Merokok Adalah Hak Asasi Manusia

Merokok Adalah Hak Asasi Manusia

Oleh : Mariska Lubis

Bicara soal hak asasi manusia dengan melarang manusia merokok merupakan bentuk pelanggararan hak asasi itu sendiri. Merokok adalah hak asasi manusia dan tidak ada seorang pun yang berhak melarangnya, apalagi bila hingga memotong gaji hanya karena merokok. Hak asasi untuk hidup sehat bebas dari asap rokok juga bukan berarti kemudian melaranggar hak asasi perokok dengan “menyingkirkan” mereka seperti “virus dan pesakitan”. Jelas menjadi bukti bentuk perilaku yang melanggar keadilan dan tidak berlakunya sistem demokrasi karena perokok sudah dijadikan objek oleh yang berpandangan subjektif. Keseimbangan pemikiran objektif dengan menyertakan semua sudut pandang dan kemungkinan yang ada tidak diindahkan. Begitu juga dengan kewajiban asasi manusia yang membuat adil itu benar adil sehingga keadilan benar berlaku dam diterapkan.

Setiap kali kawan dan rekan saya yang berasal dari luar negeri datang berkungjung, saya selalu semangat untuk berkata kepada mereka dan bercerita tentang kebebasan di Indonesia. Indonesia adalah negara yang benar menjunjung tinggi hak asasi manusia dan mendukung kemerdekaan bagi setiap pribadinya dalam hal hak asasi manusia. Berbeda dengan di Singapura dan Amerika terutama, yang seolah benar mendukung hak asasi manusia dan sangat demokratis, tetapi untuk merokok saja susah sekali. Terlalu banyak alasan dan peraturan yang dibuat sehingga tidak ada lagi yang namanya kemerdekaan, kebebasan, apalagi demokrasi. Oleh karena semua itu tidak mampu diterapkan di negara mereka sendiri, maka mereka jadi “rajin menyerang” negara lain untuk menutupi yang sebenanrnya, termasuk Indonesia. Sementara bila dilihat fakta dan kenyataannya, Indonesia sudah lebih mampu menerapkan hak asasi, berlaku adil, dan menerapkan demokrasi lebih baik daripada yang lain.

Itu dulu, sekarang masa sudah berganti dan situasi berubah. Tidak bisa lagi saya mengatakan hal yang sama. Apa yang dilakukan di kedua negara itu dilakukan juga di Indonesia, terutama di Jakarta. Alasan yang digunakan juga sama, tidak ada variasi pemikiran yang lebih matang dan jelas. Menjadi bukti baru bagi saya, betapa Indonesia sudah kehilangan ke-Indonesiaannya dan menjadi sama dengan negara-negara itu. Mungkin bagi sebagian, hal ini bisa dianggap sebagai kemajuan yang modern namun bagi saya, ini adalah bukti dari sebuah kemunduran, primordialisme, dan sama sekali jauh dari kata modern karena pemikiran yang tertinggal dan primitif. Apa yang bisa dibanggakan bila negara ini terus menerus meniru dan “dijajah” oleh doktrin serta pemikiran yang menguasai sehingga terus dikuasai?!

Saya masih ingat ketika sosialisasi program anti rokok di mal dilakukan, beriringan dengan sosialisasi pemeriksaan emisi kendaraan bermotor. Jika dipikirkan, kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung, paru-paru, dan lain sebagainya karena polusi udara akibat asap kendaraan bermotor, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok. Menurut salah satu penelitian, asap kendaraan bermotor yang mengandung zat dan racun berbahaya berpotensi mempengaruhi kesehatan hingga 95 persen. Sementara asap rokok? Tidak lebih dari 1 persen saja. Namun, mengapa asap rokok lebih diprioritaskan? Padahal, asap kendaraan ini bukan hanya berpengaruh pada perokok saja dan orang yang menghisap asap rokok saja tetapi semua!

Bila kita bicara soal teori konspirasi, selalu ada kemungkinan hal ini dapat terjadi karena tidak ada desakan yang hebat dari negara luar soal asap kendaraan bermotor ini. Amerika sendiri yang sudah harus berhadapan dengan hujan asam akibat polusi udara industrinya, begitu juga dengan China, hingga saat ini tidak bisa menghentikan percepatan pertumbuhan industri dan kendaraan bermotor. Mana mungkin juga bisa dihentikan bila industri merupakan jalan utama mendapatkan penghasilan?! Lantas, bagaimana kemudian menutupi masalah besar ini? Apalagi kalau tidak dengan membesar-besarkan hal yang kecil dan remeh? Di era pembodohan dan kebodohan dengan jumlah audience people yang sedemikian besarnya, sangatlah mudah untuk mempengaruhi dan digiring. Cukup kerjasama dengan promosi yang gila-gilaan, orang akan mudah sekali dibuat yakin dan percaya. Ditambah lagi dengan banyaknya problema politik dan ekonomi, kemampuan dan keinginan untuk berpikir lebih lanjut dan mendalam juga berkurang. Apa yang sulit?!

Hak asasi manusia yang terus digembar-gemborkan juga sama sekali tidak menyentuh soal kewajiban asasi manusia. Sementara pembicaraan hak asasi manusia selalu dititikberatkan pada perilaku adil dan keadilan. Bagaimana bisa adil bila selalu menuntut hak sementara kewajiban tidak pernah disentuh? Ini baru yang paling mendasar saja, belum lagi menyangkut soal prioritas dan masalah-masalah yang berkaitan dengan prioritas itu sendiri. Jika memang benar isu kesehatan akibat asap itu menjadi prioritas, lantas mengapa asap rokok yang dibesar-besarkan dan menjadi prioritas? Hak asasi perokok kenapa diabaikan? Suka tidak suka sifatnya relatif. Jika saya tidak suka dengan karyawan saya yang menonton sinetron karena sudah merusak bukan hanya fisik tetapi lenih parah lagi, yaitu pemikiran dan menghancurkan masa depan lewat pembodohan dan kebodohan, lantas apakah saya berhak melarang, mendenda, dan memotong gaji mereka yang melakukannya?!

Sungguh menyedihkan sekali Indonesia ini, ya! Mau-maunya terus menjadi bodoh dan dibodohi, terjajah dan dijajah. Asyik saja berusaha keras menjadi bangsa lain dan mengubah identitas kejatian diri. Tertipu dan ditipu oleh gempuran strategi hak asasi manusia tanpa pernah mau belajar dari sejarah maupun melihat diri sendiri yang sesungguhnya. Rokok bukan hal yang baru bagi budaya Indonesia dan bukan hanya sebuah industri bila mau melihatnya dari sudut pandang yang lain. Rokok kretek merupakan salah satu identitas budaya bangsa yang seharusnya diakui dan  bisa dibanggakan. Tidak kalah dengan cerutu Kuba dan cerutu-cerutu dari negeri lain, kok! Mengapa tidak ada yang mau menjadikan itu sebagai identitas bangsa ini?!

Asap rokok memang bisa dianggap berbahaya tetapi banyak yang lebih berbahaya dari asap rokok. Seorang pemimpin yang baik dan benar mampu memimpin tentunya tidak akam meneruskan semua kebodohan, pembodohan, serta penjajahan bentuk baru ini. Tidak akan juga mendukung segala bentuk beserta alasan-alasanya karena mampu memiliki identitas sendiri dan memiliki pandangan jauh ke depan. Tidak juga menjadi tiran dan hegemon yang berlindung di balik kata demokrasi dan keadilan, tetapi benar mampu menjadi adil dan menegakkan keadilan. Prioritas adalah utama, apa sebetulnya harus diprioritaskan dan menjadi tujuan?! Merokok dilarang tapi kalau menghisap cerutu itu lebih bergengsi, ya?! Hebat betul!!!

Semua orang berhak untuk merokok sama besarnya seperti juga berhak untuk mendapatkan hidup sehat. Semua orang berkewajiban untuk saling menghormati dan berlaku adil tanpa kecuali. Tidak ada ekslusifitas ataupun “penyingkiran” yang adil dan tidak ada kemerdekaan bila selalu ada pemaksaan. Segala sesuatunya memiliki banyak sisi yang dapat dilihat dan keseimbangan baru tercapai bila mampu berpikiran objektif dan tidak hanya memprioritaskam sebuah kepentingan, tetapi mencakup semua kepentingan terkait dan menyeluruh. Indonesia adalah surga, Indonesia adalah tempat di mana kemerdekaan itu benar ada, bila Indonesia mampu bangga menjadi Indonesia. Bukan seperti Amerika atau negara lain manapun di muka bumi ini. Berhentilah meniru! Buktikan Indonesia mampu! Merokok adalah hak asasi manusia, kok!!!

Sumber

Advertisements

Junk Food lebih Berbahaya daripada Rokok

Junk Food lebih Berbahaya daripada Rokok

Mana lebih berbahaya satu piring ayam goreng kfc ditambah 1 cup coca-cola dengan 1 bungkus rokok kalau dikonsumsi tiap hari?

Satu potong ayam goreng broiler yang digoreng oleh KFC sangat lebih berbahaya karena zat-zat kimia yang disuntikkan untuk pertumbuhan ayam tersebut, belum lagi dari minuman nya, pewarna yang ditambahkan dalam minuman lebih berbahaya menimbulkan kanker daripada bahaya kanker yang konon dibuat oleh rokok.

Sumber

Para Perokok Ini Tetap Sehat dan Bugar Sampai Tua

Para Perokok Ini Tetap Sehat dan Bugar Sampai Tua

Asap rokok tidak sehat bagi kesehatan semua orang. Kenyataan itulah yang diyakini sebagian besar orang. Memang telah banyak fakta-fakta yang menyatakan bahwa merokok itu tidak sehat. Bahkan untuk para perokok pasif pun efeknya lebih buruk.

Rokok mengandung sekian ribu zat yang mematikan. Sehingga rokokdianggap berbahaya, karena itu penjualannya juga harus lebih terbatas, harus berusia minimal 18 tahun dan seterusnya.

Kampanye anti rokok pun terus dilakukan. Bahkan peringatan yang ada di bungkus rokok pun dirasa belum cukup. Hari ini, Selasa, 24 Juni 2014 bungkus peraturan baru diberlakukan, bungkus rokok, selain peringatan bahwa rokok bisa menyebabkan kanker dan lainnya, mulai sekarang ditambahkan gambar-gambar menyeramkan akibat yang ditimbulkan karena merokok.

Namun di tempat lain, bahaya rokok itu tak pernah menjangkau orang-orang yang kebetulan tinggal di daerah-daerah jauh dari ibu kota ini. Rupanya mereka mempunyai konsep sehat sendiri.

Sigit Budhi Setiawan dan Marlufti Yoandinas memaparkan fakta-fakta bahwa merokok itu tidak menyebabkan penyakit seperti yang diinformasikan selama ini.

Melalui buku “Mereka yang Melampaui Waktu, Sigit Budi yang sebagian besar hidupnya dilalui di kota tembaku Jember itu menjumpai orang-orang yang tetap bugar meskipun mereka merokok dari usia muda sampai sekarang mendekati senja.

Di dalam buku setebal 194 halaman ini, kedua penulis ini mengisahkan sosok-sosok renta namun mereka tidak pernah sakit serius, apalagi sakit serius. Beberapa contohnya misalnya:

–    Atmo Diharjo yang kini sudah berusia 92 tahun. Kakek yang tinggal sendiri ini tetap bisa menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai petani di daerah Gunung kidul Yogyakarta. Atmo Diharjo merokok sejak usia muda

–    Ni Wayan Kentel, perempuan Bali ini saat ini telah berusia 79 tahun. Kesibukan hariannya adalah berkeliling kampong menjajakan dagangannya. Perempuan ini mengaku telah merokok sejak usia 15 tahun dan sampai sekarang masih sehat.

Ada duapuluhan cerita tentang orang-orang yang mempunyai kebiasaan merokok sejak muda namun tetap sehat dan tak pernah sakit sampai usia senja. Bagaimana para dokter melihat fakta-fakta ini?

Sumber.. 

Sisi Positif dari Rokok dan Kopi

Sisi Positif dari Rokok dan Kopi

Sebagian berdalih politik, ekonomi, sosial dsb. Fakta ilmiah akan berdalih, ya, ilmiah. Mari kita lihat apa saja hasil penelitian yang mengungkapkan manfaat kopi dan rokok:

Penyakit Parkinson
Baik kopi dan rokok sama-sama mengurangi resiko penyakit parkinson. Dalam Journal of Alzheimer’s Disease, Vo. 20, Supplement 1, 2010, pp: 221-238 ditunjukkan kalau ada asosiasi negatif antara asupan kafein dan resiko penyakit parkinson. Dalam jurnal Neurology tanggal 10 Maret 2010, ditunjukkan kalau perokok jangka panjang berkurang resikonya menderita Parkinson.

Gliomas
Gliomas adalah sejenis tumor otak. Penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition bulan September 2010 menunjukkan kalau konsumsi kopi dan teh mengurangi resiko glioma.

Ingatan dan Fokus
Dalam jurnal Neuron tanggal 2007, nikotin di dalam rokok meningkatkan ingatan dan fokus.

Kanker Faring dan Oral
Peminum kopi berkala ditemukan dalam penelitian yang diterbitkan bulan Juni 2010 kalau ia mengalami penurunan resiko kanker oral dan faring sebesar 39 persen.

Sindrom Karposi
Sindrom Karposi adalah sejenis penyakit kulit langka. Bulan maret 2001, Lembaga Penelitian Kanker Nasional menemukan kalau resiko sindrom Karposi menurun pada perokok tetap.

Kanker Payudara
Pada wanita dengan mutasi gen tertentu, resiko kanker payudara justru berkurang jika mereka merokok. Demikian hasil penelitian yang diterbitkan tahun 1998 dalam Journal of the National Cancer Institute. Kopi juga berpengaruh yang sama, menurunkan resiko kanker payudara pada wanita yang meminum kopi seduh, seperti dalam  paper yang diterbitkan bulan Juni 2010.

Ulcerative Colitis
Ulcerative colitis adalah sejenis penyakit pencernaan yang menyerang usus besar. Hasil penelitian bulan Juni 1999 menunjukkan resiko menderita ulcer colitive lebih rendah pada perokok.

Kanker Usus Besar
Penelitian dalam journal of Agricultural and Food Chemistry bulan November 2003 menunjukkan kalau antioksidan yang terdapat dalam kopi melindungi peminum terhadap kanker usus besar.

Kerusakan Sendi
Bagi penderita rheumatoid arthritis, sifat anti pendarahan pada nikotin menurunkan laju kerusakan sendi. Demikian laporan tahun 2007.

Gout
Gout adalah sejenis rasa sakit sendi. Yayasan Arthritis tahun 2007 menemukan kalau pria yang minum empat cangkir kopi atau lebih dalam sehari memiliki resiko gout yang lebih rendah.

Orang meminum kopi karena mereka suka rasanya dan efek stimulan dalam kafein, bukan nilai gizinya. Kafein biasanya adalah komponen yang paling merusak.   Karenanya asupan kafein masyarakat harus dibatasi hanya 3 gelas kopi (400 mg) per hari untuk mengurangi resikonya.

Dari contoh-contoh penelitian di atas, sepertinya tidak ada usaha serius di kalangan ilmiah untuk melakukan penelitian besar-besaran untuk menunjukkan kopi dan rokok boleh dikonsumsi. Dalam studi-studi di atas, sebagian besar kesimpulan dibuat dengan pernyataan kalau penelitian lebih lanjut dibutuhkan atau kalau bahaya lain tidak diukur.

Bertahun-tahun lalu, perusahaan tembakau mungkin mampu menghasilkan bukti kalau merokok tidak terlalu berbahaya. Tapi sekarang, kita tahu sekarang kalau merokok memang jauh lebih merusak daripada menyehatkan. Ia memicu lebih banyak jenis kanker umum daripada menghambat beberapa jenis kanker langka. Yang kami tunjukkan disini sama sekali tidak bertujuan menyarankan anda merokok. Kami hanya menunjukkan, bahkan racunpun dapat menjadi obat.

Sumber

Wiebe, R. 2010. Research Reveals the Health Benefits  of Coffee and Smoking. Suite 101.

Referensi lanjut

João Costa, Nuno Lunet , Catarina Santos, João Santos, António Vaz-Carneiro. Caffeine Exposure and the Risk of Parkinson’s Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis of Observational Studies. JOURNAL OF ALZHEIMER’S DISEASE. Volume 20, Supplement 1, 2010, Pages 221-238
H. Chen, et al. Smoking Duration Intensity and Risk of Parkinson’s Disease. Neurology March 16, 2010 vol. 74 no. 11 878-884
Dominique S Michaud, et al. Coffee and tea intake and risk of brain tumors in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) cohort study. Am J Clin Nutr November 2010 vol. 92 no. 5 1145-1150
Jonathan J. Couey et al. Distributed Network Actions by Nicotine Increase the Threshold for Spike-Timing-Dependent Plasticity in Prefrontal Cortex. Neuron, Volume 54, Issue 1, 73-87, 5 April 2007
Carlotta Galeone et al. Coffee and Tea Intake and Risk of Head and Neck Cancer: Pooled Analysis in the International Head and Neck Cancer Epidemiology Consortium. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev July 2010 19:1723-1736
Goedert JJ, et al. Risk factors for classical Kaposi’s sarcoma. J Natl Cancer Inst 2002; 94:1712-1718.
John A. Baron and Robert W. Haile. Protective Effect of Cigarette Smoking on Breast Cancer Risk in Women With BRCA1 or BRCA2 Mutations??? JNCI J Natl Cancer Inst (1998) 90 (10): 726-727.
Lena Maria Nilsson, Ingegerd Johansson, Per Lenner, Bernt Lindahl and Bethany Van Guelpen. Consumption of filtered and boiled coffee and the risk of incident cancer: a prospective cohort study. Cancer Causes and Control, Volume 21, Number 10, 1533-1544, DOI: 10.1007/s10552-010-9582-x
M Guslandi. Nicotine treatment for ulcerative colitis. Br J Clin Pharmacol. 1999 October; 48(4): 481–484.
Veronika Somoza, Michael Lindenmeier, Elisabeth Wenzel, Oliver Frank, Helmut F. Erbersdobler, and Thomas Hofmann. Activity-Guided Identification of a Chemopreventive Compound in Coffee Beverage Using in Vitro and in Vivo Techniques. Journal of Agricultural and Food Chemistry, Nov. 5, 2003. pp 6861–6869
A Finckh, S Dehler, K H Costenbader, C Gabay. Cigarette smoking and radiographic progression in rheumatoid arthritis. Ann Rheum Dis 2007;66:1066-1071 Published Online First: 19 January 2007
Choi HK, Willett W, Curhan G. Coffee consumption and risk of incident gout in men: a prospective study. Arthritis Rheum. June 2007 (DOI: 10.1002/art.22712).
Choi HK, Curhan G. Coffee, tea, and caffeine consumption and serum uric acid level: the Third National Health and Nutrition Examination Survey. Arthritis Rheum (Arthritis Care Res). June 2007 (DOI: 10.1002/art.22762).

Pemain Sepakbola dan Rokok

Pemain Sepakbola dan Rokok

Seiring dengan berbagai kampanye anti rokok yang kian marak, maka semakin banyak pula berbagai artikel yang mengatakan bahwa rokokadalah sumber dari berbagai macam penyakit. Dan kemudian dilanjutkan dengan satu stigma bahwa seorang perokok adalah seorang yang sakit. Yang artinya, kesehatan dan kebugaran dari seorang perokokpun diragukan. Dan lebih jauh lagi, orang yang sakit adalah orang yang tidak berprestasi, dan segala macam lainya.

Di Eropa, kampanye anti rokok tersebut bahkan sudah masuk dalam ranah sepakbola. Baru-baru ini beberapa klub sepakbola dan beberapa pemain diantaranya juga disibukan dengan kampanye anti rokok. Barcelona yang mempunyai segudang pemain top adalah salah satu pioneer dari kampanye tersebut. Adalah Carles Puyol, Xavi Hernandes dan Andreas Iniesta yang menjadi motor anti rokok dari klub tersebut. Untung saja Cesh Fabregas yang merupakan pesepakbola idola saya, tidak ikut andil.

Namun demikian, tak sedikit pula dari pemain sepakbola papan atas yang juga seorang perokok. Yang tentunya mempunyai skil yang tinggi dan prestasi yang tak kalah dari mereka yang anti rokok. Berikut ini adalah mereka para pemain sepakbola yang juga adalah seorang perokok:

Diego Armando Maradona

Siapa tak kenal pemain satu ini. Salah satu pemain legendaris yang dimiliki oleh dunia. Kegesitanya dalam mengolah si kulit bundar, dipadukan dengan kecerdikan dan kecerdasanya, menghasilkan prestasi yang segudang. Dibalik kelegendaanya, ternyata pemain ini juga adalah seorang perokok aktif. Artinya seorang perokok tidaklah berbanding terbalik dengan prestasinya dilapangan. Bahkan karena kemampuanya yang hebat tersebut, dia bahkan dipuja layaknya Tuhan bagi beberapa orang di Argentina.

Zinedine Zidane

Ini adalah legenda lain dari dunia sepakbola. Pemain ini dikenal dengan kemampuan penguasaan dan dribbel bola yang fantastis. Gelar piala dunia, peobatan pemain terbaik dunia sampai dengan berbagai prestasi di klub telah ditorehkan pemain yang digadang-gadang mempunyai keseimbangan grafitasi yang tinggi, yang membuatnya memiliki kemampuan mengolah bola dengan luar biasa. Pameo yang mengatakan bahwa “seorang Prancis itu harus merokok” sepertinya telah melekat pada dirinya. Menjelang semi final piala dunia 2006 melawan Protugal, dia tertangkap kamera sedang merokok.

Wayne Rooney

Romornya dia dapat menghabiskan sebungkus rokok dalam satu hari. Namun lihat saja kemampuan dia dilapangan dan peran besarnya bersama klubnya Manchester United atau bagi tim nasional Inggris.  Tanpa kehadirnya, kesebelasan-kesebelasan tersebut seperti tak mempunyai taji di lapangan. Berbagai peringatan dari sang pelatih seperti tak dia indahkan, karena tak hanya sekali dia diberi peringatan oleh Ferguson. Namun sepertinya, merokok tak mempengaruhi permainanya di lapangan. Tetap saja dia mempunyai fisik dan kemampuan yang hebat.

Ashely Cole

Bek kiri Chelsea yang sebelumnya bermain untuk Arsenal ini pernah tertangkap kamera sedang merokok disuatu tempat. Dari gambar yang diambil tersebut, terlihat dia seperti sudah terbiasa menghisap rokok. Berbagai macam wacana tentang bahaya merokok bagi kesehatan, sepertinya tidak dia terima mentah-mentah. Bahkan pada satu kesempatan, dia pernah membantah dampak negative yang ditimbulkan akibat merokok. Hal tersebut dia tunjukan dengan prestasinya di lapangan yang selalu menjadi pilihan utama di sektor kiri pertahanan tim nasional Inggris dan mampu menghantarkan Chelsea menjadi juara liga Champions tahun lalu.

Mario Balotelli

Sosok yang satu ini memang tak henti-hentinya menjadi pembicaraan di media, baik kemampuanya di lapangan ataupun perilakunya diluar lapangan. Dan salah satu yang kerap kali diberitakan oleh media adalah kebiasaan merokoknya yang tidak bisa dia hentikan. Bahkan Roberto Mancini, pelatihnya di Manchester City pernah menegurnya dengan keras karena merokok diruang ganti pemain. Namun pemain yang kerap menjadi korban rasialis tersebut seperti tak menghiraukan apa yang diucapkan sang pelatih. Nyatanya dia selalu tampil luar biasa jika dimainkan oleh pelatih.

Tentu masih banyak sekali para pemain sepakbola yang masih aktif ataupun yang sudah menjadi legenda dan juga perokok. Dan yang tersebut diatas hanyalah sebagian kecil saja. Sebtulah Dimitar Berbatov, Ronado Luis Nazario de Lima, Francesco Macheda, Mezut Ozil, Fabian Barthez, Gerard Pique, William Gallas, Paul “Gazza” Gascoigne, Slevan Bilic, David Ginola, Joey Barton, Alesandro Nesta, Frank Rijkaard dan lainya.

Mereka membalikan berbagai macam mitos tentang orang yang tidak merokok berbanding lurus dengan prestasi. Dan sederhana cara mereka membuktikanya. Segudang prestasi dan pengakuan dunia atas kemampuanya mengolah si kulit bundar.

Jakarta, 21 September 2012

Alfabregas

Sumber..
Penikmat rokok dan sepakbola