Rokok Adalah Sumber Utama Omset Pedagang UKM

Rokok Adalah Sumber Utama Omset Pedagang UKM

Rokok, dengan segala pro-kontranya ternyata memang menjadi produk yang sangat penting bagi industri dalam negeri, utamanya industri kerakyatan.

 rokok

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto secara tegas mengakui bahwa industri pengolahan hasil tembakau mempunyai peranan penting dalam peningkatan ekonomi negara. Bahkan, sesuai Perpres No. 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, industri hasil tembakau termasuk salah satu sektor yang dikembangkan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dalam hal penyerapan tenaga kerja.

bungkus rokok

Airlangga juga mengatakan bahwa rokok merupakan salah satu sumber utama pemasukan omset pedagang UKM

“Kita sadari bersama bahwa rokok merupakan sumber utama omzet para pedagang UKM,” ujar Airlangga.

Pada tahun 2017, penerimaan cukai dari sektor industri hasil tembakau mencapai Rp 147,7 triliun, meningkat 7,1% dibanding tahun 2016 sebesar Rp 137,9 triliun. Selanjutnya, pada tahun 2016, nilai ekspor rokok menembus US$ 784 juta, meningkat menjadi US$ 866 juta di 2017. Artinya sektor Industri rokok ini mampu bersaing dan menyumbang Negara tiap tahunnya dalam jumlah yang besar.

rokok

“Sektor ini juga telah mempekerjakan sebanyak 7 juta petani. Industri yang dimulai dari rokok kretek ini telah berabad-abad umurnya. Sektor ini asli berkembang dari bumi pertiwi Indonesia” tandas Airlangga ketika dimintai pendapat soal Industri kretek.

Advertisements

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Perkenalan Orang Jawa dengan Tembakau

Tembakau bukanlah tanaman asli dari Indonesia. Hal ini diyakini betul oleh sinology Prof. G. Schlegel. Keyakinan tersebut berdasarkan kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia yang mana ia menemukan bahwa kata tembakau merujuk pada perkataan orang Portugis yakni Tabaco atau tumbaco. 

petani tembakau

Pernyataan tersebut sukar dinalar, apa lagi jika kita melihat tahun berapakah tembakau diperkenalkan atau masuk pada masyarakat Jawa. Secara mudahnya, untuk menelusuri sejarah akan hal ini bisa dimulai dengan mengumpulkan data dari orang-orang lanjut usia di Jawa. Dimulai dari mengumpulkan cerita-cerita, orang-orang tersebut, atau bisa kita sebut sebagai sejarah lisan. Hal ini yang coba dilakukan oleh Rumphius dalam bukunya soal rempah-rempah di Indonesia.

Ia menemukan bahwa sekitar tahun 1496 di tanah Jawa telah diketemukan tembakau. Tahun ini adalah tahun sebelum adanya orang-orang Portugis. Saat itu tembakau sudah digunakan oleh masyarakat Jawa untuk penyembuhan. Belum digunakan sebagai rokok.

Artinya ada kemungkinan bahwa orang-orang Portugis hanya memperkenalkan tembakau sebagai rokok pada masyarakat Jawa.  Namun ada juga pendapat lain, bahwa yang memperkenalkan tembakau sebagai rokok adalah bangsa Belanda. Hal ini berdasarkan keterangan dari karya Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang berjudul The History of Java jilid I. Menurut buku tersebut, tembakau diperkenalkan sebagai rokok dalam adat Jawa sejak tahun 1601.

petani tembakau

Pendapat dari hasil karya Thomas Stamford Raffles ini jika kita telusuri lagi pada buku-buku rujukan hasil karya peneliti Belanda, maka akan didapatkan data bahwa tembakau dan pemakaiannya sebagai rokok telah ada di Jawa pada awal abad ke XVII atau pada tahun 1600-an. Hal ini sesuai dengan naskah Jawa Babad Ing Sangkala yang menyebutkan tembakau telah dimasukkan ke Pulau Jawa bersamaan dengan meninggalnya Panembahan Senapati, ayah Sultan Agung Banten. Ada syair terkenal dari peristiwa ini yaitu:

“Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngudud.”

Artinya: “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok.”

tembakau

Dari catatan Babad Ing Sangkala ini kita bisa mengetahui pada tahun 1600-an masyarakat Jawa telah mengenal tembakau untuk diperuntukkan sebagai rokok. Sayangnya dalam naskah tersebut, tidak tercantum secara jelas tentang siapa yang pertama kali memasukkan tembakau ke Pulau Jawa.

Tahun Ini, Bea Cukai Pasuruan Bisa Raih Penerimaan Hingga 40 Triliun

Tahun Ini, Bea Cukai Pasuruan Bisa Raih Penerimaan Hingga 40 Triliun

Pasuruan menjadi salah satu daerah yang sukses memenuhi target penerimaan bea cukai.

Penerimaan paling besar kami dari pita cukai rokok dan tembakau. Tahun ini ditargetkan bisa meraup 39 triliun. Kami sangat yakin bisa memenuhinya dan jika melihat perkembangan saat ini bisa mencapai 40 triliun,” ujar Kepala KPPBC TMP A Pasuruan, Sugeng Harianto.

cukai rokok

Kesuksesan ini tak lepas dari sumbangsih industri rokok yang ada di Pasuruan.

Dirjen Bea dan Cukai Republik Indonesia memasang target untuk Bea Cukai Tipe A Pasuruan dalam memberikan pemasukan untuk penerimaan negara sebesar 39 triliun pada 2018 ini. Dengan jumlah target yang dibebankan itu Bea Cukai Pasuruan yakin mampu memenuhinya, bahkan bisa tembus hingga 40 triliun.

Cara-cara menempuh target tersebut adalah dengan mendata jumlah perusahaan rokok di Pasuruan. Di Pasuruan ada sekitar 120-an perusahaan, yang terdiri dari pabrik rokok dan industri kecil.

rokok

Dari sekitar 120 perusahaan itu, sekitar 60 perusahaan adalah pabrik rokok, mulai dari PT HM Sampoerna, PT Gudang Garam dan lainnya yang berproduksi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Sedangkan sekitar 60 perusahaan lain yang berada di kawasan industri, seperti di PT PIER, di Wonokoyo Gempol dan di Kecamatan Pandaan.

rokok

Menjalin tali silaturahmi dengan mereka adalah kunci penting untuk bisa mencapai target penerimaan negara. Hal ini penting untuk dilakukan. Penerimaan cukai tipe A Pasuruan memang banyak tersumbang dari hasil cukai pita rokok dan tembakau. Jika ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin target penerimaan Negara tercapai, bahkan terlampaui.

Universitas Jember Melawan Stigma Negatif Tembakau dengan Penelitian

Universitas Jember Melawan Stigma Negatif Tembakau dengan Penelitian

Selama ini, banyak orang yang menganggap tembakau sebagai tanaman yang buruk. Angapan ini muncul karena tembakau merupakan bahan baku utama rokok, produk yang oleh banyak orang dianggap sebagai produk yang buruk.

rokok

Nah, bila tembakau selalu diidentikkan dengan berbagai hal negatif, maka Universitas Jember justru menunjukkan sebaliknya.

Berbagai penelitian yang melibatkan sejumlah mahasiswa dan peneliti di universitas berlambang daun tembakau ini justru menemukan kemanfaatan lain tembakau. Beberapa di antara manfaat tembakau ini mulai dari obat luka bagi penderita diabetes, soft candy sebagai pengganti rokok, bahan penghilang jamur pada perabot kayu, asap cair organik, bahan parfum, hingga potensi tembakau sebagai obat HIV/AIDS.

tembakau

Temuan itu dikemukakan oleh Kelompok Riset AgriEcom yang fokus untuk melakukan penelitian dan pengembangan di bidang ilmu ekonomi pertanian dan agribisnis.

“Untuk pertama kalinya sengaja kami memilih tembakau sebagai tujuan utama, mengingat keberadaan tembakau saat ini menjadi kontroversi, kata Prof. Rudi Wibowo, Ketua Kelompok Riset AgriEcon, saat peluncuran buku Agribisnis Tembakau pada 30/4/2018.

tembakau

Sebagai informasi, Jember sendiri memang salah satu daerah yang banyak menghasilkan tembakau. Bahkan tembakau dari Jember merupakan salah satu tembakau terbaik di Indonesia.

Cengkeh dalam Ramuan Sang Peraji

Cengkeh dalam Ramuan Sang Peraji

Seorang peraji (dukun bayi) keberadaan sangat penting dalam prosesi kelahiran manusia, terlebih di era dahulu, sebelum teknologi medis berkembang dan tersebar sampai pelosok.

Peraji biasanya mewarisi pengetahuan dari orang tuanya. Itu pula yang diceritakan oleh Sumarni Abdullah, dikutip dari buku “Ekspedisi Cengkeh”, yang mewarisi pengetahuan seputar dunia peraji dari ibunya, Cindar Do Sai. Mulanya ibunya mendampinginya melakukan pekerjaan sampai kemudian dianggap bisa.

Perannya seorang peraji tidak hanya dilakukan ketika proses kelahiran, tapi mencakup masa persiapan dan pasca kelahiran.

Di masa ibu mengandung, seorang peraji sudah berperan terutama dalam memastikan posisi bayi telah sesuai. Dengan menggunakan minyak yang terbuat dari beberapa butir cengkeh dan minyak kelapa itu dia akan mengurut ibu yang sedang hamil, mengurut perutnya. Mengurut itu dilakukan untuk mengetahui posisi bayi telah tepat sehingga proses kelahiran bisa dilaksanakan.

cengkeh

Dalam prosesi kelahiran, begitu jabang bayi lahir, Sumarni akan membalurkan cengkeh dan pala yang telah ditumbuk sampai halus kemudian diletakkan di ubun-ubun jabang bayi. Ramuan ini bermanfaat agar batok kepala si bayi lekas mengeras. Dalam proses pasca kelahiran tersebut pula, ia akan membakar batok kelapa dan baranya diusapkan ke tubuh bayi sehingga tubuh bayi tetap hangat.

cengkeh

Tidak hanya jabang bayi yang dirawat pasca kelahiran, tetapi juga ibunya. Di bagian ini, ia menggunakan daun cengkeh untuk melakukan tugasnya. Beberapa daun cengkeh diletakkan di belangga berisi air. Lalu belangga dipanaskan di atas tungku sampai mendidih. Ramuan tersebut kemudian dibiarkan sampai suhunya turun. Setelah suhu turun, ibu yang baru melahirkan diminta duduk di kursi yang didesain khusus untuk mengalirkan uap air cengkeh ke atas. Proses ini untuk mengeluarkan keringat ibu sehingga tubuhnya lekas pulih pasca melahirkan.

Perawatan selanjutnya, dilakukan setiap dua hari sekali, sampai dua minggu setelah proses kelahiran. Di sini peran seorang peraji juga membantu ibu yang baru memiliki anak cara merawat bayi, dari memandikan sampai menyusui dan lain sebagainya. Bila keduanya sehat, maka pekerjaan seorang peraji berakhir. Proses itu membutuhkan waktu minimal 44 hari.

cengkeh

Seluruh proses ini sekaligus menegaskan betapa besar manfaat cengkeh bagi kesehatan terutama dalam proses kelahiran.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Pengalaman dari Indonesia Timur: Perkebunan Cengkeh Membuat Masyarakat Mempertahankan Tanahnya dari Serbuan Industri Ekstraktif

Pengalaman dari Indonesia Timur: Perkebunan Cengkeh Membuat Masyarakat Mempertahankan Tanahnya dari Serbuan Industri Ekstraktif

Beberapa tahun silam, tepatnya akhir 2013, saya melakukan perjalanan ke Indonesia Timur. Kedatangan saya ke timur bertepatan dengan masa panen raya cengkeh yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara meriah. Berbagai tingkatan umur turut merasakan kemeriahan musim panen cengkeh saat itu. Terlebih harga cengkeh sedang sangat bagus ketika itu, per kilogram cengkeh kering tembus angka Rp140 ribu.

cengkeh

Tak ayal, di berbagai pelosok orang dengan riang memanjat pohon cengkeh dengan tali dan tangga-tangga tinggi untuk menjangkau letak cengkeh yang sulit terjangkau. Sedangkan di bawah, anak-anak berebut reruntuhan cengkeh yang jatuh. Dalam sehari anak-anak itu bisa mengumpulkan lebih dari 6 kaleng (istilah untuk menyebut kaleng susu bekas yang kemudian menjadi satuan ukuran).

cengkeh

Sistem sosial di sana memang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk terlibat dalam panen cengkeh. Aturan yang sama juga diberikan kepada janda dan orang yang tidak memiliki kebun cengkeh. Kepada mereka, diberikan kesempatan untuk ikut merasakan kebahagiaan para pemilik pohon cengkeh.

pohon cengkeh

Dalam perjalanan tersebut, yang saya lakukan di Maluku Utara, saya ditemani oleh seorang kawan yang baru saya kenal di Ternate. Kawan yang bernama Risman Buamona inilah yang akhirnya menemani saya berkunjung ke sejumlah daerah di Maluku Utara, dari yang paling bawah di pulau Bacan hingga menuju daerah di bagian utara, di pulau Morotai.

Perjalanan itu tidak hanya membuat saya melihat kemeriahan masyarakat yang sedang panen cengkeh. Kawan saya ini justru membawa saya lebih jauh, karena dia juga membawa saya ke sejumlah daerah di wilayah Maluku Utara yang menjadi daerah pertambangan.

Di daerah-daerah yang menjadi pertambangan tersebut, kata kawan saya itu, dulunya merupakan sentra industri minyak kelapa. Orang-orang di daerah tersebut biasanya tidak memiliki pohon cengkeh, kalaupun punya, itupun tidak tahan saat puasa panjang, karenanya ketika pemerintah berusaha mengontrol harga cengkeh dengan melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) yang membuat harga cengkeh anjlok, masyarakat di sana marah besar.

petani cengkeh

Sedangkan di daerah-daerah yang menjadi sentra perkebunan cengkeh, masyarakat tetap bertahan dengan usaha di sektor agraris, di mana masyarakat mendapatkan hasil bumi dengan terlebih dahulu mengolah tanah. Para petani cengkeh ini mendapatkan lagi gairah di era Presiden Abdurrahman Wahid yang menghapus aturan kontrol dari pemerintah terhadap cengkeh sehingga harga cengkeh melonjak tinggi, dan kesejahteraan petani cengkeh kembali terangkat.

Di daerah-daerah yang terlanjur diberikan kepada industri pertambangan bukan hanya struktur tanahnya saja yang rusak. Tetapi, konsep hidup masyarakatnya pun berubah.

petani cengkeh

Setelah menjual tanahnya, para petani itu akhirnya bekerja di pertambangan. Tetapi dengan bekerja di pertambangan mereka tidak bisa lagi berpikir jangka panjang sebagaimana kebiasaan masyarakat agraris. Mereka menjadi pragmatis, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan untuk menyesal sudah terlambat, karena mereka telah melepaskan tanah yang sudah tidak pernah terjangkau lagi.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto