Mengenal Tembakau Rajangan Lombok di Pasar Mandalika

Mengenal Tembakau Rajangan Lombok di Pasar Mandalika

Tembakau dari Lombok Timur cukup dikenal banyak jenisnya. Seperti juga tembakau yang ada di Pulau Jawa. Tembakau Senang adalah salah satu yang paling dikenal dari tanah Lombok, selain itu ada juga yang dikenal dengan tembakau Kasturi.

46065178815_cd88b11b7b_k

Meski tahun ini cukai tembakau mengalami kenaikan, sehingga harga rokok pun menjadi mahal dan serapan tembakau dari petani ke pabrikan mengalami penurunan. Namun petani tembakau Lombok Timur sejak lama mampu menjual tembakau rajangannya di Pasar Mandalika.

Seperti yang dilakukan Sumiati. Perempuan paruh baya yang gemar merokok lintingan tembakau. Dia menjual tembakau rajangannya di Pasar Mandalika.

Ada beberapa jenis-jenis tembakau rajangan yang dijualnya. Di antaranya tembakau Kasturi Manis. Kata dia, tembakau jenis ini paling banyak dicari. Rasanya manis dan enak. Setengah kilogram atau setumpi dijual dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu. Kemudian ada tembakau Kasturi Jepun. Tembakau jenis ini agak lengket dan lembek. Harganya Rp 125 ribu per 0,5 kg.

16433322775_8c711d757a_k (1).jpg

Ada juga jenis tembakau Skot Jamaq. Kata Sumiati lagi, tembakau Skot Jamaq rasanya ringan. Aroma tembakaunya tidak terlalu keras. Namun, baunya harum. “Sedikit manis,” katanya. Jangan bayangkan semanis gula ya. Harganya Rp 40 ribu per setengah kilogram.

17972194154_38e0a7250a_k

Kemudian ada ‌Mako Pender Jorong. Batang tembakau ini pendek kecil dan daunnya keriting. Harga jualnya Rp 30 ribu per setengah kilogram. Juga ada tembakau Paroke, kemudian tembakau Bandung. Yang ini, warnanya hitam. Tembakau ini paling murah. Hanya Rp 20 ribu per setengah kilogram.

 

Tembakau Garut dan Tradisi Adu Bako

Tembakau Garut dan Tradisi Adu Bako

Tembakau Indonesia memiliki kandungan yang khas dan menakjubkan. Mulai dari tembakau Deli, Temanggung, Garut, Madura, Lombok, dan beberapa tembakau daerah lainnya. Faktor tanah dan lingkungan tumbuh, serta tata laku budayanya menjadi penentu kualitas tembakau. Tak heran jika tembakau Indonesia cukup dikenal sampai manca negara.

Perlu diketahui juga, tembakau Garut adalah satu dari sekian jenis tembakau Indonesia yang cukup dikenal luas. Ada daerah penghasil tembakau di Garut yang kerap menjadi sumber pasokan pabrik rokok yang berada di sekitar Gunung Putri.

Dua merek rokok ternama seperti Rokok Gudang Garam dan Djarum Cokelat mengambil pasokan tembakau dari daerah ini. Tembakau yang tumbuh di deretan gunung besar di Garut, seperti Gunung Cikuray, Papandayan, Gunung Putri dan Gunung Guntur. Tembakau yang tumbuh di sekitaran gunung-gunung itu mampu menghasilkan dan memberikan aroma nikmat.

tingwe

Menurut petani tembakau yang cukup sepuh di Gunung Putri, tanah vulkanik yang berada di kaki gunung Putri dianggap cocok dengan tanaman tembakau yang ditanam petani sekitar. Terbilang satu level dengan tembakau Gunung Sumbing. Kadar nikotinnya bagus.

Saat musim panen tiba, rata-rata daun tembakau ukuran besar yang dihasilkan saat berjumlah 18-20 lembar per kilogram. Sementara untuk ukuran lebih kecil, berjumlah 28 lembar per kilogram. Kadang daun paling kecil tetap bisa dipanen, harganya relatif lebih murah. Namun sedikitnya penghasilan dari situ bisa buat tambahan bayar buruh yang terlibat dalam proses panen. Jenis tembakau paling kecil itu biasanya disebut krosok. Tak jarang beberapa perajin batik tulis menggunakan krosok sebagai bahan baku tinta cair untuk melukis batik.

tembakau

Beberapa tengkulak ada yang masih membutuhkannya, biasanya buat bahan baku cerutu. Biasanya pula daun terkecil sisa panen itu ditiriskan dengan cara ditusuk, kemudian dibikin kering dalam penjemuran selama dua pekan. Barulah setelah itu dipotong-potong.

Salah satu yang menarik dari budaya pertembakauan di Garut adalah berlangsungnya tradisi adu bako. Dalam penentuan harga biasanya petani mengikuti harga pasar. Sehingga tak jarang proses transaksinya dilakukan dengan adu bako.

Tradisi adu bako ini sudah berlangsung cukup lama, dilakukan secara turun temurun. Tujuan sederhananya, tradisi ini dilangsungkan sebagai kegiatan untuk membuktikan kualitas bako yang ditanam petani. Petani yang memiliki kualitas tembakau yang cukup baik akan ditaksir dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan tembakau yang kalah atau dianggap rendah kualitasnya. Sebetulnya kegiatan ini menjadi semacam praktik ijon untuk membeli hasil panen dari tembakau yang sudah diuji melalui ajang adu bako.

tembakauKadang petani mendapatkan lebih dulu uangnya, kemudian disimpan untuk memenuhi berbagai keperluan sehari-hari. Tembakaunya baru nanti menyusul saat panen. Lewat adu bako itulah, sudah bisa dipastikan tembakau yang unggul adalah tembakau yang berkualitas. Bagi mereka yang berani membayarnya, karena sudah menguji kualitas tembakau itu lewat ajang ada bako. Tradisi adu bako ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pemerintah kota Garut. Beberapa tahun terakhir tradisi adu bako menjadi salah satu kegiatan yang diagendakan secara khusus. Bahkan digadang-gadang menjadi daya tarik pariwisata Garut. Selain keindahan panorama gunung dan perkebunan tembakau. Garut memiliki tradisi adu bako yang sudah cukup dikenal luas di tanah Pasundan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tembakau Bisa Menghasilkan Protein Anti Kanker

Tembakau Bisa Menghasilkan Protein Anti Kanker

Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, karena ternyata tanaman tersebut ternyata justru dapat menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker. Hal ini disampaikan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto M.Eng.

daun tembakau

Proposal penelitian tembakau inilah yang membawa Doktor Bioteknologi dari Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang itu meraih penghargaan dari Badan riset Jerman DAAD dan Fraunhofer di Jakarta.

Dalam risetnya itu, Arief mencoba untuk memproduksi protein penting “Growth Colony Stimulating Factor” (GCSF) dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana spp, L.) lokal dari varietas yang paling sesuai “Genjah Kenongo” dari 18 varietas lokal tembakau yang telah ditelitinya.

daun tembakau

Tanaman tembakau ini diambil untuk dimanfaatkan sebagai reaktor penghasil protein GCSF, suatu hormon yang menstimulasi produksi darah.

“Protein dibuat oleh DNA dari tubuh kita, kita masukkan DNA yang dimaksud itu ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan. Kalau tumbuhan itu panen, kita dapat cairannya berupa protein.”

Selain untuk protein anti-kanker GSCF, tembakau sebagai reaktor tersebut ternyata bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.

ladang tembakau

DR Arief Budi Witarto M.Eng. adalah pakar di bidang rekayasa protein dan telah banyak menerima penghargaan. Antara lain, Paramadina Award 2005 untuk bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari Universitas Paramadina dan PII Engineering Award 2005 untuk kategori Adhicipta Rekayasa atau Best Creation in Engineering dari PII/Persatuan Insinyur Indonesia.

Sebelumnya ia juga telah menerima penghargaan lain yaitu Science and Technology Award 2003 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) dan Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 untuk bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa dari LIPI.

Ia juga pernah terpilih sebagai peraih nilai tertinggi untuk mewakili Indonesia bersama empat peneliti muda Indonesia untuk menghadiri Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di kota Lindau Jerman.

Jadi, masih berpikiran negatif soal tembakau? Coba dipikir dan dicek lagi kebenarannya.

Serba-Serbi Penggolongan Mutu (Grade) Tembakau

Serba-Serbi Penggolongan Mutu (Grade) Tembakau

Tak banyak yang tahu, jika tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok punya penggolongan mutu atau grade tersendiri. Ada beberapa tingkatan grade tembakau yang dihasilkan oleh para petani tembakau untuk perusahaan rokok, yakni grade A dan B (yang merupakan mutu terendah), kemudian grade C sampai G (mutu sedang), dan grade H dan I (mutu terbaik).

daun tembakau

Perbedaan grade ini menentukan harga tembakau dari para petani. Semakin bagus grade-nya, semakin mahal harganya. Dan perbedaan harga tembakau grade terbaik dengan yang terendah bisa sangat berbeda jauh. Bayangkan, 1 kilogram tembakau kering grade B harganya di angka 25 ribu, sedangkan tembakau pada grade D bisa mendapai 80 ribu. Sedangkan harga tembakau grade H dan I bisa mencapai 600 ribu.

Penggolongan grade tembakau ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, ia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terlatih yang disebut grader.

tembakau

Grader ini mampu menentukan dengan tepat perbedaan antara berbagai jenis dan mutu tembakau.

Tak ada parameter pasti tentang bagaimana tembakau dikatakan punya grade yang bagus. Murni hanya grader yang tahu. Bahkan, pihak Bagian Perdagangan Pemerintah pun tidak bisa ikut camput dalam urusan grade ini. Yang bisa mereka lakukan sebatas memantau pergerakan harga yang ada di pasar.

rokok

Pabrik-pabrik pengolah tembakau milik perusahaan rokok biasanya punya grader-grader terlatih yang siap memberikan penilaian terhadap mutu tembakau yang dijual oleh petani.

Konon, grader-grader ini adalah orang-orang yang memang punya bakat dari lahir untuk bisa menentukan kualitas tembakau hanya dengan melihat, meraba, dan mencium baunya.

Tembakau Jawa Barat diminati Industri Rokok Luar Negeri

Tembakau Jawa Barat diminati Industri Rokok Luar Negeri

Indonesia merupakan salah satu negara yang punya tembakau dengan kualitas nomor satu di dunia. Maklum saja, sebagai negara dengan perpaduan daerah dan iklim tropis yang sangat ideal, tanaman tembakau bisa tumbuh dengan sangat baik di Indonesia.

tembakau

Setiap tahunnya, tembakau-tembakau terbaik Indonesia diekspor ke luar negeri. Banyak negara yang sangat berminat terhadap tembakau Indonesia.

Salah satu daerah yang tembakaunya dikenal sangat bagus adalah Jawa Barat.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat menyatakan bahwa tembakau dari Jawa Barat banyak dminati oleh pabrikan-pabrikan rokok luar negeri karena punya kualitas yang bagus.

“Tembakau kita diminati di luar negeri untuk masuk pabrikan,” kata Ketua APTI Jabar Nana Suryana.

rokok

Saat ini, beberapa jenis tembakau Jawa Barat jenis tembakau hitam, mole dan krosok sudah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Filipina dan Jerman.

Nilai ekspor tembakau Jawa Barat ini tak main-main. Pada 2017 lalu saja, ekspor tembakau Jawa Barat mencapai 3 ribu ton.

tembakau

Nana mengatakan bahwa besarnya minat negara-negara lain untuk membeli tembakau Indonesia, khususnya Jawa Barat bisa menjadi kesempatan bagi petani untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Tembakau bukanlah tanaman asli dari Indonesia. Hal ini diyakini betul oleh sinology Prof. G. Schlegel. Keyakinan tersebut berdasarkan kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia yang mana ia menemukan bahwa kata tembakau merujuk pada perkataan orang Portugis yakni Tabaco atau tumbaco. 

petani tembakau

Pernyataan tersebut sukar dinalar, apa lagi jika kita melihat tahun berapakah tembakau diperkenalkan atau masuk pada masyarakat Jawa. Secara mudahnya, untuk menelusuri sejarah akan hal ini bisa dimulai dengan mengumpulkan data dari orang-orang lanjut usia di Jawa. Dimulai dari mengumpulkan cerita-cerita, orang-orang tersebut, atau bisa kita sebut sebagai sejarah lisan. Hal ini yang coba dilakukan oleh Rumphius dalam bukunya soal rempah-rempah di Indonesia.

Ia menemukan bahwa sekitar tahun 1496 di tanah Jawa telah diketemukan tembakau. Tahun ini adalah tahun sebelum adanya orang-orang Portugis. Saat itu tembakau sudah digunakan oleh masyarakat Jawa untuk penyembuhan. Belum digunakan sebagai rokok.

Artinya ada kemungkinan bahwa orang-orang Portugis hanya memperkenalkan tembakau sebagai rokok pada masyarakat Jawa.  Namun ada juga pendapat lain, bahwa yang memperkenalkan tembakau sebagai rokok adalah bangsa Belanda. Hal ini berdasarkan keterangan dari karya Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang berjudul The History of Java jilid I. Menurut buku tersebut, tembakau diperkenalkan sebagai rokok dalam adat Jawa sejak tahun 1601.

petani tembakau

Pendapat dari hasil karya Thomas Stamford Raffles ini jika kita telusuri lagi pada buku-buku rujukan hasil karya peneliti Belanda, maka akan didapatkan data bahwa tembakau dan pemakaiannya sebagai rokok telah ada di Jawa pada awal abad ke XVII atau pada tahun 1600-an. Hal ini sesuai dengan naskah Jawa Babad Ing Sangkala yang menyebutkan tembakau telah dimasukkan ke Pulau Jawa bersamaan dengan meninggalnya Panembahan Senapati, ayah Sultan Agung Banten. Ada syair terkenal dari peristiwa ini yaitu:

“Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngudud.”

Artinya: “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok.”

tembakau

Dari catatan Babad Ing Sangkala ini kita bisa mengetahui pada tahun 1600-an masyarakat Jawa telah mengenal tembakau untuk diperuntukkan sebagai rokok. Sayangnya dalam naskah tersebut, tidak tercantum secara jelas tentang siapa yang pertama kali memasukkan tembakau ke Pulau Jawa.

Fredie Blom, Manusia Tertua Asal Afrika yang Tetap Sehat Walau Merokok

Fredie Blom, Manusia Tertua Asal Afrika yang Tetap Sehat Walau Merokok

Umur manusia siapa yang tahu, hanya Tuhan yang tahu. Kadang tak disangka-sangka, orang sehat pun tiba-tiba mati di usia masih terlampau muda. Kadang ada pula orang berumur tua, yang gaya hidupnya jauh dari kata sehat namun masih segar bugar dan tetap hidup sampai saat ini. Logika rasional kita memandang umur manusia biasanya tak lepas dari apa yang dikonsumsi, gaya hidup serta kondisi lingkungan si manusianya. Apakah baik untuk tempat hidup, berkembang biak dan menjalani aktivitas rutin hingga ajal tiba. Namun, logika rasional tersebut tak selamanya bisa kita pegang sebagai bukti nyata untuk mampu bertahan hidup di dunia ini.

orang merokok

Fredie Blum. Lelaki asal Cape Town, Afrika Selatan menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai buruh di sebuah peternakan dan di industri konstruksi di Afrika Selatan. Ia adalah seorang bekas pekerja pertanian, yang kini berusia 114 tahun pada 8 Mei 2018 lalu. Meskipun ini belum diverifikasi oleh Guinness World of Records, saat ini Fredie tercatat sebagai orang tertua yang masih hidup hingga saat ini.

fredie blom

Di usianya yang 114 tahun itu, Fredie Blum masih aktif merokok. Ia sangat sulit sekali melepaskan kebiasaan merokoknya hingga saat ini. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga batang rokok. Rokok yang dihisapnya bukanlah rokok regular dalam kemasan. Melainkan ia melinting sendiri tembakau. Di kampung halamannya, lintingan tembakau ini disebut dengan pil. Susah baginya untuk tidak membakar pil setiap harinya. Keinginan untuk berhenti merokok begitu kuat, namun keinginan untuk mendapatkan embusan temmbakau di dadanya juga sama kuat.

Anehnya, dengan kebiasaan merokok pil di tiap harinya, Fredie justru tidak merasakan efek samping apa pun. Ia merasa sehat bugar dan mampu beraktivitas seperti biasa. Hanya penyakit pada kakinya saja yang terus dirasakannya hingga saat ini. Penyakit yang didapatkan dari tahun lalu, salah satu lututnya bermasalah. Penyakit pada lututnya ini, biasa dianggap sebagai penyakit bagi orang yang berusia lanjut. Freddie Blum masih sanggup berjalan, namun sangat pelan.

fredie blom

Di kampung halamannya, Cape Town, Ia dianggap salah satu orang terkenal, karena umur yang begitu tua, masih tetap sehat dan hidup hingga saat ini. Beberapa media dan masyarakat luar banyak yang meragukan umur Freddie Blum. Namun, semua itu terjawab setelah West Cape Dept of Social Development, mengeluarkan dokumen identitas yang mencatat tanggal lahirnya pada 8 Mei 1904. Bukti ini semakin menguatkan bahwa Fredie Blum adalah manusia sehat yang masih tetap hidup yang berusia 114 tahun.

melinting rokok

Tak ada rahasia, atau resep bagaimana bisa hidup hingga usia ratusan tahun seperti itu. Fredie Blum hanya hidup biasa, tak ada yang spesial nan istimewa. Makanan yang dikonsumsi masih tetap sama, ia suka sekali dengan sayuran. Ia juga sudah berhenti meminum minuman keras beberapa tahun lalu. Ia juga masih tetap melinting dan merokok setiap harinya. Ia juga masih sanggup untuk mencuci pakaiannya sendiri.

Jika kita kembali menggunakan logika rasional bahwa untuk mendapatkan umur hidup yang panjang harus dengan gaya hidup sehat, maka ini terbantahkan dengan adanya Freddie Blum. Ia masih sehat, bugar, mampu beraktivitas seperti biasa, masih merokok hingga saat ini, dan masih tetap hidup di usia 114 tahun. Tetap hidup dan terus melinting tembakau, Fredie!