MENEGUR ORANG MEROKOK DI DALAM ANGKUTAN UMUM

MENEGUR ORANG MEROKOK DI DALAM ANGKUTAN UMUM

Mendapati orang merokok di angkutan umum, apalagi tanpa izin memang menyusahkan, terutama bagi Anda yang tidak tahan dengan aroma asap tembakau. Pernah suatu kali, dalam perjalanan, saya bertemu dengan seorang perokok yang tidak peduli dengan keadaan sekitar, ia dengan enaknya merokok di dalam bis, padahal di sekitarnya, nampak jelas ada beberapa penumpang yang merasa terganggu dengan asap rokok.

Orang Merokok

Nah, jenis-jenis perokok tidak tahu diri ini sebenarnya bisa kita tegur, asalkan kita berani dan menegurnya dengan cara yang baik-baik, agar tidak menimbulkan masalah yang berlanjut.

Rokok

Ada beberapa cara yang bisa anda gunakan untuk menegur orang merokok di kendaraan umum, yaitu:

1. Teguran kode
Ini adalah teguran yang tidak langsung dilakukan dengan lisan, melainkan dengan kode-kode tertentu, misalnya dengan terbatuk-batuk atau dengan berlagak mengusir asap rokok yang ada di depan anda. Para perokok yang masih punya hati dan masih punya malu harusnya peka dan mau menghentikan aktivitas merokoknya.

2. Teguran Langsung
Ini teguran kedua yang bisa dilakukan jika teguran kode tidak mampu menghentikan kegiatan si perokok. Cukup teur dengan kata-kata yang baik. “Mas, maaf, kami ndak tahan dengan asap rokok mas, jadi kalau bisa, merokoknya berhenti dulu, dilanjutkan nanti kalau sudah turun,”

3. Teguran Kasar
Ini adalah teguran pamungkas. Bisa dilakukan jika Teguran pertama dan teguran kedua tidak mempan. Gunakan kata-kata yang keras dan defensif. “Mas, Kamu tahu nggak, di kendaraan umum itu, aturannya tidak boleh merokok, kalau mas masih saja merokok di angkot ini, sebaiknya turun saja, dasar manusia ndak paham aturan,”

Rokok

Nah, itulah tiga cara tingkatan yang bisa anda lakukan untuk menegur orang merokok. Silahkan pilih yang menurut anda nyaman dan bisa anda praktekkan.

Foto oleh : Eko Susanto

Merokok Adalah Hak Asasi Manusia

Merokok Adalah Hak Asasi Manusia

Oleh : Mariska Lubis

Bicara soal hak asasi manusia dengan melarang manusia merokok merupakan bentuk pelanggararan hak asasi itu sendiri. Merokok adalah hak asasi manusia dan tidak ada seorang pun yang berhak melarangnya, apalagi bila hingga memotong gaji hanya karena merokok. Hak asasi untuk hidup sehat bebas dari asap rokok juga bukan berarti kemudian melaranggar hak asasi perokok dengan “menyingkirkan” mereka seperti “virus dan pesakitan”. Jelas menjadi bukti bentuk perilaku yang melanggar keadilan dan tidak berlakunya sistem demokrasi karena perokok sudah dijadikan objek oleh yang berpandangan subjektif. Keseimbangan pemikiran objektif dengan menyertakan semua sudut pandang dan kemungkinan yang ada tidak diindahkan. Begitu juga dengan kewajiban asasi manusia yang membuat adil itu benar adil sehingga keadilan benar berlaku dam diterapkan.

Setiap kali kawan dan rekan saya yang berasal dari luar negeri datang berkungjung, saya selalu semangat untuk berkata kepada mereka dan bercerita tentang kebebasan di Indonesia. Indonesia adalah negara yang benar menjunjung tinggi hak asasi manusia dan mendukung kemerdekaan bagi setiap pribadinya dalam hal hak asasi manusia. Berbeda dengan di Singapura dan Amerika terutama, yang seolah benar mendukung hak asasi manusia dan sangat demokratis, tetapi untuk merokok saja susah sekali. Terlalu banyak alasan dan peraturan yang dibuat sehingga tidak ada lagi yang namanya kemerdekaan, kebebasan, apalagi demokrasi. Oleh karena semua itu tidak mampu diterapkan di negara mereka sendiri, maka mereka jadi “rajin menyerang” negara lain untuk menutupi yang sebenanrnya, termasuk Indonesia. Sementara bila dilihat fakta dan kenyataannya, Indonesia sudah lebih mampu menerapkan hak asasi, berlaku adil, dan menerapkan demokrasi lebih baik daripada yang lain.

Itu dulu, sekarang masa sudah berganti dan situasi berubah. Tidak bisa lagi saya mengatakan hal yang sama. Apa yang dilakukan di kedua negara itu dilakukan juga di Indonesia, terutama di Jakarta. Alasan yang digunakan juga sama, tidak ada variasi pemikiran yang lebih matang dan jelas. Menjadi bukti baru bagi saya, betapa Indonesia sudah kehilangan ke-Indonesiaannya dan menjadi sama dengan negara-negara itu. Mungkin bagi sebagian, hal ini bisa dianggap sebagai kemajuan yang modern namun bagi saya, ini adalah bukti dari sebuah kemunduran, primordialisme, dan sama sekali jauh dari kata modern karena pemikiran yang tertinggal dan primitif. Apa yang bisa dibanggakan bila negara ini terus menerus meniru dan “dijajah” oleh doktrin serta pemikiran yang menguasai sehingga terus dikuasai?!

Saya masih ingat ketika sosialisasi program anti rokok di mal dilakukan, beriringan dengan sosialisasi pemeriksaan emisi kendaraan bermotor. Jika dipikirkan, kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung, paru-paru, dan lain sebagainya karena polusi udara akibat asap kendaraan bermotor, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok. Menurut salah satu penelitian, asap kendaraan bermotor yang mengandung zat dan racun berbahaya berpotensi mempengaruhi kesehatan hingga 95 persen. Sementara asap rokok? Tidak lebih dari 1 persen saja. Namun, mengapa asap rokok lebih diprioritaskan? Padahal, asap kendaraan ini bukan hanya berpengaruh pada perokok saja dan orang yang menghisap asap rokok saja tetapi semua!

Bila kita bicara soal teori konspirasi, selalu ada kemungkinan hal ini dapat terjadi karena tidak ada desakan yang hebat dari negara luar soal asap kendaraan bermotor ini. Amerika sendiri yang sudah harus berhadapan dengan hujan asam akibat polusi udara industrinya, begitu juga dengan China, hingga saat ini tidak bisa menghentikan percepatan pertumbuhan industri dan kendaraan bermotor. Mana mungkin juga bisa dihentikan bila industri merupakan jalan utama mendapatkan penghasilan?! Lantas, bagaimana kemudian menutupi masalah besar ini? Apalagi kalau tidak dengan membesar-besarkan hal yang kecil dan remeh? Di era pembodohan dan kebodohan dengan jumlah audience people yang sedemikian besarnya, sangatlah mudah untuk mempengaruhi dan digiring. Cukup kerjasama dengan promosi yang gila-gilaan, orang akan mudah sekali dibuat yakin dan percaya. Ditambah lagi dengan banyaknya problema politik dan ekonomi, kemampuan dan keinginan untuk berpikir lebih lanjut dan mendalam juga berkurang. Apa yang sulit?!

Hak asasi manusia yang terus digembar-gemborkan juga sama sekali tidak menyentuh soal kewajiban asasi manusia. Sementara pembicaraan hak asasi manusia selalu dititikberatkan pada perilaku adil dan keadilan. Bagaimana bisa adil bila selalu menuntut hak sementara kewajiban tidak pernah disentuh? Ini baru yang paling mendasar saja, belum lagi menyangkut soal prioritas dan masalah-masalah yang berkaitan dengan prioritas itu sendiri. Jika memang benar isu kesehatan akibat asap itu menjadi prioritas, lantas mengapa asap rokok yang dibesar-besarkan dan menjadi prioritas? Hak asasi perokok kenapa diabaikan? Suka tidak suka sifatnya relatif. Jika saya tidak suka dengan karyawan saya yang menonton sinetron karena sudah merusak bukan hanya fisik tetapi lenih parah lagi, yaitu pemikiran dan menghancurkan masa depan lewat pembodohan dan kebodohan, lantas apakah saya berhak melarang, mendenda, dan memotong gaji mereka yang melakukannya?!

Sungguh menyedihkan sekali Indonesia ini, ya! Mau-maunya terus menjadi bodoh dan dibodohi, terjajah dan dijajah. Asyik saja berusaha keras menjadi bangsa lain dan mengubah identitas kejatian diri. Tertipu dan ditipu oleh gempuran strategi hak asasi manusia tanpa pernah mau belajar dari sejarah maupun melihat diri sendiri yang sesungguhnya. Rokok bukan hal yang baru bagi budaya Indonesia dan bukan hanya sebuah industri bila mau melihatnya dari sudut pandang yang lain. Rokok kretek merupakan salah satu identitas budaya bangsa yang seharusnya diakui dan  bisa dibanggakan. Tidak kalah dengan cerutu Kuba dan cerutu-cerutu dari negeri lain, kok! Mengapa tidak ada yang mau menjadikan itu sebagai identitas bangsa ini?!

Asap rokok memang bisa dianggap berbahaya tetapi banyak yang lebih berbahaya dari asap rokok. Seorang pemimpin yang baik dan benar mampu memimpin tentunya tidak akam meneruskan semua kebodohan, pembodohan, serta penjajahan bentuk baru ini. Tidak akan juga mendukung segala bentuk beserta alasan-alasanya karena mampu memiliki identitas sendiri dan memiliki pandangan jauh ke depan. Tidak juga menjadi tiran dan hegemon yang berlindung di balik kata demokrasi dan keadilan, tetapi benar mampu menjadi adil dan menegakkan keadilan. Prioritas adalah utama, apa sebetulnya harus diprioritaskan dan menjadi tujuan?! Merokok dilarang tapi kalau menghisap cerutu itu lebih bergengsi, ya?! Hebat betul!!!

Semua orang berhak untuk merokok sama besarnya seperti juga berhak untuk mendapatkan hidup sehat. Semua orang berkewajiban untuk saling menghormati dan berlaku adil tanpa kecuali. Tidak ada ekslusifitas ataupun “penyingkiran” yang adil dan tidak ada kemerdekaan bila selalu ada pemaksaan. Segala sesuatunya memiliki banyak sisi yang dapat dilihat dan keseimbangan baru tercapai bila mampu berpikiran objektif dan tidak hanya memprioritaskam sebuah kepentingan, tetapi mencakup semua kepentingan terkait dan menyeluruh. Indonesia adalah surga, Indonesia adalah tempat di mana kemerdekaan itu benar ada, bila Indonesia mampu bangga menjadi Indonesia. Bukan seperti Amerika atau negara lain manapun di muka bumi ini. Berhentilah meniru! Buktikan Indonesia mampu! Merokok adalah hak asasi manusia, kok!!!

Sumber

Penelitian: Asap Kendaraan lebih Bahaya Daripada Rokok

Penelitian: Asap Kendaraan lebih Bahaya Daripada Rokok

Mana lebih berbahaya asap kendaraan bermotor di jalan raya dengan asap sebatang rokok yang dihembuskan dari mulut seorang perokok. Coba dilihat asap-asap kendaraan bermotor dari rata-rata angkutan kota yang cukup tua dikeluarkan oleh knalpot kendaraan tersebut.

Rasa penasaran saya timbul karena saya adalah perokok berat dan penasaran dengan tulisan di kemasan rokok tersebut.
Sehingga saya iseng-iseng untuk duduk di sebuah halte pemberhentian bus di Jatinangor, disekitar wilayah pangkalan da**i unpad Jatinangor. Saya ambil satu buah plastik kemasan gula 1 kg, saya masukkan kepulan asap kendaraan bermotor tersebut ke dalam plastik dan saya ikat, kemudian saya pulang setelah sampai di rumah saya ambil satu buah plastik lagi dan memasukkan asap rokok yang saya hisap untuk pembanding.
Dan saya biarkan kedua asap tadi yang saya kumpulkan, saya biarkan selama lebih kurang 15 menit, kemudian setelah itu saya buka kembali kedua plastik tersebut, alangkah terkejutnya saya. Kenapa ? Asap yang saya kumpulkan setelah saya keluarkan dari plastik dari asap kendaraan tersebut masih lengket di plastik dan warnanya putih kehitam-hitaman sementara asap rokok yang diplastik tadi warnanya biasa saja, menyerupai warna plastik dan bau nya juga tidak separah bau asap kendaraan yang saya kumpulkan di plastik tadi.
Ternyata Asap kendaraan lebih bahaya daripada asap rokok.. Jadi kampanye anti rokok selama ini sangat berlebihan dan bohong besar.

Bahaya Isu Bahaya Rokok

Bahaya Isu Bahaya Rokok

Benar tidak sich bahwa bahaya rokok yang menyebabkan seperti yang ditulis di kemasan rokok atau hanya sebuah propaganda yang dimunculkan. Kebetulan saya berinvestasi di valuta asing dan trading di gold, sterling dan euro. Saya mulai membaca dan menganalisa tentang analisa fundamental ekonomi suatu negara saya bisa berasumsi sedikit tentang faktor ekonomi yang mempengaruhi rokok tersebut.

Kenapa propaganda anti rokok selalu di munculkan oleh Amerika. Ingat bahwa Amerika adalah pengkonsumsi rokok terbesar dan perokok di Amerika rata-rata mengkonsumsi rokok dari produk-produk rokok yang diproduksi di Indonesia dan rata-rata penikmat rokok kretek. Sehingga kalau dibiarkan ini secara terus menerus oleh pemerintah US maka mereka akan ketergantungan oleh Indonesia dan ini akan berakibat bahwa pendapatan masyarakat Amerika akan membantu ekonomi Indonesia karena import rokok dari Indonesia.

Amerika tidak mau dalam hal ini mereka menjadi target pasar eksport Indonesia, sehingga mereka mulailah mengkampanyekan gerakan anti rokok yang membuat statement seperti dalam kemasan rokok tersebut, dan satu lagi pernah teman saya dari Amerika pulang ke Indonesia dengan membawa sebungkus rokok yang rokok tersebut diproduksi dari Indonesia dan saya melihat dalam kemasan tersebut alangkah terkejutnya saya melihat kemasannya berisikan gambar orang yang terkena kanker parah digambarkan dalam kemasan rokok tersebut.

Dalam mengemas kemasan rokok kretek rata-rata dikerjakan oleh industri UKM dan pelintingan rokoknya masih menggunakan cara tradisional belum menggunakan mesin untuk melintingnya, dengan propaganda anti rokok yang membuat orang-orang jadi takut bahaya rokok sehingga menurunnya volume eksport Indonesia untuk rokok. Tidak untuk eksport saja untuk pasar lokal juga menurun karena pemerintah juga mempropaganda masyarakat mengikuti kampanye yang dilakukan oleh Amerika tadi. Sementara industri rokok dalam negeri menjadi penyumbang pajak terbesar untuk negeri ini. Dan tidak berpihaknya pemerintah terhadap pengusaha-pengusaha UKM rokok ini dengan menaikkan upah buruh sehingga terpedaya lah pengusaha lokal rokok kretek saat ini.

Sumber

Berbahagialah dengan Rokok

Berbahagialah dengan Rokok

Hi Sobat Bloggers… Untuk mengisi liburan saya yang jenuh di pagi hari dan aktif di malam hari <:-P. Saya kali ini akan mencoba membagi beberapa keuntungan dalam merokok. Biasanya orang selalu berpandangan negatif bila melihat seseorang merokok, terutama dalam segi kesehatannya tapi, Tahukah Kamu kalau ada SISI POSITIF DARI MEROKOK??

MANFAAT DAN KEUNTUNGAN DARI MEROKOK :

  1. Perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif, maka untuk mengurangi resiko tersebut aktiflah merokok
  2. Menghindarkan dari perbuatan jahat karena tidak pernah ditemui orang yang membunuh, mencuri dan berkelahi sambil merokok.
  3. Mengurangi resiko kematian: Dalam berita tidak pernah ditemui orang yang meninggal dalam posisi merokok.
  4. Berbuat amal kebaikan: Kalau ada orang yang mau pinjam korek api paling tidak sudah siap/tidak mengecewakan orang yang ingin meminjam.
  5. Baik untuk basa-basi/keakraban: Kalau ketemu orang misalnya di Halte  kita bisa tawarkan rokok.Kalau basa-basinya tawarkan uang kan gak lucu.
  6. Memberikan lapangan kerja bagi buruh rokok, dokter, pedagang asongan.
  7. Bisa dipake alasan untuk tambah gaji karena ada post untuk rokok dan resiko baju berlubang kena api rokok.
  8. Bisa menambah suasana pedesaan/nature bagi ruangan ber AC dengan asapnya sehingga seolah berkabut.
  9. Menghilangkan bau wewangian ruang bagi yang alergi bau parfum.
  10. Kalau kendaraan mogok karena busi ngadat tak ada api, maka sudah siap api.
  11. Membantu program KB dan mengurangi penyelewengan karena konon katanya merokok dapat menyebabkan impoten.
  12. Melatih kesabaran dan menambah semangat pantang menyerah karena bagi pemula merokok itu tidak mudah, batuk dan tersedak tapi tetap diteruskan (bagi yang lulus).
  13. Untuk indikator kesehatan: Biasanya orang yang sakit pasti dilarang dulu merokok, jadi yang merokok itu pasti orang sehat.
  14. Menambah kenikmatan: Sore hari minum kopi dan makan pisang goreng sungguh nikmat. Apalagi ditambah rokok!
  15. Tanda kalau sudah pagi, kita pasti mendengar ayam merokok.
  16. Film Koboi pasti lebih gaya naikkuda sambil merokok , soalnya kalau sambil ngupil susah betul..
  17. Film lebih cool soalnya kalo meledakan mobil atau pom bensin butuh rokok yang disentil ke bensin yang tercecer,
  18. Bahan inspirasi dan pendukung membuat Tugas Akhir, sehingga seharusnya dicantumkan ucapan terima kasih untuk rokok pada kata sambutan.
  19. Bagi para pria yang mau dikejar-kejar wanita cantik.. coba aja kalau ada gadis cantik lewat sundut tuh pantatnya dengan rokok.. pasti dia ngejar-ngejar terus.. coba aja..
  20. Membuat awet muda, karena konon orang yang merokok berat belum sampai tua udah mati duluan kena kanker paru-paru.
  21. Fakta lain …sekitar 30% orang meninggal di dunia adalah perokok. 70%-nya bukan perokok..!! Maka merokoklah agar masuk ke golongan yg lebih sedikit itu.
  22. Sumber..

Para Perokok Ini Tetap Sehat dan Bugar Sampai Tua

Para Perokok Ini Tetap Sehat dan Bugar Sampai Tua

Asap rokok tidak sehat bagi kesehatan semua orang. Kenyataan itulah yang diyakini sebagian besar orang. Memang telah banyak fakta-fakta yang menyatakan bahwa merokok itu tidak sehat. Bahkan untuk para perokok pasif pun efeknya lebih buruk.

Rokok mengandung sekian ribu zat yang mematikan. Sehingga rokokdianggap berbahaya, karena itu penjualannya juga harus lebih terbatas, harus berusia minimal 18 tahun dan seterusnya.

Kampanye anti rokok pun terus dilakukan. Bahkan peringatan yang ada di bungkus rokok pun dirasa belum cukup. Hari ini, Selasa, 24 Juni 2014 bungkus peraturan baru diberlakukan, bungkus rokok, selain peringatan bahwa rokok bisa menyebabkan kanker dan lainnya, mulai sekarang ditambahkan gambar-gambar menyeramkan akibat yang ditimbulkan karena merokok.

Namun di tempat lain, bahaya rokok itu tak pernah menjangkau orang-orang yang kebetulan tinggal di daerah-daerah jauh dari ibu kota ini. Rupanya mereka mempunyai konsep sehat sendiri.

Sigit Budhi Setiawan dan Marlufti Yoandinas memaparkan fakta-fakta bahwa merokok itu tidak menyebabkan penyakit seperti yang diinformasikan selama ini.

Melalui buku “Mereka yang Melampaui Waktu, Sigit Budi yang sebagian besar hidupnya dilalui di kota tembaku Jember itu menjumpai orang-orang yang tetap bugar meskipun mereka merokok dari usia muda sampai sekarang mendekati senja.

Di dalam buku setebal 194 halaman ini, kedua penulis ini mengisahkan sosok-sosok renta namun mereka tidak pernah sakit serius, apalagi sakit serius. Beberapa contohnya misalnya:

–    Atmo Diharjo yang kini sudah berusia 92 tahun. Kakek yang tinggal sendiri ini tetap bisa menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai petani di daerah Gunung kidul Yogyakarta. Atmo Diharjo merokok sejak usia muda

–    Ni Wayan Kentel, perempuan Bali ini saat ini telah berusia 79 tahun. Kesibukan hariannya adalah berkeliling kampong menjajakan dagangannya. Perempuan ini mengaku telah merokok sejak usia 15 tahun dan sampai sekarang masih sehat.

Ada duapuluhan cerita tentang orang-orang yang mempunyai kebiasaan merokok sejak muda namun tetap sehat dan tak pernah sakit sampai usia senja. Bagaimana para dokter melihat fakta-fakta ini?

Sumber.. 

Antara Rokok dan Curankor

Antara Rokok dan Curankor

Pendahuluan

Curanrek ataupun curankor, saya kira sama saja akronim tersebut. Terserah anda lebih akrab dengan akronim yang mana. Keduanya mempunyai arti yang sama, pencurian korek.

Akronim tersebut diambil dari fenomena kriminalitas yang marak terjadi di masyarakat dan tak pernah berhenti menjadi sajian di berbagai media massa, khususnya dalam rubrik kriminalitas. Fenomena tersebut adalah pencurian kendaraan bermotor, yang mungkin karena begitu maraknya, entah oleh media atau oleh penegak hukum, disebut curanmor.

Hal tersebut kemudian berlaku dikalangan para perokok. Cerita “kriminalitas” pencurian korek sangat akrab, menjadi cerita yang tak pernah usai di kalangan para perokok, hingga akhirnya para perokok menyebut si pencuri korek dengan sebutan curanrek atau curankor.

Secara hakikat tindakan tersebut adalah kejahatan, namun curanrek/curankor tak pernah mendapatkan hukuman layaknya curanmor. Tidak pernah ada sebuah cerita seorang pelaku curanrek/curankor dihakimi massa hingga babak belur, dibakar hidup-hidup, atau dilaporkan ke aparat kepolisian. Harganya yang tak seberapa, mungkin itu sebabnya. Namun uniknya, seakan ada “etika” di kalangan para pencuri korek, mereka hanya mencuri korek api  jenis tertentu saja: korek gas, bukan korek kayu, dan bukan juga korek gas jenis bagus dan mahal.

“Etika” lain dari kejahatan tersebut adalah: tidak mencuri korek milik orang yang tidak dikenal. Biasanya korban dari kejahatan pencurian korek adalah teman sendiri.

Pengguna Korek
Jika kita telisik lebih dalam para pengguna korek sehari-hari, mayoritas adalah para perokok. Saya tidak tahu siapa lagi selain perokok yang menggunakan korek api, baik gas ataupun kayu. Rokok dan korek itu layaknya Romeo dan Juliet yang tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Di antara mereka tidak dapat berdiri sendiri, keduanya harus menjadi satu kesatuan yang utuh jika sebuah tujuan (merokok) ingin dicapai.

Tanpa kombinasi keduanya, maka tujuan tersebut seperti sebuah rencana yang hanya matang tertulis diatas kertas tanpa ada implementasi yang konkret dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Mungkin bisa saja minta bara api kepada orang lain, atau pinjam korek api orang lain. Nah, cara kedua tersebut justru jadi modus paling banyak dalam fenomena pencurian korek. Berawal dari proses pinjam korek api kemudian korek masuk ke kantong peminjam. Tindakan tersebut kadang dilakukan tanpa ada perasaan berdosa telah mengambil hak milik orang lain. Bahkan kadang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, kebanggaan untuk diceritakan pada orang lain, bahwa sejumlah korek telah berhasil dicuri.

Namun tak sedikit orang juga yang melakukan tindakan tersebut tanpa disadari atau tanpa ada unsur kesengajaan. Mungkin dalam KUHP, hal itu biasa disebut dengan “kelalaian seseorang yang mengakibatkan orang lain menjadi korban.” Dan biasanya, jika pelaku tanpa disengaja melakukan pencurian korek, maka dia akan bertanya-tanya korek siapa yang dia ambil. Bahkan juga memberitahukan kepada si korban bahwa korek miliknya telah dia ambil. Mungkin inilah satu-satunya perlilaku kejahatan yang “santun”.

Menular
Nah, tanpa disadari, perilaku pencurian korek tersebut seperti menular, atau seperti rantai makanan dalam siklus kehidupan. Seorang korban pencurian korek biasanya akan kebingungan jika mengetahui koreknya telah hilang dicuri orang. Karena korek telah menjadi kebutuhan bagi para perokok, maka kemudian si korban ganti mencuri korek milik orang lain agar memudahkan dia untuk dapat melakukan aktifitas merokok. Sehingga awalnya orang tersebut adalah korban, kemudian menjadi pelaku kejahatan pencurian korek.

Bisa saja si korban tidak melakukan tindakan ganti mencuri korek, tapi memilih untuk membeli korek. Namun biasanya, membeli korek akibat kehilangan korek tersebut, disertai dengan umpatan atau caciaan, “Bangsat… Korek gw diambil sama dia!”

Sangat jarang sekali seorang perokok yang mempunyai korek api membeli lagi korek api karena gas dalam korek tersebut telah habis. Umumnya alasan pembelian lebih karena faktor kehilangan korek api.

Penutup

Coretan tentang fenomena curanrek/curankor ini didasari dari sebuah pengamatan sosial yang benar-benar terjadi di masyarakat umum, khususnya di kalangan perokok. Sangat tidak mungkin orang-orang yang tidak merokok atau para pegiat anti rokok mempunyai cerita seperti ini.

Coretan ini juga didasari dari penulis yang kerap kali menjadi korban dari tindak kejahatan pencurian korek, ataupun bahkan juga acap kali menjadi seorang pelaku kejahatan pencurian korek. Baik disadari ataupun tidak disadari.

Sumber

Rokok Itu Politik

Rokok Itu Politik

Saya lupa siapa orangnya, yang dengan bagus, membuat suatu pernyataan ”subversif”: merokok atau tidak, ”let my body decides”, di dalam suatu seminar mengenai keretek sehat, ”divine” keretek, yang diramu berdasarkan temuan cemerlang Dr Gretha Zahar, hasil suatu ”pengajian” dan ”pengujian” ilmiah berpuluh-puluh tahun, yang kemudian diperkenalkan ke seluruh dunia oleh Prof Dr Sutiman Bambang Sumitro, sebagai keretek bebas nikotin dengan ”teknologi nano” yang sudah mendunia, sehingga nama kedua tokoh penting itu kini menjulang tinggi sedemikian rupa seperti hendak menyaingi bintang-bintang di langit.

Apa makna strategis temuan ilmiah ini bagi dunia pertanian tembakau, kehidupan ekonomi kaum tani, dan bisnis keretek, yang demikian menggiurkan kaum kapitalis Barat, maupun bagi kesehatan masyarakat? Dalam sejarah umat manusia, belum ada suatu sikap antitembakau, antikeretek, yang dijadikan kampanye global, besar-besaran, dengan dana luar biasa besar, melebihi apa yang terjadi di dalam kurang lebih tiga dekade terakhir.

Kita dicekoki gagasan mengenai bahaya rokok, dan perjuangan kemanusiaan yang tanpa tandingan: menjaga kesehatan masyarakat? Ide menjaga kesehatan masyarakat tidak akan begitu manjur kalau tidak disuarakan oleh WHO. Maka, apa sulitnya mengajak WHO untuk melakukan kampanye antikeretek? Kapital, didukung strategi komunikasi, lobi-lobi dan kemampuan politik meyakinkan seluruh dunia, dengan mudah meraih target sasaran yang diinginkan.

Kampanye global antirokok, antikeretek menjadi serangan telak dan dipercaya orang, sedang ”khotbah” mengenai usaha menjaga kesehatan masyarakat, disambut seperti kita menyambut dewa penyelamat kehidupan yang sudah lama kita nantikan. ”Tapi sabar dulu. Benarkah gerakan kampanye global antikeretek ini sesuatu yang layak kita dengarkan?” ”Tentu saja layak. Kenapa tidak?”

”Oh, kalau begitu benar, bahwa ini tanda strategi mereka mengena. Strategi mereka sukses besar. Tapi tahukah Saudara, siapa yang berdiri di balik gerakan global antikeretek ini” ”Itu saya tidak tahu.” ”Jangan heran, dua kekuatan bisnis raksasa dunia: industri rokok dan farmasi.” Informasi ini sudah tersebar luas di dalam terbitan- terbitan yang mudah diakses publik pembaca. Ini bukan rahasia lagi.

”Mengapa harus heran? Mereka memang sangat peduli, penuh perhatian, dan siap menjaga kesehatan dunia. Sudah pada tempatnya kedua kekuatan bisnis itu yang tampil” ”Anda percaya mereka hendak menyelamatkan dunia? Mereka turunan, atau titisan Dewa Wisnu, yang tugasnya memang menjaga keselamatan dunia?” ”Aku tak percaya Dewa Wisnu. Apa dewa itu memang ada, dan mampu membikin dunia ni selamat?”

”Kalau begitu Saudara benar. Apakah Saudara percaya dua kekuatan bisnis raksasa dunia, tanpa mandat dari siapa pun, mau, secara tulus, dan sukarela, mengeluarkan dana luar biasa besar untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat dunia? ”Itu saya tidak tahu, tapi setahu saya itu bukan urusan saya.” ”Saudara harus menjadikannya urusan Saudara” ”Mengapa harus? Dan siapa yang mengharuskan?”

”Yang mengharuskan ialah kehendak Saudara sendiri untuk memperoleh kebenaran, dan untuk meyakinkan bahwa Saudara tidak tertipu” ”Tertipu? Oleh apa? Kau jangan mengada-ada” ”Saudara yakin ada dunia bisnis rela mati-matian membuang dana super besar tanpa berharap akan keuntungan di kemudian hari?” ”Yakin atau tidak bisa ditunda. Tapi memang bukan sifat dunia bisnis untuk berbuat amal seperti itu” ”Saudara benar.

Jadi Saudara mau mengerti bahwa di balik gerakan kampanye global antirokok itu ada motif bisnis untuk meraih untung berkali-kali lipat dari dana luar biasa besar yang sudah dikeluarkan?’ ”Kenapa kau tak bilang begitu dari tadi?

Kalau ini, jelas bagi saya. Jelas bahwa saya paham sepaham-pahamnya. Jadi terkutuklah mereka yang berteriak antirokok, antikeretek, dan menyelamatkan kesehatan, padahal sebenarnya mereka sedang mengecoh dan membuat kacau seluruh dunia?

Mereka penipu besar. Terkutuklah para penipu. Terkutuklah dewa penghancur kehidupan.” Kalau temuan besar dua tokoh dalam bidang ilmu pengetahuan di atas tak diganggu oleh kepentingan bisnis global yang penuh tipu muslihat itu, jelas bahwa tembakau kita selamat, kehidupan petani tembakau selamat, dan perekonomian mereka terjamin untuk bisa membuat hidup mereka senang.

Selain itu, dunia bisnis keretek kita, yang besar itu, juga ademayem tanpa terusik. Jangan dilupakan pula bahwa ”home industries” di bidang keretek, yang kecil-kecil, sekadar untuk hidup, tak dibunuh terus-menerus oleh aturan-aturan cukai yang mematikan. Aturan cukai itu juga wujud kekejaman bagi dunia usaha rakyat, bangsa kita sendiri. Mereka telah dianiaya pemerintah kita sendiri karena pengaruh Dasamuka negeri asing yang serakah.

Pengaruh temuan ilmiah tersebut pada dunia kesehatan? Kalau keretek yang diproduksi di kemudian hari sudah bebas nikotin, yang berbahaya tadi, apa tak berarti bahwa merokok tak menimbulkan efek buruk bagi kesehatan? Nyamanlah kita.

Bahkan kalau hasil temuan ilmiah itu dilibatkan dalam produksi keretek nasional kita, merokok justru menyehatkan. Kampanye global antikeretek, demi kesehatan masyarakat, menjadi perkara yang harus kita simak secara cermat, hatihati, dan saksama, agar kita tak tertipu.

Di tahun 1960-an, kopra kita dikriminalisasi di Amerika Serikat, dituduh menimbulkan beban kolesterol dan kegemukan. Tapi kopra kita diolah dan diproduksi di sana, dengan keuntungan lebih besar.

Sekarang ini produksi sawit kita juga diperlakukan begitu. Mereka culas, penipu besar, raksasa berkedok dewa penyelamat. Peduli apa bangsa kita dengan mereka? Bagi kita sekarang, bukan seperti pikiran ”subversif” yang bagus tadi: merokok atau tidak, ”let my body decides”.

Bukan itu lagi. Itu bagus dalam suatu konteks politik kebudayaan lain. Sekarang, dalam konteks ketika kita paham sepaham-pahamnya bahwa kampanye global antikeretek, hanyalah omong kosong belaka, karena intinya kepentingan bisnis untuk menguasai keretek nasional kita. Dengan demikian, jawaban kita sekarang lain, lebih tepat, lebih kontekstual, lebih bagus: merokok itu pilihan politik.

Saya bukan perokok. Tapi memasuki usia 58 tahun, saya merokok untuk dua hal: menghormati hasil temuan ilmiah Dr Gretha Zahar dan kegigihan Prof Dr Sutiman di laboratorium biologinya di Universitas Brawijaya Malang. Bagi saya, merokok sebagai pilihan politik juga berarti sikap melawan keserakahan yang tak bisa dibiarkan begitu saja dari pihak asing yang mengancam harkat ekonomi bangsa kita.

Jadi jelas: merokok itu pilihan politik. Merokok itu perlawanan terhadap penjajah ekonomi bangsa kita. Merokok itu, apa namanya bila bukan tanda semangat nasionalisme yang paling nyata?

Oleh MOHAMAD SOBARY
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com | dimuat di http://komunitaskretek.or.id/?p=2871 dengan judul Merokok Itu Pilihan Politik.

Sumber.. 

Kerajinan Kotak Rokok Bojonegoro Semakin Diminati

Bojonegoro – Kotak tempat rokok dengan bahan kayu jati produksi perajin di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro semakin diminati konsumen luar daerah lantaran pengaruh gambar seram atau horor di bungkus rokok sejak sebulan terakhir.

Kotak Rokok
Kotak rokok berbahan kayu makin laris, setelah pencantuman gambar peringatan di bungkus rokok.

Seorang pedagang kotak rokok di Bojonegoro Mustaqim, Sabtu, mengatakan, mampu menjual 400 kotak tempat rokok kayu jati produksi Desa Batokan, ke Surabaya, dalam sepekan.

“Setelah di kotak rokok ada gambar horornya saya berjualan kotak tempat rokok kayu jati ke Pusat Kerajinan di Surabaya, sebab banyak peminatnya dibandingkan dengan pembeli lokal,” jelasnya.

Ia memperkirakan konsumen lokal tidak terlalu berminat membeli kotak tempat rokok dengan bahan kayu jati, karena sudah bosan, selain pasar lokal sudah jenuh.

“Konsumen lokal tidak terlalu tertarik membeli tempat rokok kotak kayu jati, sebab dianggap biasa. Tapi konsumen luar daerah seperti Surabaya sangat tertarik dengan kotak rokok bahan kayu jati,” jelasnya.

Namun, katanya, konsumen lokal justru tertarik membeli tempat rokok yang bukan bahan kayu jati, sejak produksi rokok diberi gambar horor.

Lebih lanjut ia menjelaskan di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, yang menjadi pusat kerajinan kayu jati di daerahnya, terdapat tiga perajin yang khusus membuat kotak tempat rokok dengan bahan kayu jati.

Pemesan kotak tempat rokok di tiga perajin itu, menurut dia, selain dirinya, juga sejumlah pedagang lainnya yang menjual kotak rokok kayu jati dengan cara keliling.

“Saya bisa menjual ke konsumen lokal sekitar 10 kotak/hari, tetapi sebagian besar kotak produksi pabrik bukan kotak tempat rokok dengan bahan kayu jati,” paparnya.

Ia mengaku menjual tempat rokok kayu produksi Desa Batokan ke Surabaya, dengan harga Rp20.000/kotak, sedangkan tempat rokok produksi pabrik berkisar Rp30.000-Rp35.000/kotak.

“Perajin di Batokan memproduksi kotak tempat rokok kayu jati dengan jumlah banyak berdasarkan pesanan pembeli seperti saya, juga pedagang yang lainnya,” jelasnya.

Seorang warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro Bono mengatakan gambar horor di tempat rokok tersebut cukup efektif untuk menakut-nakuti perokok.

“Jangankan perokok saya yang tidak merokok saja melihat gambar yang ada di rokok ngeri,” ujarnya.

Sumber.