Kesaksian Dokter yang Sembuh dari Kanker Melalui Pengobatan Divine Kretek

Kesaksian Dokter yang Sembuh dari Kanker Melalui Pengobatan Divine Kretek

Kanker bisa menyerang siapa saja. Tidak peduli lelaki, perempuan, kaya, miskin, birokrat, rakyat biasa, pengusaha atau cendekiawan. Bahkan seorang dokter yang menerapkan gaya hidup sehat, tidak merokok, rajin berolahraga, dan menghindari makanan dan minuman yang tidak sehat sekali pun bisa terserang kanker.

Kejadian seperti ini dialami Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang, dr Subagjo Sp.B (K) TKV. Dokter spesialis bedah jantung, paru dan pembuluh darah divonis menderita kanker getah bening pada Juni 2016. Indikasinya, di bawah rahang terdapat benjolan sebesar telur puyuh. Karena benjolan terasa menganggu akhirnya dr Subagjo memutuskan untuk dilakukan operasi pengangkatan. Setelahnya, benjolan tersebut diteliti dan ditemukan histopatologis, suatu lymphoma malignant non hodgkin’s disease (keganasan pada kelenjar limfa). Untuk memastikan vonis penyakitnya, preparat tersebut dikirim pula ke Belanda untuk penelitian lebih lanjut. Hasilnya sama, ia menderita kanker kelenjar linfa.

Para dokter di Rumah Sakit dr. Saiful Malang segera membentuk tim dokter untuk melakukan penanganan terhadap Subagyo. Keputusan yang diambil adalah kemoterapi, karena hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mematikan sel kanker. Kemoterapi perlu dilakukan satu paket, yang untuk Subagyo kemoterapi tahap pertama mesti dijalani enam kali berturut-turut. Bila ternyata sel kanker belum mati, maka dilakukan kemoterapi tahap kedua.

Selain mematikan sel jahat kemoterapi juga merongrong sel baik pada tubuh. Baru sekali menjalani kemoterapi Subagyo telah mengalami keadaan yang sangat menyiksa. Ia merasa kesakitan. Setiap makan dan minum, termasuk minum air putih, terasa pedih yang sangat luar biasa di bagian mulut. Badan juga makin lemah dan rambut pun rontok. Pada periode krisis tersebut, Subagyo merasa dirinya berada pada level manusia mati yang bernapas.

Syukurlah, pada periode krisis dalam hidupnya itu, ia mendapat informasi bahwa konsep baru penangangan kanker. Konsep itu ditemukan oleh Dr. Gretha Zahar, seorang ahi kimia radiasi (radikal bebas dan biradikal) dan dikembangkan bersama Prof. Sutiman Bambang Sumitro, Guru Besar di Universitas Brawijaya. Penanganan kanker yang mereka kembangkan menggunakan metode balur yang berbasis nanosains. Pembaluran yang merupakan nanotherapy itu disempurnakan dengan penggunaan asap rokok divine kretek yang merupakan genuine temuan mereka.

Rokok Kretek

Penanganan kanker dengan metode balur dan asap rokok divine kretek tentu terasa janggal bagi siapa saja yang mendengarnya. Terlebih bagi seorang dokter ahli. “Sebelum mejalani terapi itu, pada awalnya saya dilanda pemikiran, karena sebagai seorang dokter ahli bedah jantung, paru, dan pembuluh darah saya sedikit mempelajari proses atheroslerose kanker paru akibat penyepitan cokoner,” katanya, dalam Divine Kretek: Rokok Sehat.

Namun, ia kemudian memutuskan berhenti menjalani kemoterapi dan rela menjadi kelinci percobaan penanganan kanker dengan terapi balur nano menggunakan divine kretek.

Rokok Kretek

“Sejak menjalani terapi balur nano divine kretek… sampai saat ini keadaan saya sehat dan kondisi prima dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai dokter,” terang Subagyo.

Pengalaman sembuh dari kanker tersebut membuat Subagyo tergerak untuk aktif mendalami dan mengembangkan terapi balur nano divine kretek. Di tengah kesibukannya sebagai dokter dan sebagai ketua IDI malang, sekarang ia aktif bersama dr. Saraswati, istrinya, mengelola Rumah Sehat di Malang yang menjadi salah satu stasiun pengumpul data dan pelaksana riset sekaligus penerapan konsep penyebuhan berbagai penyakit generative dengan metode nano divine kretek.

Foto oleh : Eko Susanto

Advertisements