Tembakau Aminah di Pasar Bantul

rokok indonesia
rokok indonesia

Selain di pasar Beringharjo, Yogyakarta, para penggemar kretek linting juga bisa menemukan tembakau rajangan siap pakai di pasar Bantul. Di pasar ini selain ada Mbah Mujinem, 73 tahun, juga ada hajah Aminah, 76 tahun. Ia berdagang tembakau sejak tahun 1954, dan pada tahun 1997 menunaikan haji. Pada tahun 2012 ia kembali berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah Umroh.

Tembakau yang dijual hampir sama dengan yang dijual oleh Mbah Mujinem, yakni; tembakau siluk, boyolali, terowono, mole, dan kedu. Dan yang paling laris adalah tembakau kedu untuk susur karena rata-rata yang datang adalah perempuan tua untuk menginang. Para pembeli tembakau di tempat Hajah Aminah rata rata juga pedagang tembakau yang akan dijual lagi di desa sekitar Bantul.

Baik Mujinem maupun Hajah Aminah juga pemakai tembakau susur jenis kedu karena keduanya menyirih. Kedua perempuan perkasa tersebut di usia tuanya hingga kini tetap sehat walaupun sering menggunakan tembakau untuk menginang.

*) Foto dan Artikel: Eko Susanto.

Kesetiaan Mujinem pada tembakau

Rokok Budaya
Rokok Budaya

Bila Anda penggemar kretek dan sedang berada di Yogyakarta, mampirlah ke pasar Bantul. Letaknya berada di selatan kota. Ambil saja jalan dari sudut Pojok Beteng Kulon, lurus menyebrang ringroad. Jika bertemu perempatan masjid AgungBantul, berjalanlah sekira 500 meter. Di kanan jalan Anda akan menemukan pasar Bantul yang baru saja dibangun. Di pasar yang megah itu di bagian sebelah kiri Anda akan bertemu Mbah Mujinem, pedagangtembakau yang sudah berjualan di pasarBantul lebih dari 50 tahun.

Mbah Mujinem sejak umur 23 tahun konsisten berdagang tembakau, mulai dari tembakau Siluk, Trowono, Boyolali, Mole, hingga tembakau Mbandung. Tembakau dagangannya sebagian dia dapatkan dari kulakan di pasar Beringharjo, sedang yang lainnya diantar oleh pedagang besar  yang datang dari Madura, Boyolali, dan Solo.

Kini Mbah Mujinem Wignyo Utomo telah berusia 73 tahun. Dan tetap setia berdagang tembakau melayani para penikmat kretek linting dan pengguna tembakau susur.

*) Foto dan artikel: Eko Susanto

Kebijakan Cukai sebabkan Pabrik Rokok Kecil Gulung Tikar

Rokok Indonesia
Rokok Indonesia

Kenaikan cukai yang diberlakukan pemerintah dinilai semakin meruntuhkan industri rokok. Selama lima tahun terakhir ini telah terjadi kenaikan tarif cukai hampir setiap tahun, yang kalau dikalkulasi telah terjadi kenaikan sebesar 16 persen dan menyebabkan ribuan pabrik rokok gulung tikar.

“Data tahun 2009 jumlah pabrik rokok sekitar 4.900 pabrik, sekarang hanya sekitar 600-an pabrik,” ujar Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikan Pabrik Rokok Indonesia, Hasan Aoni, dalam Diskusi Publik “Kebijakan Tarif Cukai yang Rasional, Adil, dan Berorientasi nasional Interst”.

Mamik Indrayani, Ketua Lembaga Penelitian UMK yang juga menjadi panelis menambahkan yang terjadi sekarang ini adalah ketidakpedulian pemerintah, bukan keseimbangan kebijakan. Kevijakan-kebijakan pemerintah justru mencerminkan kebijakan anti-tembakau. “Kebijakan itulah yang menggerus industri hasil tembakau,” katanya seperti dikutip Kontan.

Kenaikan cukai tak hanya membatasi pertumbuhan industri rokok, namun juga memukul industri rokok kecil. Kenaikan cukai merupakan bagian dari biaya produksi karena itu kenaikan cukai jelas akan mendongkrak harga. Sementara, di sisi lain, rokok yang mereka produksi belum tentu laku semua. Pabrik tutup karena terjadi kenaikan cukai terjadi setiap tahun.

Ia menegaskan, kenaikan cukai dengan argumentasi kesehatan sangat tidak adil karena pastikan akan mengorbankan pihak lain yang tidak terakomodasi kepentingannya. Seharusnya, pemerintah berpikir mendorong daya saing industry hasil tembakau bukan memberangus dengan beragam regulasi.

“Industri hasil tembakau juga berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat, pengurangan masyarakat miskin, bahkan sebagai warisan turun-menurun,” katanya.

Sumber Artikel: Rokok Indonesia / Foto: Eko Susanto di Flickr

“YLKI Sudah Jadi Lembaga Kepentingan”

Bonhar Darma Putra, Ketua Umum Persatuan Pekerja Muslim Indonesia Sektor Rokok, Tembakau dan Minuman, menuding Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menafikkan bahwa tembakau terutama rokok kretek merupakan warisan budaya sehingga sangat wajar pemberian rokok itu merupakan pendekatan sosio-kultural seorang menteri.

Pernyataan Bonhar itu menanggapi ancaman yang disampaikan Ketua Pengurus harian YLKI, Sudaryanto, yang akan menempuh jalur hukum jika Menteri Sosial tidak menanggapi keberatan YLKI soal pemberian rokok kepada Orang Rimba di Jambi. “Dalam waktu dua minggu, surat itu tak ditanggapi, maka YLKI dan Solidaritas Advokat Publik untuk pengendalian tembakau akan mengambil langkah hokum,” kata Sudaryanto seperti dikutip JPPN.com.

“YLKI sudah jadi lembaga kepentingan,” sindir Bonhar. Sebab, tindakan YLKI ini dilakukan saat  Blomberg Initiative dan Bill dan Melinda Gates Foundation sedang mengadakan pertemuan terkait penambahan guyuran dana bagi kampanye antitembakau di Dubai. Lembaga donor ini pula yang memberikan dana segar kepada YLKI untuk melaksanakan kampanye antitembakau.

Sumber Artikel: Rokok Indonesia / foto: Eko Susanto di Flickr

APTI Kecam “Politik Cari Muka” ala YLKI

manfaat rokok

Wisnu Brata, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mencurigai motif di balik sikap Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang hendak mengugat Menteri Sosial, Khififah Indar Parawansa yang membawa rokok kepada Tumenggung di Suku Anak Dalam Jambi.

Sebagai gambaran pada Jumat, Menteri Sosial yang datang ke Jambi membawa bantuan berupa bahan pokok dan pakian, membawa juga pesanan para Tumenggung  atau Kepala Suku yang meminta dibawakan rokok. Pemberian rokok kepada para Tumenggung ini dipersoalkan oleh YLKI, sehingga YLKI hendak menggugat Menteri Sosial. Sebelumnya, YLKI melalui Tulus Abadi juga menyebarkan siaran pers yang isinya mengecam tindakan Menteri Sosial.

Wisnu mengamati bila tindakan YLKI ini mengada-ngada, bahkan terkesan sebagai bentuk “carimuka” pada Lembaga Donor Asing.

Pada waktu yang bersamaan dari tindakan YLKI ini, Blomberg Initiative dan Bill dan Melinda Gates Foundation sedang melakukan pertemuan di Dubai untuk merancang program menggelontorkan dana triliunan rupiah dana untuk kampanye antitembakau. Lembaga donor ini pula yang memberikan dana segar bagi YLKI untuk melakukan kampanye antitembakau. Tercatat, tiga tahun lalu, Rp 5,5 miliar dana yang masuk ke YLKI dari Blomberg Initiative dan Bill dan Melinda Gates Foundation.

“Sikap YLKI itu kebablasan,” kata petani tembakau asal Temanggung itu kepada wartawan, Jumat (27/3).

Wisnu menegaskan, tidak ada yang salah bila seseorang, termasuk menteri, memberikan rokok pada pihak lain karena rokok bukan barang terlarang dan ilegal. Dia mengingatkan, di daerah tertentu saling memberikan rokok adalah bagian dari kultur masyarakat.

“Menteri Sosial ini menggunakan bahasa kultural dengan memberi rokok,” kata Wisnu.

Sumber Artikel: Rokok Indonesia / Foto: Eko Susanto di Flickr