Kampanye anti-rokok Tere Liye menuai kritik

Sastrawan yang telah menerbitkan buku-buku best seller Tere Liye, diprotes pengagum lantaran kampanyekan antirokok di laman fanpage Facebook. Dalam kampanyenya, Tere Liye menuliskan: “Keuntungan bersih PT HM Sampoerna tahun 2014 adalah 10,1 triliun rupiah. Kalau gaji kalian 10 juta/bulan, maka kalian butuh nyaris 1.000.000 bulan bekerja agar menyamai untung perusahaan rokok ini.”

Sekilas, pernyataan Tere Liye ini terkesan matematis, bahwa pengusaha rokok Indonesia jauh di atas penghasilan para perokok. Juga semestinya orang miskin tidak memperkaya orang-orang yang sudah sangat kaya.

“Tapi ya sekilas saja. Kalau sudah dua kilas, akan tampak jika sudup pandangnya agak memprihatinkan. Maksud saya, kalau memang mau konsisten memakai nalar perbandingan ala begituan, kenapa nggak sekalian Mas Tere pakai contoh pola-pola konsumsi yang lain?” tanya pengagum Tere Liye sebagai dimuat di mojok.co pada 6 Juli 2015 lalu.

Ia kemudian menyampaikan contoh-contoh konsumsi lain, bagaimana konsumen mie instan dan juga pengguna jasa layanan telekomunikasi Telkomsel  atau Indosat yang jumlah uangnya tak bisa menandingi keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut.

“Sekali lagi, logikanya matematikanya boleh sih. Tapi konteksnya wagu (tak tepat),” katanya, apalagi untuk seorang penulis yang menulis Negeri Para Bedebah.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Protes Larangan Merokok dari Penjara

Larangan  merokok yang diberlakukan pada Rabu, (1/7/2015), di seluruh penjara di negara bagian Victoria, Australia, diprotes oleh narapidana dari LP Metropolitan Remand Centre, Ravenhaal, sekitar 24 kilometer dari pusat kota Melbrourne.

Protes dari penjara ini dilakukan dengan sejumlah narapidana yang menutup wajahnya kemudian melanggar batas keamanan dan sampai merusak sejumlah fasilitas publik.  Dari aksi yang dilakukan dari pukul 12.00 sampai 18.00 sempat membuat pihak keamanan kewalahan.

Kebijakan pelarangan merokok yang sewenang-wenang di penjara menjadi sebabnya, karena kebijakan baru ini tidak memberikan tempat bagi narapidana yang merokok.

Komisioner penjara mengatakan lembaga pemasyarakatan telah melakukan persiapan selama 18 bulan untuk mengantisipasi pemberlakuan larangan merokok.

Salah satu langkah antisipasi  yang dilakukan memaksa narapidana merokok untuk mengikuti program berhenti merokok. Tetapi, upaya pemaksaan tersebut gagal. Dan berakhir dengan aksi protes narapidana baik yang merokok dan tidak sehari sebelum pemberlakuan aturan larangan merokok.

“Narapidana di LP Remand ….mereka bukan pihak yang banyak menekan kami terkait rencana penerapan aturan larangan merokok ini karena mereka relatif baru,” kata Komisioner Penjara seperti yang dikutip Australia Plus ABC.

Gambar: Eko Susanto
Sumber: rokokindonesia.com

Perokok Pasif Tak Rentan Kena Kanker Paru

manfaat rokok

Selama ini orang awam diberi pemahaman jika berada dekat seorang perokok aktif akan meningkatkan peluang mereka terkena gangguan pernapasan hinga kanker paru. Namun sebuah studi terbaru dari AS mengatakan hal ini tidaklah benar.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Stanford University menemukan bukti nyata bahwa merokok memiliki ketertarikan yang kuat dengan kanker, tapi tidak bagi perokok pasif. Hanya yang tinggal satu rumah dengan perokok aktif selama 30 tahun yang berpeluang untuk mengidap kanker paru.

Dengan mengamati data 76.304 partisipasi wanita, terutama tentang papara rokok pasif mereka sejak kecil, paparan rokok pasif mereka di rumah setelah dewasa dan paparan rokok pasif di tempat kerja. Di situ tercatat 901 orang terkena kanker paru dalam kurun 10,5 tahun.

Selain itu peneliti memastikan bahwa peluang kanker paru pada perokok aktif 13 kali lebih besar daripada yang tidak pernah merokok dan empat lebih besar terjadi pada mantan perokok. Yang jelas tinggi rendahnya risiko kanker paru, baik bagi perokok yang masih aktif maupun mantan perokok, bergantung pada tingkat paparan rokok mereka.

Namun pada partisipan yang tidak pernah merokok maupun yang menjadi perokok pasif tidak ditemukan adanya risiko kanker paru secara signifikan.

“Satu-satunya kategori paparan yang ditemukan studi ini adalah adanya tren peningkatan risiko pada orang-orang yang tinggal serumah dengan seorang perokok aktif selama 30 tahun atau lebih,” kata peniliti Ange Wang, mahasiswa kedokteran dari Stanfors University. Dia mempresentasikan hasil temuan ini dalam pertemuan American Society of Oncology di Chicago pada 2013.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: rokokindonesia.com

Perokok Pasif Hanya Bualan Semu

Sejak Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mempublikasikan penelitian perokok pasif, untuk menyebut orang-orang yang tinggal dan hidup berdekatan dengan para perokok, mempunyai akibat mengidap penyakit paru-paru yang sama dengan perokok aktif pada 1992.  Data tersebut sering didaur ulang hingga sekarang tanpa lagi mempertanyakan secara kritis kebenaran dan maksud tersembunyi di balik penelitian ini.

Padahal Congressional Research Service (CSR) telah mengeluarkan laporan penelitian kaitan antara perokok pasif dengan penyakit paru-paru dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru-paru.

Dari penelitian yang dilakukan selama 20 bulan dan melibatkan 35.000 responden yang tidak pernah merokok selama 39 tahun di California, CSR akhirnya membuat publikasi ilmiah yang menyatakan tak ada hubungan statistik yang signifikan antara paparan perokok pasif dan kematian akibat kanker paru-paru.

Ternyata studi ini bukanlah yang pertama menyatakan bahwa tak ada kaitan antara kanker paru dengan perokok pasif. Bahkan antara tahun 1959-1989, dua pentolan kampanye antirokok di AS bernama James Enstrom dan Goeffrey Kabat melakukan survey terhadap 118.094 California untuk membuktikan apakah merokok benar-benar memberikan efek samping yang mengerikan pada orang-orang terdekat pada perokok.

Keduanya melaporkan paparan rokok dari lingkungan atau biasa disebut dengan “Perokok pasif” tidaklah menaikkan risiko kanker paru maupun penyakit jantung seseorang secara signifikan, bahkan ketika mereka terpapar bertahun-tahun.

Gambar: Eko Susanto

Sumber: Rokok Indonesia