimaan ini, pendapatan cukai dari rokok masih menjadi salah satu yang paling besar kontribusinya bagi peningkatan pendapatan negara melalui Cukai Hasil Tembakau. Hal ini disebabkan faktor kenaikan cukai yang berlaku sejak Januari 2017 lalu yang efeknya baru mulai dirasakan pada kuartal kedua tahun ini.

rokok

Bila dirata-rata, kenaikan cukai rokok yang diterapkan pemerintah mencapai 10,54% dibandingkan tahun lalu. Dari total pemasukan bea dan cukai selama Mei 2017, sekitar 12,5 triliun atau sekitar 76% berasal dari cukai hasil tembakau. Sedangkan dari bea masuk sebesar 3,2 triliun.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Perokok Sumbang Pelayanan Kesehatan bagi Daerah

Perokok Sumbang Pelayanan Kesehatan bagi Daerah

Perokok tak perlu minder karena senantiasa disudutkan di ruangan sosial, dianggap pesakitan, dan bahkan untuk menikmati rokok pun harus selalu dipersulit dengan tidak tersedianya ruang khusus merokok.

bungkus rokok

Para perokok sebenarnya memiliki peran penting bagi pembangunan, misal dari cukai hasil tembakau (CHT) dan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DB-CHT) yang didistribusikan ke daerah-daerah penghasil tembakau.

orang merokok

Lalu, untuk daerah-daerah lain. Perokok juga memberikan pendapatan dalam bentuk pajak rokok yang dipungut dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dengan prosentase sebesar 10% dari cukai hasil tembakau. Pajak rokok tersebut dikumpulkan oleh pemerintah pusat kemudian akan dialirkan ke daerah-daerah. Prosentasenya pembagiannya, untuk provinsi sebesar 30 persen dan 70% sisanya untuk pemerintah kabupaten dan kota.

rokok

Di masing-masing daerah penerima itu, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, diwajibkan minimal 50% dari dana pembagian pajak rokok tersebut untuk digunakan sebagai dana kesehatan. Sisanya untuk pembangunan, pendidikan, juga penegakan hukum, yang salah satu diantaranya adalah memberantas keberadaan rokok ilegal.

rokok

Walaupun menuai kontroversi karena keberadaan pajak rokok membuat perokok menanggung beban pajak ganda, tapi toh kebijakan ini tetap berlanjut dan sudah diberlakukan sejak 2014.

Besaran dana pajak rokok yang dibagikan ke daerah sebagai dana pembangunan pun terus meningkat, dari sebesar Rp244 miliar pada 2014, Rp397 miliar pada 2015, dan tahun lalu dikumpulkan dana pajak rokok sebesar Rp484 miliar.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Pengalaman dari Indonesia Timur: Perkebunan Cengkeh Membuat Masyarakat Mempertahankan Tanahnya dari Serbuan Industri Ekstraktif

Pengalaman dari Indonesia Timur: Perkebunan Cengkeh Membuat Masyarakat Mempertahankan Tanahnya dari Serbuan Industri Ekstraktif

Beberapa tahun silam, tepatnya akhir 2013, saya melakukan perjalanan ke Indonesia Timur. Kedatangan saya ke timur bertepatan dengan masa panen raya cengkeh yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara meriah. Berbagai tingkatan umur turut merasakan kemeriahan musim panen cengkeh saat itu. Terlebih harga cengkeh sedang sangat bagus ketika itu, per kilogram cengkeh kering tembus angka Rp140 ribu.

cengkeh

Tak ayal, di berbagai pelosok orang dengan riang memanjat pohon cengkeh dengan tali dan tangga-tangga tinggi untuk menjangkau letak cengkeh yang sulit terjangkau. Sedangkan di bawah, anak-anak berebut reruntuhan cengkeh yang jatuh. Dalam sehari anak-anak itu bisa mengumpulkan lebih dari 6 kaleng (istilah untuk menyebut kaleng susu bekas yang kemudian menjadi satuan ukuran).

cengkeh

Sistem sosial di sana memang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk terlibat dalam panen cengkeh. Aturan yang sama juga diberikan kepada janda dan orang yang tidak memiliki kebun cengkeh. Kepada mereka, diberikan kesempatan untuk ikut merasakan kebahagiaan para pemilik pohon cengkeh.

pohon cengkeh

Dalam perjalanan tersebut, yang saya lakukan di Maluku Utara, saya ditemani oleh seorang kawan yang baru saya kenal di Ternate. Kawan yang bernama Risman Buamona inilah yang akhirnya menemani saya berkunjung ke sejumlah daerah di Maluku Utara, dari yang paling bawah di pulau Bacan hingga menuju daerah di bagian utara, di pulau Morotai.

Perjalanan itu tidak hanya membuat saya melihat kemeriahan masyarakat yang sedang panen cengkeh. Kawan saya ini justru membawa saya lebih jauh, karena dia juga membawa saya ke sejumlah daerah di wilayah Maluku Utara yang menjadi daerah pertambangan.

Di daerah-daerah yang menjadi pertambangan tersebut, kata kawan saya itu, dulunya merupakan sentra industri minyak kelapa. Orang-orang di daerah tersebut biasanya tidak memiliki pohon cengkeh, kalaupun punya, itupun tidak tahan saat puasa panjang, karenanya ketika pemerintah berusaha mengontrol harga cengkeh dengan melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang membuat harga cengkeh anjlok, masyarakat di sana marah besar.

petani cengkeh

Sedangkan di daerah-daerah yang menjadi sentra perkebunan cengkeh, masyarakat tetap bertahan dengan usaha di sektor agraris, di mana masyarakat mendapatkan hasil bumi dengan terlebih dahulu mengolah tanah. Para petani cengkeh ini mendapatkan lagi gairah di era Presiden Abdurrahman Wahid yang menghapus aturan kontrol dari pemerintah terhadap cengkeh sehingga harga cengkeh melonjak tinggi, dan kesejahteraan petani cengkeh kembali terangkat.

Di daerah-daerah yang terlanjur diberikan kepada industri pertambangan bukan hanya struktur tanahnya saja yang rusak. Tetapi, konsep hidup masyarakatnya pun berubah.

petani cengkeh

Setelah menjual tanahnya, para petani itu akhirnya bekerja di pertambangan. Tetapi dengan bekerja di pertambangan mereka tidak bisa lagi berpikir jangka panjang sebagaimana kebiasaan masyarakat agraris. Mereka menjadi pragmatis, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan untuk menyesal sudah terlambat, karena mereka telah melepaskan tanah yang sudah tidak pernah terjangkau lagi.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto