Gagalnya Proyek Monica menemukan kaitan rokok dan penyakit kardiovaskuler

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1980 membuat sebuah proyek besar untuk menjawab berbagai kecenderungan kematian akibat penyakit kardiovaskuler (CVD) yang melibatkan 10 juta orang responden di seluruh dunia dengan kisaran usia 25-64 tahun, dan dibentuk 32 sentra kolaborasi di 21 negara. Proyek ini dikenal dengan Proyek Monica (Monitoring of trend and determinants in Cardivascular Disease).

Rokok yang diduga sebagai penyebab dari timbulnya penyakit kardiovaskuler ternyata tak terbukti. Proyek Monica tak menemukan kaitan antara hubungan trend faktor risiko utama CVD seperti kolestrol serum darah, tekanan darah dan kosumsi rokok. Juga tak ada hubungan tren pengaruh (serangan fatal dan non-fatal) stroke dan penyakit jantung koroner.

Ternyata, penyakit kardiovaskuler tersebut disebabkan karena defisiensi asam folat (folic acid); demikian juga dengan ibu hamil memerlukan asam folat lebih tinggi daripada sebelum hamil, bisa fatal dalam pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Advertisements

Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba?

Stigma bahwa rokok sebagai sebab dari seseorang memakai narkoba kerap kita dengar dilontarkan oleh antirokok, dan berkembang menjadi stigma di masyarakat. Tuduhan ini meletakkan rokok merupakan awal atau sebab dari seseorang untuk kemudian hari mencoba mempergunakan narkoba.

Tentu saja, anggapan ini seolah benar tapi cacat secara logika. Seorang pengguna narkoba bisa minum susu atau usai berkunjung ke dokter atau apa saja, kemudian dia mengkosumsi narkoba. Bisa apa saja.

Dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, stigma ini pernah diperdebatkan. Dan yang menarik, yang membantah stigma tersebut justru Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Hendri Yosodiningrat.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Sejarah Rokok di Eropa pada masa-masa awal

Sejak perjumpaan bangsa Eropa dengan tembakau, menghisap rokok dan cerutu, di Era Columbus. Penjelajah-penjelajah setelahnya juga mencari daun pengobat ini dan juga mengikuti kebiasaan orang-orang Indian di Amerika.

Pada tahun 1564 John Hawkins menuturkan, orang-orang Perancis di Florida telah memakai tembakau dengan maksud-maksud yang sama seperti orang pribumi. Sedangkan seorang Eropa lain, A. Thevet, yang mengunjungi Brasilia dari tahun 1555 sampai 1556 malah mengabarkan, orang-orang Kristen yang hidup di sana sangat gemar sekali pada daun pengobat ini.

Sebuah laporan menarik diberikan oleh Gabriel Soares de Souza, seorang petani Portugis yang pernah hidup di Brasilia selama tujuh belas tahun lamanya semenjak tahun 1570 dalam bukunya “Noticia do Brazil” yang terbit 1587, bahwa tembakau sangat dihargai oleh orang-orang Indian, Portugis dan Negro, yang ia sebut “Mamelucos”, yang telah merokok banyak daun tembakau terbungkus dalam selembar daun palem.

Pengarang buki “Treatise of Brazil” yang ditulis pada tahun 1601 yang tak diketahui namanya, juga menyajikan sebuah lukisan yang tak kurang menariknya mengenai menghisap cerutu di Brazil, baik di kalangan masyarakat Indian maupun para perantau Portugis.

Katanya: “Orang-orang perempuan juga menghisapnya, akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan itu telah usia tua dan sakit-sakitan, oleh karena tembakau tersebut mempunyai kemapuan menyembuhkan, terutama untuk penyakit batuk, perut dan kepala.”

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

Foto: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Rokok dalam budaya Indian kuno

Merokok merupakan salah sebuah aspek kebudayaan masyarakat Indian yang telah sangat tua usianya. Ketinggian usia ini bisa dikata dari penemuan ratusan pipa di situs-situs pedesaan dan darah anak-anak perbukitan di sebelah timur Amerika Serikar dan berasal dari masa sebelum kedatangan Columbus.

Sekalipun peninggalan-peninggalan sejarah ini tidak bisa ditemukan asal-usul tarikhnya, namun menurut pendapat Ralph Linton, beberapa bagian di anatarnya pastilah berasal dari suatu kurun masa yang telah sangat berlalu.

Pembuktian lain terjumpai dari kalangan masyarakat Indian “the Basket Makers” di sebelah barat daya Amerika Serikat, suatu golongan penduduk Indian kuno yang sisa-sisa peninggalannya terjumpai di bawah situs prasejarah “cliff dwellers” (para penghuni gua).

Berdasarkan beberapa bukti bisa dinyatakan, orang-orang Indian ini telah hidup di daerah tersebut pada awal masa Masehi dan kemudian didesak keluar dari tempat kediaman mereka pada tahun 1000 Masehi.

Dari mereka kita menemukan sejumlah pipa untuk keperluan merokok, yang merupakan pipa-pipa paling tua untuk keperluan merokok.

Sumber: Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara, Amen Budiman dan Onghokham.

foto: eko susanto

sumber: rokokindonesia.com

36 Negara Dukung Gugatan Indonesia atas Kebijakan Kemasan Polos Rokok di Australia

Gugatan yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan kemasan polos produk rokok di Australia memperoleh dukungan sebagian besar anggota WTO (World Trade Organization). Tercatat 36 negara lain yang turut berkentingan terhadap gugatan bersedia menjadi pihak ketiga. Sedangkan tiga negara lain Kuba, Honduras, dan Republik Dominika berada dalam barisan Indonesia dalam melakukan gugatan.

Gugatan disampaikan ke WTO ini disebabkan pemberlakuan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

Di mana negara-negara yang terlibat dalam perjanjian TRIPS perlu melindungi hak konsumen untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan.

Sumber: Rokok Indonesia

Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Indonesia Menggugat Aturan Kemasan Polos Produk Rokok ala Australia

Indonesia melayangkan gugatan ke WTO (Woarld Trade Organization) berkaitan dengan pemberlakuan kemasan polos produk rokok yang diberlakukan di Australia.

Gugatan yang disampaikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan ini merupakan sengketa dagang terbesar yang ditangani WTO, sebab selain Indonesia terdapat tiga negara lain, Honduras, Republik Dominika, dan Kuba, serta 36 negara anggota WTO ikut serta menjadi pihak ketiga yang berkepentingan atas gugatan ini.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi menegaskan kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

“Konsumen memiliki hak untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan-hambatan yang tidak berdasar,” kata Bachrul.

Sumber: Rokok Indonesia
Gambar: Eko Susanto (Flickr)

Resep Umur Panjang Hadi Sumitro

Tahun ini, usia Hadi Sumitro akan genap 90 tahun. Usia yang relatif panjang bila dibandingkan rata-rata usia manusia saat ini. Namun, kesehatannya tergolong baik. Pendengarannya bagus. Bicaranya jelas dan mantap.

Kakek dengan 6 anak dan 14 cucu ini merupakan pengagum berat Soekarno dan Sultan Hamengkubuwono IX. Di dinding rumahnya yang asri dan sederhana, tepatnya di ruang tamunya, terdapat tokoh idolanya, Soekarno, dan bersanding dengan bendera merah putih yang digantung seadanya.

Sekarang ini, kesehariannya ia mengembala kambing di sekitar Kaputren Candi Ratu Boko. Sembari mengawasi kambing yang dibiarkan mencari makan, biasanya ia mengisap rokok kretek merek 76. Dua bungkus rokok 76 ia habiskan setiap harinya, dan juga tambahan tembakau yang dilinting sendiri.

Tapi, apa yang membuat panjang umur?

Ia menjalani hidup dengan bergembira, “Hidup itu harus sederhana , Le, Gusti Allah telah memberikan rejeki yang banyak dan menjadikanmu kaya,” katanya dalam bahasa jawa.

Selain itu, ia mengaku rajin laku mutih sejak muda.

Foto: Eko Susanto via Flickr
Sumber: Rokok Indonesia